Transformasi Tempat Kerja Pengaruhi Pasar Sewa Perkantoran

Pandemi Covid-19 telah mengubah cara pola hidup, bekerja, dan berbelanja. Hal ini membuat pemilik properti harus melakukan perubahan dalam peyediaan ruang perkantoran . Pasalnya, pola bekerja di ruang perkantoraan sudah mulai berkurang seiring penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Head of Office Services of Colliers International Indonesia , Bagus Adikusumo menyebutkan, berbicara tentang norma-norma baru tempat kerja saat ini, dapat merujuk pada konsep fleksibilitas.

“Penyewa membutuhkan fleksibilitas. Pemilik gedung juga harus dapat memiliki fleksibilitas tersebut. Tempat kerja yang ideal harus menyediakan berbagai pengaturan kerja dengan fokus pada memfasilitasi konsentrasi dan kolaborasi,” kata Bagus di Jakarta, Selasa (23/2/2021).

BACA JUGA

Perkantoran Sehat Jadi Tren Baru di Masa Pandemi

Menurut Bagus, wawasan tentang transformasi tempat kerja, bagaimana perusahaan mengubah budaya kerja mereka dan menyesuaikan strategi operasi untuk mempertahankan tujuan perusahaan. Terlebih, kondisi pasar saat ini telah mengubah banyak aspek, dan mengubah lansekap tempat kerja.

“Bentuk tempat kerja saat ini bisa fleksibel, dimana orang dapat memilih bekerja dari luar kantor asalkan sesuai dengan kebijakan perusahaan,” paparnya.

Bagus mengatakan, dengan efisiensi biaya hunian dan pelaksanaan kerja dari rumah yang kemungkinan besar akan berlanjut selama beberapa tahun ke depan, negosiasi ulang kontrak sewa adalah yang pertama. “Kemudian, banyak kemungkinan yang akan terjadi, termasuk kemungkinan pengurangan sewa dan pembaruan sewa awal,” tandasnya.

BACA JUGA

Permintaan Ruang Perkantoran Masih Cukup Aktif

Kebijakan perusahaan untuk bekerja di rumah, karena belum ada kepastian kondisi ekonomi akibat pandemi covid-19, bertujuan melindungi keuntungan dan memastikan keberlanjutan. “Dalam masa yang tidak pasti, perusahaan perlu mengadopsi strategi yang tepat sejalan dengan prospek bisnisnya dan sumber daya yang tersedia,” imbuhnya.

Kebijakan bekerja dari rumah oleh perusahaan untuk alasan kesehatan dan keselamatan, membuat banyak perusahaan telah menyadari bahwa melalui teknologi, bisnis dapat terus beroperasi tanpa mengharuskan semua karyawan melapor ke kantor.

“Realisasi ini telah mengarahkan penyewa untuk mempertimbangkan kembali kebutuhan ruang kantornya dan akan mempengaruhi keputusan masa depan sewa kantor,” tegasnya.

BACA JUGA

Pasar Sewa Perkantoran Diprediksi Pulih 2022

Head of Project Management Colliers International Indonesia, Hendry Sugianto menambahkan, saat ini banyak perusahaan menghadapi situasi di mana ruang kantornya tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini menyebabkan, perusahaan mencoba mengurangi luasan ruang kantor dan melakukan negosiasi ulang dengan pemilik gedung.

“Beberapa penyewa dapat menemukan kompromi dan beberapa tidak. Namun, ketika masa sewa berakhir, mayoritas penyewa akan memperbarui sewa mereka dengan memperkecil ruang mereka hingga 30% dan meminta fleksibilitas sewa lebih lanjut sebagai cara untuk mengelola risiko,” tambahnya.

Menurut Hendry, transformasi tempat kerja tentunya tidak hanya berpengaruh pada sewa kantor tetapi juga pengaturan aktivitas kerja. Untuk menentukan area optimal untuk tempat kerja baru, membutuhkan strategi transformasi dengan analisis aktivitas dari berbagai departemen.

BACA JUGA

Wisatawan Domestik Topang Okupansi Hotel

“Perubahan tata letak tempat kerja juga mempengaruhi keputusan apakah perusahaan masih perlu mempertahankan ruang tertutup atau lebih efisien. Seberapa terbuka dan santai pengaturan kantor tergantung pada budaya perusahaan,” pungkasnya.

Berita terkait: