Sedang Kena Musibah, Korban Gempa Sulbar juga Harus Alami Ini

Gempa bumi yang melanda Majene, Sulawesi Barat menimbulkan kerugian materiil dan korban jiwa. Tak sedikit yang harus kehilangan harta benda dan orang terkasih.

Beberapa pihak langsung bergerak cepat memberikan bantuan kepada para korban yang tersebar di sejumlah titik pengungsian.

Meski demikian, para pengungsi pun merasa tak nyaman. Berbagai hal masih harus dialami mereka untuk mendapatkan bantuan dan perhatian Pemerintah.

Simak ulasannya berikut ini.

Ambil Bantuan Secara Berjenjang

Masyarakat Mamuju yang terdampak mulai mengeluh. Untuk dapat memperoleh bantuan, mereka harus melengkapi data penerima.

Tak hanya itu, banyak pengungsi yang kecewa lantaran bantuan harus didapatkan melalui proses panjang. Kepala Lingkungan Katapi Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Jumardin menilai, seharusnya bantuan pasca gempa harus cepat disalurkan karena sangat dibutuhkan.

“Bahkan saya urus ini sudah bolak-bolak tiga kali. Sampai saat ini tidak jelas. Ini sudah mulai malam lagi, capek pak, sementara orang di sana sangat butuh bantuan. Nah nanti dapat surat rekomendasi atau DO dari TNI baru kami bisa dapat bantuan,” kata Jumardin kepada merdeka.com

kondisi di pengungsian korban gempa mamuju

©2021

Harus Gunakan KK & KTP

Senada dengan Jumardin, salah seorang pengungsi asal Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Erwin mengaku cukup kecewa dengan prosedur yang ada. Mulai dari persyaratan harus menggunakan KK/KTP hingga proses distribusi.

“Untuk bisa dapatkan bantuan kita disuruh data dulu, berapa KK (Kepala Keluarga) bagi yang butuh bantuan. Terus ke Posko Induk yang ada di Provinsi, di sana menyetor data dan setelah itu dikasih kertas (DO), baru disuruh ke sini, gudang logistik yang ada di Korem ambil bantuan,” kata Erwin kepada sejumlah media saat ditemui di posko logistik Korem Rabu (20/1).

Pemerintah Butuh Pertanggung Jawaban

Kasi Logistik BNPB Provinsi Sulbar, Budianto mengaku, bagi warga atau ketua Posko yang ingin dapat bantuan memang wajib melengkapi KTP dan KK. Jika tidak dilengkapi data penerima, penanggung jawab pasti akan kesulitan mempertanggung jawabkan.

pengungsi gempa mamuju

©2021

“Seperti itu memang aturannya, kalau mengeluarkan bantuan harus penerima melengkapi data seperti KTP dan KK, ini dilakukan untuk bisa kami pertangungjawabkan. Minimal ada data korban yang bisa dihubungi,” jelasnya

Jokowi Datang, Geser Tenda

Kunjungan Presiden Jokowi ke Stadion Manakarra Mamuju pada Selasa (19/1) lalu justru dianggap tak berpengaruh besar. Bahkan, pengungsi justru merasa direpotkan.

Menjelang kedatangan Jokowi, petugas terkait meminta warga yang memasang tenda di luar stadion membongkar tendanya dan pindah ke tenda yang sudah disiapkan oleh Kemensos.

jokowi datangi posko pengungsi di mamuju

©2021 Merdeka.com/Ahmad Udin

Usai Jokowi meninggalkan lokasi, para pengungsi disebut harus memasang tenda di tempat semula kembali.

“Ini bikin capek saja, tapi karena kita ini orang kecil terpaksa saya bongkar pak, dan masuk ke tenda baru yang disiapkan. Setelah Pak Presiden Jokowi meninggalkan stadion, saya paksa keluar kembali pak, dan bangun tenda kembali di tempat semula,” kata Idris, seorang pengungsi kepada Rabu (20/1).

Tenda Kemensos Tak Nyaman

Sebagian besar pengungsi tak mau menempati tenda yang disiapkan Kemensos. Hal ini lantaran para pengungsi menilai, tidak adanya kenyamanan karena panas.

“Panas di tenda itu pak, kalau siang panas. Makanya saya tidak mau bertahan di sana. Saya juga takut tower lampu stadion takutnya roboh,” kata Idris.

Demi Kenyamanan Pengungsi

Komandan Kompleks, Mayor Inf Jalaluddin mengaku memang sebelum kedatangan Jokowi, semua pengungsi yang di luar stadion diarahkan masuk ke tenda baru yang telah disiapkan.

Tentunya untuk memberikan kenyamanan bagi setiap pengungsi. Sebab tenda baru dari Kemensos lebih besar dan bisa menampung lebih banyak.

pengungsi gempa mamuju kesulitan air

©2021

“Kami memang arahkan masuk ke dalam areal stadion karena kami sudah siapkan tenda baru dari Kementerian Sosial. Di dalam aman dan luas tersedia dapur umum dan bantuan masuk, di sini tidak ada yang kurang Pak,” terang Jalaluddin.

Berita terkait: