Normalisasi Sungai Ciberang di Lebak Terhambat Pandemi

Salah satu langkah mencegah terulangnya banjir bandang di Kabupaten Lebak, Banten adalah dengan melakukan normalisasi Sungai Ciberang. Namun upaya normalisasi yang rencananya direalisasikan pada 2020 lalu, batal dilakukan karena terhambat pandemi Covid-19.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizky Pratama, Jumat (22/1/2021) menjelaskan, normalisasi Sungai Ciberang akan ditangani Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera). “Pemkab Lebak sudah meminta kepada Kempupera untuk melakukan normalisasi Sungai Ciberang. Tidak hanya normalisasi, Kempupera juga akan membangun tembok penahan tanah longsor di sepanjang aliran Sungai Ciberang. Proyek ini sebenarnya dilaksanakan tahun 2020 lalu, tetapi karena terjadi pandemi Covid-19, maka akan direalisasikan pada tahun 2021 ini,” ujar Febby.

Febby menjelaskan, Pemkab Lebak sendiri telah melakukan upaya untuk mencegah terulangnya banjir bandang di Lebak yakni dengan menanam rumput vetiver di hulu Sungai Ciberang. “Kami telah menanam rumput vetiver seluas 5 hektare, mulai ujung Lebakgedong sampai di Cipanas. Tanaman vetiver ini untuk menahan tebing dan untuk mencegah banjir,” ujarnya.

BACA JUGA

Gubernur Banten Instruksikan DLHK Cek Kandungan Merkuri di Sungai Ciberang

Febby mengatakan, pengalihan fungsi lahan di daerah hulu Sungai Ciberang akibat gurandil atau penambang ilegal memang sudah terjadi sejak lama. “Faktanya memang telah terjadi pengalihan fungsi lahan di daerah hulu Sungai Ciberang. Makanya kita menanam rumput vetiver. Pemkab Lebak sudah sering melakukan upaya persuasif dengan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan praktik tambang ilegal atau penambangan emas tanpa izin (Peti). Kami hanya bisa sebatas mengimbau saja. Sementara soal penindakan, kewenangannya ada di pihak kepolisian. Saya kira, kasus gurandil ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian,” ujarnya.

Untuk diketahui, banjir bandang menerjang enam kecamatan di Kabupaten Lebak pada Januari 2020 lalu. Keenam kecamatan yang terkena banjir bandang itu yakni Kecamatan Sajira, Kecamatan Cipanas, Kecamatan Lebakgedong, Kecamatan Curugbitung, Kecamatan Maja dan Kecamatan Cimarga.

Banjir bandang yang disebabkan oleh meluapnya air Sungai Ciberang tersebut mengakibatkan ribuan rumah warga rusak berat, beberapa jembatan putus, gedung sekolah rusak dan beberapa infrastruktur lainnya juga mengalami hal serupa serta jatuhnya korban jiwa.

Mitigasi Bencana
Lebih jauh, Febby menjelaskan untuk mitigasi bencana banjir, pihaknya telah menyiapkan rencana kontinjensi dan rencana operasi ke depan. “Tadi saya baru melakukan apel kesiapsiagaan bersama TNI/Polri, PMI, Tagana, Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP. Kita gelar peralatan dan kesiapsiagaan kita. Sehingga ketika terjadi bencana, kita sudah dalam kondisi siap atau standby,” ujarnya.

Febby mengatakan, terkait mitigasi secara struktural, pihaknya telah menyiapkan plang atau rambu daerah-daerah yang rawan banjir dan jalur evakuasi. “Rambu-rambu dan jalur evakuasi ini terus kami sosialisasikan di daerah-daerah yang rawan banjir, sehingga masyarakat paham bahwa daerah yang ditempatinya rawan banjir. Sehingga ketika terjadi banjir masyarakat yang berada di daerah rawan banjir sudah paham akan berbuat apa dan lari ke mana,” ujarnya.

Sedangkan di daerah rawan longsor, kata Febby, pihaknya memanfaatkan peran relawan untuk selalu mensosialisasikan kepada warga. “Kita punya 28 relawan. Setiap kecamatan terdapat satu relawan. Teman-teman relawan aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa daerah mereka rawan longsor. Tidak hanya itu, perlu diaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling). Peran siskamling ini sangat efektif, karena jika terjadi bencana malam hari, petugas siskamling yang akan membangunkan warga,” ujarnya.

Berita terkait: