Naik 19,4 Persen, Anggaran Kemenparekraf di 2021 Disepakati Rp4,9 Triliun

Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati pagu anggaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk tahun anggaran 2021 sebesar Rp4,9 triliun. Angka ini naik 19,4 persen atau sebesar Rp795,7 miliar dari pagu indikatif Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp4,11 triliun.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Wishnutama Kusubandio mengapresiasi dukungan yang diberikan DPR kepada pemerintah khususnya dalam membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akibat pandemi COVID-19.

“Belanja pemerintah merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga perputaran roda ekonomi dalam masa pandemi ini. Anggaran tidak hanya bicara seputar angka-angka rupiah , tapi anggaran yang ada merupakan upaya implementasi dari kebijakan agar berdampak bagi masyarakat. Sehingga kebijakan mampu memberikan harapan baru untuk tahun depan sebagai tahun pemulihan,” kata Wishnutama, dikutip Antara, Kamis (24/9).

Dalam penggunaan APBN tahun 2021, Kemenparekraf memiliki tiga program strategis yakni percepatan pemulihan pariwisata, pariwisata berkualitas, dan ekonomi kreatif, serta digitalisasi dan kedaulatan digital. Ketiga program strategis tersebut akan diimplementasikan di tiap level kedeputian.

Dia menjelaskan, strategi yang telah dan akan dijalankan dalam upaya pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif akibat pandemi COVID-19. Sesuai dengan arahan Presiden, mitigasi dampak pandemi COVID-19 bertujuan untuk membangun ketahanan dan menyelamatkan perekonomian, yang dilaksanakan melalui tiga program utama. Yaitu program perlindungan sosial, program padat karya, juga program stimulus.

Terlepas dari upaya yang sudah dilakukan, pihaknya juga melihat perlu adanya usaha ekstra agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif segera pulih. Usaha ekstra ini diperlukan karena ada beberapa isu yang menghambat pemulihan, di antara sekian isu tersebut ada dua isu yang dominan.

Pulihkan Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif

Isu yang pertama adalah Fear Factor yang menurut data dari McKinsey, masyarakat Indonesia mayoritas khawatir tentang penggunaan layanan transportasi umum, bepergian menggunakan pesawat, dan menginap di hotel. Tiga kategori kegiatan oleh McKinsey tersebut sangat terkait dengan sektor pariwisata.

Isu yang dominan kedua adalah soal daya beli. Menurut data dari McKinsey, terlihat tiga perempat dari konsumen mengalami penurunan pendapatan dan penurunan nominal tabungan yang dialami masyarakat.

Dari data ini bisa disimpulkan bahwa secara logika masyarakat hanya akan mengeluarkan uang untuk kebutuhan pokok karena pendapatan yang menurun. Karenanya ke depan Kemenparekraf juga akan melakukan berbagai upaya, salah satunya menjalankan program sertifikasi CHSE gratis bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif dalam memulihkan kepercayaan masyarakat.

“Pengeluaran untuk berwisata akan menjadi hal yang sekunder bagi kebanyakan orang. Ini tentu menjadi tantangan bagi kami untuk membangkitkan industri pariwisata pascapandemi, dan membantu industri pariwisata bertahan di tengah pandemi,” imbuhnya. [azz]

Baca juga:
Kemenparekraf Gelar Pelatihan Pemasaran Digital Bagi UMKM
Indonesia Usul 5 Kerja Sama Penguatan Pariwisata di ASEAN
Menparekraf Dukung Penyelenggaraan Adira Finance Festival Kreatif Lokal 2020
Strategi Kemenparekraf Pulihkan Ekonomi dengan Manfaatkan Kegiatan MICE
Biar Tetap Nyaman, Begini Kiat Aman Staycation di Hotel saat Masa Kenormalan Baru
Wishnutama Beberkan 4 Masalah Serius yang Melilit UMKM di Tengah Pandemi

Baca Selanjutnya: Pulihkan Sektor pariwisata dan ekonomi…

Halaman

  • 1
  • 2

Berita terkait: