Ini Dia Alasan Kenapa Pria Malas Ber-KB

Masih banyak orang beranggapan bahwa program keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi adalah urusannya perempuan. Padahal pria dan wanita harus berbagi tanggung jawab karena keduanya adalah rekan dalam hal reproduksi dan seksual. 

Menurut data hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, kesertaan KB pria masih sangat rendah. Misalnya pemakaian kondom hanya sebesar 2,5%, dan vasektomi sebesar 0,2% dari total kepesertaan KB.

Data lainnya, hasil Survei Kinerja dan Akuntabilias Program (SKAP) KKBPK tahun 2019 tidak berbeda jauh. Capaian pemakaian alat KB kondom hanya 3%, dan vasektomi 0,2%. Mengapa seperti itu ?

Plt Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Dwi Listyawardani mengungkapkan, hal itu terjadi karena masih banyak keluarga yang beranggapan bahwa KB adalah urusan perempuan. Selain itu, pengetahuan pria tentang KB pria juga masih rendah. Rumor yang beredar di masyarakat bahwa vasektomi adalah kebiri juga jadi salah satu alasan mengapa partisipasi KB pria rendah.

“Termasuk masalah pandangan sosial, budaya, dan agama terhadap vasektomi menjadi tantangan dalam meningkatkan kesertaan KB pria,” kata Dwi Listyawardani saat membuka kegiatan webinar “Peningkatan Kesertaan KB Pria: Saatnya Pria Bertindak”, Kamis (23/07/2020).

Menurut Listyawardani, pendekatan program KB saat ini tidak hanya fokus pada pengendalian populasi dan penurunan fertilitas atau kelahiran, tetapi juga diarahkan pada pemenuhan hak-hak reproduksi.

BKKBN, menurut Listyawardani, terus mengupayakan agar kesertaan KB pria, khususnya vasektomi, dapat meningkat. Caranya adalah dengan mengatasi faktor penyebab rendahnya kesertaan KB pria.

Hal-hal yang saat ini sedang dilakukan oleh BKKBN di antaranya adalah mengupayakan alokasi anggaran pelayanan vasektomi pada dana alokasi khusus (DAK) nonfisik dalam bentuk bantuan operasional KB (BOKB) yang bersifat bantuan untuk dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota secara optimal.

Upaya BKKBN untuk meningkatkan partisipasi pria dalam pemakaian kontrasepsi dilakukan secara intensif dan terus-menerus. Namun hasilnya sampai saat ini belum sesuai harapan. Beberapa faktor penyebab rendahnya kesertaan KB pria, di antaranya adalah kondisi lingkungan sosial, budaya, serta aksesibilitas terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

Dokter Spesialis Urologi, Ponco Birowo mengatakan, vasektomi dapat dilakukan rekanalisasi atau penyambungan kembali dengan teknik bedah mikro oleh dokter spesialis urologi. Namun seyogianya pria harus memastikan dahulu bahwa sudah tidak mau punya anak lagi.

Syarat untuk mendapatkan pelayanan vasektomi di antaranya adalah sukarela yakni klien atau calon peserta harus secara sukarela menerima pelayanan. Kemudian bahagia, artinya klien terikat dalam perkawinan yang sah dan harmonis telah mempunyai anak hidup dan sehat dengan umur minimal anak terkecil 2 tahun dengan umur istri sekitar 25 tahun. Kemudian harus sehat yakni klien tidak menderita penyakit yang kontra indikasi dalam tindakan medis seperti kencing manis, jantung.

Tindakan vasektomi yang dilakukan adalah menggunakan teknik vasektomi tanpa pisau (VTP). Lama tindakan 10-30 menit menggunakan bius lokal, dengan pemulihan sekitar 30 menit. Dalam proses penyembuhan, 4-5 hari luka tidak boleh terkena air, sedangkan efek kontrasepsi bisa didapat setelah 15 kali ejakulasi atau 100 hari pascatindakan.

Banyak rumor yang beredar bahwa vasektormi menyebabkan impotensi. Kabar ini menurut Listyawardani tidak benar. Kejantanan pria sama sekali tidak dipengaruhi tindakan vasektomi. Ada juga rumor bahwa sunat sama dengan kebiri. Ini pun tidak benar.

“Tidak benar karena pengebirian dilakukan dengan membuang kedua buah testis yang memproduksi hormon. Sedangkan vasektomi hanya pemotongan saluran benih sepanjang 1-2 cm, disertai pengikatan pada masing-masing ujung potongan,” kata dokter Ponco.

Berita terkait: