Dua Penyerang Novel Dinyatakan Tidak Terbukti Berniat Sebabkan Luka Berat

Dua penyerang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) Novel Baswedan dinyatakan tidak terbukti berniat untuk menyebabkan luka berat meski sudah merencanakan penyerangan.

“Perbuatan terdakwa telah menambahkan air aki ke dalam mug yang telah terisi air aki sebenarnya tidak menghendaki luka berat pada diri saksi korban Novel Baswedan sebab jika sikap batin terdakwa ingin menimbulkan luka berat, tentu terdakwa tidak perlu menambahkan air kepada mug yang telah terisi air aki yang merupakan air keras tersebeut atau dengan cara lain apalagi terdakwa anggota pasukan Brimob yang terlatih melakukan penyerangan secara fisik,” kata ketua majelis hakim Djumyanto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (16/7/2020).

Komisi Kejaksaan Bakal Panggil JPU Perkara Teror Novel Baswedan

Meski tidak terpenuhi penganiayaan berat, namun penganiayaan itu dilakukan dengan rencana lebih dahulu.

“Dalam sidang muncul pengakuan bahwa ada niat terdakwa memberikan pelajaran kepada saksi korban Novel Baswedan yang diawali berusaha mencari alamat, setelah memperoleh alamat tinggal lalu meminjam motor Ronny Bugis untuk melakukan survei pada 8-9 April 2017,” tambah hakim.

Setelah yakin alamat Novel maka pada 10 April 2017, Rahmat mengambil sisa air aki ke kontrakan dan mencampur air ke mug yang sudah diisi air aki yang diperoleh dari pool mobil Polri.

Baca juga:  Penganiaya Novel Baswedan Belum Dipecat, Kompolnas Anggap Lazim

“Terdakwa lalu mengajak Ronny Bugis sampai akhirnya terdakwa menyiramkan air aki kepada Novel Baswedan sehingga jelas rangkaian perbuatan terdakwa dilakukan dalam suasana tenang dalam rentang waktu yang cukup antara kehendak dan pelaksanaan kehendak sehingga jelas direncanakan lebih dahulu,” tambah hakim Djumyanto.

Keduanya terbukti melakukan perbuatan berdasarkan dakwaan subsider pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Putusan itu lebih berat dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Utara yang menuntut Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis selama 1 tahun penjara.

Ronny dan Rahmat diketahui adalah polisi aktif dari Satuan Gegana Korps Brimob Kelapa Dua Depok.

Atas perbuatannya, kedua terdakwa langsung menyatakan menerima.

“Terima kasih yang mulia, saya menerima,” kata Rahmat.

“Kami menerima putusannya yang mulia,” kata Ronny.

Sedangkan JPU Kejari Jakarta Utara menyatakan pikir-pikir.

Sementara Novel Baswedan mengatakan vonis tersebut menunjukkan negara tidak berpihak pada upaya pemberantasan korupsi.

“Saya tidak ingin katakan bahwa ini adalah kemenangan para penjahat dan koruptor tapi saya khawatir akhir persidangan ini adalah cerminan yang nyata bahwa negara benar-benar tidak berpihak kepada upaya pemberantasan korupsi,” kata Novel saat dihubungi.