Dirjen Vokasi Apresiasi Tiga Kampus di Jakarta “Nikah” dengan Industri

Dirjen Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto didampingi langsung oleh Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Beny Bandanadjaja, melakukan kunjungan kerja ke Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta, Politeknik Negeri Jakarta(PNJ), Program Vokasi Universitas Indonesia(UI).

Wikan menuturkan, kunjungan kerja kali dilakukan bertujuan untuk memastikan penerapan link and match atau “pernikahan massal” antara pendidikan tinggi vokasi dengan dunia usaha dunia industri dan dunia kerja.

Dalam kesempatan tersebut, Wikan memberi apresiasi kepada seluruh program studi (prodi) di tiga kampus vokasi tersebut yang sudah menerapkan empat paket minimal pernikahan massal dengan industri.

“Ini bagus sekali dan ternyata cocok dengan fakta serapan lulusan kampus-kampus ini yang sudah mencapai di atas 80 persen diterima oleh dunia kerja,” ujarnya dalam siaran pers diterima , Minggu (19/7/2020).

Menurut Wikan, “pernikahan massal” yang terjadi di tiga perguruan tinggi vokasi ini tentu sangat dipengaruhi oleh besarnya potensi industri-industri di Jakarta. Dalam hal ini, Wikan mendorong praktek baik di Polimedia, PNJ, dan Program Vokasi UI harus dipertahankan agar terjadi di seluruh kampus-kampus vokasi di Indonesia.

Wikan menyebutkan, PNJ telah berhasil menerapkan dual system mirip di Jerman, yaitu pembelajaran dan perkuliahan diselenggarakan di dalam kawasan industri Holcim. “Jadi mahasiswa kuliah dan belajar sambil bekerja di dalam industri, serta mendapatkan honor yang baik setiap bulannya,” kata Wikan.

Pada kesempatan sama, Wikan juga memberi tantangan kepada Polimedia untuk mengubah seluruh prodi jenjang D3 menjadi D4 atau Sarjana Terapan, pada 2021, serta membuka prodi Magister (S2) Terapan pada 2022.

Selanjutnya, Wikan juga menyebutkan, kunjungan kerjanya untuk memastikan perguruan tinggi vokasi menjalankan kurikulum yang telah disetujui industri.

“Mengapa langsung meninjau kurikulum? Karena program wajib pertama di dalam pernikahan massal adalah kurikulum yang disusun bersama dan disetujui oleh industri. Tidak hanya disusun bersama, tetapi harus sampai pada tahap disetujui oleh pihak industri dan calon user lulusan. Ini adalah syarat utama dalam konsep l ink and match yang saat ini digalakkan,” terang Wikan.

Wikan menjelaskan, kurikulum sudah sesuai dengan kebutuhan industri yaitu hardskills dan softskills yang seimbang, tidak boleh hanya satu diantaranya yang dikuatkan. Untuk itu harus diikuti dengan menghadirkan dosen tamu praktisi dan ahli dari industri, serta merancang program magang sejak awal pada penyusunan kurikulum.

“Tidak bisa, tanpa kurikulum disetujui oleh industri, lalu tiba-tiba mahasiswa datang ke industri untuk meminta diterima magang,” Ujar Wikan.

Lebih lanjut, kata Wikan, industri harus menyatakan komitmen yang kuat untuk menyerap lulusan kampus-kampus vokasi Indonesia. “Tidak mewajibkan industri menerima, namun meminta komitmen yang kuat untuk menyerap lulusan, apabila kurikulum dan magang sudah dirancang bersama dan sesuai kebutuhan riil di dunia kerja,” ujarnya.

Berita terkait: