Banyak Calon Penerima Vaksin Covid-19 yang Gagal Disuntik

Tidak semua tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan undangan dan jadwal bisa mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 produksi Sinovac pada penyuntikan perdana di Kota Bandung, Kamis (14/1/2021). Para calon penerima vaksin itu tidak lolos pemeriksaan kesehatan awal seperti yang terpantau di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat (Jabar).

Kepala Seksi Pelayanan Medik Rawat Jalan RSHS Ashrini Saraswati menuturkan, penyuntikan vaksin dilakukan dalam tiga tahap setiap harinya di lantai 6 Gedung Anggrek. Lokasi penyuntikan pada momen penyuntikan perdana dibagi dua. Satu lagi berlokasi di Gedung Parahyangan.

Pada penyuntikan tahap awal itu, hanya 3 dari 18 calon penerima vaksin yang lolos pemeriksaan kesehatan awal di Gedung Parahyangan. Mereka di antaranya adalah Kapolda Jabar Irjen Pol Ahmad Dofiri, Kabid Advokasi Kelembagaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jabar Mohammad Luthfi, serta Teni Nurlatifah, penanggung jawab Tata Usaha dan Rumah Tangga Ikatan Bidang Indonesia Provinsi Jabar.

“Salah satu prasyarat untuk lolos secara kesehatan untuk diberi vaksin Covid ini adalah tekanan darahnya maksimal 140. Kalau di atas itu punya sedikit risiko yang tentu tidak kita harapkan,” kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang ikut memantau proses vaksinasi di RSHS.

Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum yang juga ikut vaksinasi di Gedung Parahyangan harus beristirahat dulu karena tekanan darahnya melebihi standar yang diperkenan, 140/90 mmHg.

“Setelah saya istirahat, ngobrol-ngobrol, alhamdulillah tensi saya normal kembali, 129, dan tidak ada yang membahayakan,” kata Uu pasca disuntik vaksin.

Uu tidak sendiri. Ashrini memaparkan, dari 55 tenaga kesehatan yang hendak mengikuti vaksinasi di Gedung Anggrek, baru 31 orang saja yang bisa mengikuti penyuntikan vaksin.

“Sisanya harus menunggu (istirahat) dulu. Ada delapan orang yang tidak bisa divaksin karena tekanan darah dan ada juga yang karena punya ada riwayat kanker,” imbuh Ashrini.

Setiap calon penerima vaksin ini harus memperlihatkan undangan digital yang diperolehnya lewat telepon selulernya. Apabila waktu dan lokasinya tepat, mereka harus menjawab belasan pertanyaan tentang kesehatan.

Pertanyaan itu, antara lain, apakah sedang hamil atau menyusui, apakah pernah terkonfirmasi Covid-19, apakah ada anggota keluarga serumah yang kontak erat atau terkonfirmasi dan sedang dalam perawatan Covid-19, apakah menderita penyakit jantung, apakah teridentifikasi HIV atau penyakit autoimun sistemik, hingga apakah mengalami infeksi saluran pernafasan atas dalam tujuh hari terakhir.

“Kalau ada satu saja dari belasan pertanyaan itu yang jawabannya iya, maka tidak bisa lanjut untuk mendapat vaksinasi,” terang Ashrini.

BACA JUGA

Mayoritas Tenaga Kesehatan di Depok Dukung Vaksinasi Covid-19

Direktur Utama RSHS, Nina Susana Dewi menyiapkan 11 dokter serta 11 perawat untuk menyukseskan program vaksinasi di tempatnya. Mereka itu di luar tim dokter yang menangani kejadian ikutan pascaimunisasi.

Berita terkait: