Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak Disadari

Klaster keluarga bermunculan di sejumlah wilayah Tanah Air selama periode pandemik COVID-19. Alih-alih menurun, jumlahnya justru bertambah dan jadi pemicu pasien terkonfirmasi positif.

Bagaimana klaster keluarga bisa muncul dan cara penularannya? menghadirkan ulasan secara khusus, berikut ini.

1. Klaster keluarga dampak dari imported case virus corona

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariHand sanitizer disediakan di meja kasir New Bright Store Semarang dalam penerapan protokol kesehatan COVID-19. /Anggun Puspitoningrum

Klaster keluarga mengemuka usai Wali Kota Bogor, Bima Arya menemukan kasus tersebut di daerah yang ia pimpin. Dalam dua hari terakhir, sejak Rabu, 19 Agustus 2020 terdapat 25 warga Kota Bogor yang terkonfirmasi positif virus corona yang sebagian besar dari klaster keluarga.

Bima menyebut penularan klaster keluarga terjadi akibat imported case , yakni adanya aktivitas warga yang bepergian ke luar kota atau daerah lain, dan kemudian tertular COVID-19.

“Setelah kembali ke Kota Bogor, warga tersebut menularkan pada keluarganya,” kata Bima.

Penularan virus corona di lingkungan keluarga kian dominan karena mereka tinggal dalam permukiman dan saling berkunjung satu dengan yang lainnya.

Histori klaster keluarga menguap lagi setelah Dinas Kesehatan Kota Bogor menemukan 13 orang warga terkonfirmasi positif COVID-19. Ketiga belas warga Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat itu terpapar dari klaster keluarga.

Kemudian pada Selasa, 18 Agustus 2020, ditemukan lagi 12 orang warga Kota Bogor yang terkonfirmasi positif COVID-19 dari klaster keluarga.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menerangkan apabila penemuan 13 kasus baru terkonfirmasi positif virus corona tersebut adalah hasil penelusuran dari klaster keluarga di Kelurahan Semplak yang sebelumnya telah ditemukan kasus positif dengan total kasus mencapai 22 orang.

“Dengan adanya tambahan 13 kasus positif baru, maka akumulasi kasus positif pada klaster keluarga Semplak menjadi 35 orang. Dari 35 kasus positif di klaster keluarga tersebut, 29 orang adalah warga Kota Bogor serta enam orang warga Kabupaten Bogor,” terang Dedie.

2. Tren persebaran COVID-19 dalam klaster keluarga sudah local case

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariIlustrasi edukasi protokol kesehatan virus corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Tak berhenti disitu, dari 35 orang yang terkonfirmasi positif virus corona melalui klaster keluarga, terkini, Bima Arya telah mendetailkan apabila ada 34 keluarga yang resmi telah menjadi klaster virus corona. Jumlah anggota yang terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 139 orang. Bima menilai kondisi tersebut begitu mengkhawatirkan.

“Sebanyak 34 keluarga itu berpotensi menularkan COVID-19 di lingkungannya. Apalagi dalam kultur masyarakat kita, antartetangga saling bersilaturahmi dan mengunjungi, sehingga terjadi kontak erat,” ungkapnya.

Dari 34 keluarga yang menjadi klaster tersebut, lanjut Bima, ada satu keluarga yang cukup besar yang menjadi klaster terbesar yang berada di Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat.

Bima menjelaskan, peningkatan penularan COVID-19 dari klaster keluarga menunjukkan adanya pergeseran tren dari penularan imported case menjadi local case , ialah penularan di lingkungan pemukiman dan keluarga. Peningkatan klaster keluarga, lanjutnya, juga dipicu rendahnya kesadaran warga setelah adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Guna menekan mata rantai virus corona di lingkungan keluarga, dirinya tak henti untuk terus mengingatkan kepada warga supaya membangun disiplin serta kesadaran yang tinggi dalam menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

“Kampanye tiga langkah protokol kesehatan, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, sudah tidak cukup. Warga harus diberikan edukasi soal disiplin dan pola hidup sehat,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bogor bersama dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut melakukan kampanye masif protokol kesehatan melalui program “Gebrak Masker” dan “Bogor Bermasker”. Mereka membentuk tim, melakukan kampanye masif di seluruh wilayah Kota Bogor sampai ke tingkat rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT).

3. Budaya saling berkunjung meningkatkan penularan virus corona antarkeluarga

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Persebaran klaster keluarga juga terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Sedikitnya ada 155 keluarga yang sudah menjadi klaster COVID-19, dengan total 437 anggota keluarga yang sudah terkonfirmasi positif virus corona. Klaster keluarga tersebut tersebar di 10 kecamatan dan 32 kelurahan di Kota Bekasi.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi menilai, klaster keluarga muncul karena banyaknya kegiatan saling mengunjungi antarkeluarga, sehingga berdampak pada anggota keluarga lain.

“Karena ini transmisi, seolah-olah pada saat kita lepas (PSBB) menjadi adaptasi baru itu semua menganggap (COVID-19) tidak ada lagi,” ujarnya.

Kabupaten Tangerang juga menghadapi munculnya klaster keluarga. Dua pekan lalu, sebuah keluarga yang positif COVID-19 di Kecamatan Pasar Kemis menulari tetangganya hingga satu rukun warga (RW). Total sudah ada 30 orang positif virus corona. Padahal, sosialiasi protokol kesehatan sudah digencarkan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang Raya.

Baca Juga: 1 Keluarga di Lampung Utara Positif COVID-19 dari Jaksa Fedrik Adhar

4. Isolasi mandiri menjadi solusi ampuh memutus COVID-19 dalam klaster keluarga

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi

Jubir Gugus Tugas penanganan COVID-19 di Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi menegaskan, penularan tersebut berasal dari salah satu warga yang bekerja di daerah DKI Jakarta dan Kota Tangerang, hingga menularkan ke anggota keluarga lainnya.

Satu keluarga yang terkena COVID-19 itu kemudian berinteraksi erat dengan sejumlah tetangga. Tanpa disadari, paparan COVID-19 menyebar dengan cepat di lingkup satu RW itu.

“Salah satu warga diketahui (bepergian) dari DKI Jakarta bahwa yang bersangkutan positif COVID-19,” jelasnya.

Hendra menegaskan, para warga yang positif virus corona langsung menjalani perawatan medis. Mereka yang tidak menunjukkan gejala atau masuk Orang Tanpa Gejara (OTG), diminta melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing, dengan pengawasan dari petugas kesehatan setempat.

Setelah isolasi mandiri dan perawatan selama dua minggu, pihaknya telah kembali melakukan tes swab PCR kepada puluhan warga tersebut. Hasilnya, 23 warga telah dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali. Saat ini masih ada 7 warga yang harus melanjutkan untuk melalukan isolasi mandiri.

Hendra menegaskan, hingga saat ini petugas masih terus melakukan sterilisasi dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke lingkungan RW tersebut maupun RW sekitarnya guna menghentikan penyebaran virus corona.

Petugas, imbuhnya, juga memberikan imbauan ke masyarakat setempat untuk selalu memakai masker dan tetap jaga jarak bila keluar rumah, sering cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer. Serta harus mandi begitu sampai di rumah setelah bekerja dari luar.

5. Anak-anak paling terdampak virus corona dari klaster keluarga

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Dampak penyebaran klaster keluarga meluas di Provinsi Banten. Korbannya bukan lagi orang dewasa melainkan anak-anak. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat sebanyak 57 anak bawah lima tahun (balita) telah terpapar virus corona. Mereka tersebar di lima kabupaten/kota yang menjadi bagian dari klaster keluarga penyebaran virus korona.

Ke-57 balita kasus positif itu tersebar di Kabupaten Tangerang sebanyak 19 anak, Tangerang Selatan 17 anak, Kota Tangerang 16 anak, Kota Cilegon 3 anak dan Kabupaten Serang 2 anak.

Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, saat ini terjadi tren peningkatan penularan COVID-19 dari klaster keluarga di Banten. Salah satu yang terkena dampak adalah anak-anak.

Mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang itu menjelaskan, sebenarnya keluarga bukan merupakan klaster baru penyebaran COVID-19. Klaster tersebut sudah ada sejak pandemik melanda pada Maret 2020 lalu. Namun peningkatan kasus terjadi dalam beberapa bulan terakhir, tepatnya Juli-Agustus 2020.

Ati tak menampik apabila peningkatan kasus dari klaster keluarga diakibatkan meningkatnya mobilitas anggota keluarga. Para orangtua yang bekerja -termasuk juga mereka yang keluar masuk zona merah seperti DKI Jakarta- rentan tertular dan menularkan COVID-19 ke anggota keluarga mereka.

Baca Juga: 1 ASN Positif COVID-19, Ratusan Pegawai Pemkot Balam Ikut Rapid Test

6. Klaster keluarga bahkan sudah memakan korban jiwa antarkeluarga

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariDok. Humas Polda Jateng

Kasus positif COVID-19 klaster keluarga juga terjadi di Jawa Tengah. Bahkan sampai memakan korban jiwa. Warga Kampung Brobahan di Kelurahan Kranji RT 04 RW 04 Kecamatan Purwokerto Timur heboh setelah pemerintah Kabupaten Banyumas menerapkan micro lockdown atau penutupan akses berskala kecil, mulai 6 Agustus 2020 lalu. Pemkab Banyumas menutup lalu lintas satu RT tersebut lantaran satu dari tiga pasien virus positif corona (COVID-19) klaster keluarga di wilayah itu meninggal dunia.

“Ini ada kaitannya dengan yang di Purwosari. Dulu kami informasikan yang di Purwosari ada dua, kemudian kami lacak nah ini hasil tracing ada empat yang di Kampung Brobahan,” kata Bupati Banyumas, Achmad Husein melalui video yang diunggah ke akun media sosialnya.

Penemuan kasus COVID-19 yang menimpa empat orang dalam satu keluarga di kampung tersebut bermula dari kasus di Desa Purwosari, Kecamatan Baturraden, Banyumas. Seorang warga Desa Purwosari terkonfirmasi positif COVID-19 setelah bepergian dari Jawa Timur pada 30 Juni 2020.

Pria berinisial GS(63) terkonfirmasi positif virus corona sepulang dari Jawa Timur. Ia kemudian dirawat di RSUD Margono setelah dirujuk dari RSU Bunda, tanggal 21 Juli 2020.

GS datang dengan gejala sesak nafas dan batuk yang memberat tak kunjung sembuh. Sebelumnya, GS juga sempat berobat di Puskesmas pada 12-15 Juli 2020 dan ke dokter praktik pribadi.

GS meninggal pada 23 Juli 2020 pukul 12.06 WIB. Sebelumnya, ibu GS meninggal dunia tetapi belum terkonfirmasi virus corona.

“Itu belum terkonfirmasi positif virus corona, meninggalnya lebih dulu tapi nggak diperiksa swab karena tidak dicurigai COVID-19. Entah positif entah negatif kami tidak tahu karena tidak di- swab ,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, Sadiyanto.

Setelah kasus Purwosari mengemuka, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menelusuri orang-orang yang masuk ke dalam daftar kontak erat pasien. Tim medis kemudian mengambil sampel swab dari kontak erat yang diperoleh. Salah satunya adalah adik GS.

Dari hasil tes swab, ditemukan empat orang anggota keluarga yang tinggal di Kampung Brobahan, Kelurahan Kranji positif COVID-19. Mereka dirawat di RSU Elisabeth.

Nahasnya, suami adik GS meninggal dunia sedangkan adik GS bersama 2 anaknya sembuh.

“Case closed, semua pasien sidah dinyatakan sembuh dan hasil swab massal di kampung Brobahan, semua negatif virus corona,” ujar Sadiyanto.

Untuk mencegah kasus meluas, Pemkab Banyumas menerapkan lockdown berskala kecil. Hal tersebut agar petugas lebih leluasa menelusuri orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien.

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 juga memasang palang pintu di setiap pintu masuk menuju RT 4. Tak cuma itu, pada setiap pintu dijaga petugas Satpol PP dan Polresta Banyumas.

Sadiyanto menyebut total ada 111 orang yang menjalani tes swab. Semua hasil tes swab menunjukkan negatif virus corona.

“Setelah hasil keluar, lockdown kami buka kembali,” kata dia saat dihubungi .

7. Klaster keluarga merebak juga di negara lain

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Wakil Koordinator Sub Divisi Kebijakan dan Kajian Epidemiologi Gugus Tugas Jawa Barat Bony Wiem Lestari menyatakan meningkatnya kasus positif COVID-19 di beberapa wilayah salah satunya disebabkan munculnya klaster keluarga pada daerah tersebut.

“Ada penambahan kasus yang cukup banyak. Jadi, angka reproduksi efektifnya (Rt) juga naik. Kemudian, ada banyak klaster perkantoran yang sebetulnya mereka berkantor di Jakarta, kemudian menularkan ke anggota keluarga yang tinggal serumah. Jadi klaster rumah tangga (keluarga),” ucap Bony.

Menurut Bony, munculnya transmisi rumah tangga ( household transmission ) nyatanya tak juga terjadi di Indonesia. Hal itu juga menimpa sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Selandia Baru. Ia mengatakan pembatasan mobilitas masyarakat menjadi salah satu kunci serta solusi menekan potensi klaster keluarga.

Pelacakan kontak erat pun harus dijalankan secara masif. Bony menyatakan, isolasi maupun karantina mandiri wajib dilakukan pihak yang melakukan kontak erat sebelum hasil swab test keluar. Tujuannya agar sebaran SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, tak meluas.

“Kalau tidak cepat dilakukan tes, lacak, dan isolasi, kontak erat dari kasus positif berpotensi menjadi sumber penularan karena melakukan kegiatan di luar rumah. Selama mobilitas orang tidak bisa dibatasi, penularan akan terus terjadi dan sulit untuk dicegah,” ucapnya.

8. Penerapan protokol kesehatan sampai pembentukan satgas di lingkup kecil jadi kunci

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Bony menyatakan, masyarakat adalah garda terdepan melawan COVID-19. Banyak bukti ilmiah menunjukkan, penerapan protokol kesehatan efektif cegah penularan COVID-19. Penerapan protokol kesehatan dengan ketat di perkantoran, menurut Bony, harus dilakukan. Salah satunya dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 di perkantoran.

“Nantinya, Satgas COVID-19 memastikan karyawan yang masuk dalam keadaan sehat dan protokol kesehatan diterapkan dengan sebaik mungkin,” paparnya.

Bony menerangkan, idealnya perkantoran atau perusahaan atau bisnis apa pun yang masih ada pelayanan tatap muka atau kegiatan tatap muka, sebisa mungkin membentuk Satgas COVID-19 untuk memastikan setiap lokasi memiliki dan menerapkan protokol kesehatan.

“Skrining awal sebelum berangkat kerja dengan mengisi kuisioner singkat. Misalnya apakah hari ini ada gejala batuk, pilek, dan demam? Apakah ke kantor menggunakan transportasi umum atau pribadi, dan seterusnya. Intinya ada edukasi dan sosialisasi atau promosi kesehatan yang terus-menerus dari perusahaan kepada karyawan. Harapannya, semua orang paham dan beradaptasi dengan kebiasaan baru,” imbuhnya.

Baca Juga: Rapid Test Massal Gratis Empat Titik di Bandar Lampung Sepi Peminat

9. Masa liburan dan akhir pekan harus diwaspadai bersama akan transmisi virus corona

Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak DisadariANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan klaster keluarga tidak akan terjadi apabila masyarakat berdisiplin menerapkan protokol kesehatan, terutama pada masa-masa liburan panjang atau saat libur akhir pekan.

Wiku menyebut klaster keluarga tidak akan terjadi jika masyarakat serta mereka yang bekerja di tempat wisata menerapkan protokol kesehatan COVID-19 yang ketat.

“Ini (klaster keluarga) tidak akan terjadi apabila penyelenggara wisata hotel dan tempat wisata lainnya, termasuk orang-orang yang berwisata betul-betul menerapkan protokol kesehatan dengan ketat,” ujar Wiku.

Terjadinya kasus positif di lingkungan keluarga bisa dicegah sedini mungkin, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Wiku berharap agar disiplin protokol benar-benar diterapkan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga keluarga kita yang berisi orang-orang kita sayangi. Karena keluarga adalah segalanya, seperti lirik awal lagu Harta Berharga.

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Tim Penulis : Dhana Kencana, Dini Suciatiningrum, Teatrika Handiko Putri, Hana Adi Perdana, Sunariyah, Maya Aulia Aprilianti, Khaerul Anwar, Debbie Sutrisno, Rudal Afgani.