Ati-Sodikhin Soroti Isu Pengangguran di Cilegon

Masalah pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah, hampir di seluruh wilayah di Indonesia termasuk di Kota Cilegon. Keberadaan industri wilayah Kota Cilegon sejauh ini dinilai belum berbanding lurus dengan angka pengangguran.

Pasangan Calon Wali Kota dan Calon Wakil Wali Kota Cilegon nomor urut 2 Ratu Ati Marliati-Sokhidin memiliki program unggulan khususnya untuk menurunkan angka pengangguran.

Ratu Ati menegaskan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa di tahun 2019 tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Cilegon sebsear 9,64% dan di tahun 2020 meningkat menjadi 12,69% yang pada level Provinsi Banten, menempati urutan kedua setelah Kota Tangerang.

”Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap berbagai sektor perekonomian, sehingga bertambahnya angkatan kerja yang menganggur,” Ratu Ati di Kota Cilegon, Sabtu (21/11/2020).

Faktor utama yang menjadi penyebab hal tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari terbatasnya lapangan kerja, dengan karakteristik industri yang ada di Cilegon lebih bersifat padat modal, teknologi tinggi, dan didominasi oleh perusahaan asing yang berskala besar.

Selanjutnya, sumber daya utama ekonomi yang tersedia di Kota Cilegon ialah ekonomi non-ekstraktif, yaitu membutuhkan keahlian dan kompetensi spesifik. Karena itu Cilegon menghadapi persoalan terbatasnya tenaga kerja yang memiliki skill yang linear dengan kebutuhan pasar kerja industri padat modal, dan masih rendahnya jumlah entrepreneur di sektor ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan dunia digital.

Ratu Ati menjelaskan, ada beberapa langkah untuk mengatasi masalah pengangguran di Kota Cilegon yakni pertama, meningkatkan kemudahan berinvestasi melalui proses perizinan yang terintegrasi di mal pelayanan publik.

Kedua, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, melalui program pelatihan bersertifikasi standar nasional dengan pola vocational training dan perluasan beasiswa perguruan tinggi dengan sharing pendanaan antara pemerintah dan dunia usaha, dengan sasaran siswa-siswa lulusan sekolah menengah yang memiliki prestasi yang baik.

“Terkait hal ini perlu diperkuat dengan regulasi yang mengatur tentang peran masing-masing stakeholder dalam peningkatan kompetensi tenaga kerja daerah,” ujarnya.

Program ketiga, lanjut Ratu Ati, yakni meningkatkan kewirausahaan dan daya saing usaha mikro kecil, melalui training kewirausahaan dan memfasilitasi peningkatan daya saing produk (perizinan, kemasan), pemasaran ( digital marketing) , serta permodalan disertai dengan pendampingan usaha yang berkelanjutan.

“Perlu kami sampaikan bahwa dari tahun 2002 hingga tahun 2020 pemerintah daerah telah mengalokasikan perguliran modal sebanyak Rp4,68 miliar, untuk 2.576 perintisan usaha serta Rp28,7 miliar, untuk 6.396 penguatan usaha, dengan NPL hanya sebesar 2,1%,” ujarnya.

Program keempat, menumbuhkan ekonomi kreatif melalui optimalisasi event-event wisata berkarakteristik lokal (antara lain Golok Day, Panjang Mulud, Cilegon Ethnic Carnival, Krakatau Sail, serta event-event seni budaya lokal) serta wisata alam berkarakteristik lokal (antara lain wisata Kampung Cipala, Griye Budaye Lingkungan Penauan serta wisata agro Cikerai).

Kompetensi tenaga kerja yang harus disiapkan antara lain kompetensi tenaga kerja yang memiliki skill yang dibutuhkan oleh pasar kerja, baik dari sisi soft skill (mental, karakter) maupun hard skill (kemampuan teknis), yang dihasilkan dari kolaboratif program pelatihan antara antara Pemerintah, dunia usaha dan dunia akademik.

“Selain itu, kompetensi kewirausahaan/ enterpreuneurship yang dapat diperoleh secara mudah melalui workshop-workshop di setiap kecamatan sebagai pusat pelatihan kewirausahaan,” pungkasnya.

Empat Program Ekonomi Ati-Sokhidin
Untuk meminimalisir angka pengangguran di Kota Cilegon dapat dilakukan dengan pemantapan ekonomi daerah yang mandiri melalui program 4E. Program 4E itu, kata Ratu Ati, meliputi ekonomi kerakyatan, ekonomi kreatif, ekonomi bisnis dan ekonomi digital.

Pertama, penguatan ekonomi kerakyatan dengan arah program dan target strategis berupa pemantapan ketahanan pangan dan ternak melalui optimalisasi sumber daya manusia dan teknologi pertanian-peternakan yang tertuang dalam program Agro Cilegon Sukses.

Selain itu, pemantapan ketahanan bahari melalui program nelayan Cilegon sukses dan peningkatan daya beli masyarakat melalui pengembangan pasar rakyat dan peningkatan manajemen city logistic.

Kedua, menumbuhkembangkan ekonomi kreatif dengan arah program dan target strategis berupa peningkatan dan pengembangan produk UMKM dengan standar ekspor, meningkatan dan pengembangan promosi, branding dan marketing industri kreatif melalui Cilegon Creative Hub.

“Kita juga akan pembangunan youth centre sebagai pusat riset, edukasi dan pengembangan UMKM di Cilegon, serta peningkatan industri pariwisata melalui pengembangan nature tourism, eco-tourism, cultural-sport tourism dan peningkatan jumlah event tahunan berlandaskan kearifan lokal, komunitas milenial dan festival keagamaan,” katanya.

Ketiga, ekonomi bisnis dengan arah program dan target strategis yakni peningkatan iklim investasi yang produktif, aman, dan transparan, serta peningkatan integrasi investasi dengan pemberdayaan sumber daya lokal.

Keempat, ekonomi digital dengan arah program dan target strategis berupa pembangunan dan pengembangan industri digital melalui Cilegon Digital Park yang meliputi pengembangan startup, website, aplikasi, program-program digital, film dan animasi kreasi masyarakat.

“Pengembangan program 4E ini merupakan sebuah langkah strategis yang kami buat untuk menjadi sebuah jawaban atas berbagai macam permasalahan perekonomian masyarakat Kota Cilegon,” kata Ratu Ati Marliati.

Berita terkait: