Published On: Ming, Jun 14th, 2015

Kisah Mistis Goa Langse

Share This
Tags

image

Jakarta,IJN.CO.ID- Nuansa magis dan sakral kental terasa manakala menginjakkan kaki di sekitar Goa Langse yang terletak di kaki tebing sekitar Pantai Parangtritis. Tak terhitung nyawa orang yang melayang di goa ini, paling up to date adalah tewasnya Subandi (50) dukun asal Tambakharjo, Jrakah, Semarang Barat yang terjatuh ke jurang sedalam 400 meter seusai mengantarkan Lambok Manggiring Sinaga, caleg PKPI yang maju dari daerah Semarang.

Kenapa orang tertarik berbondong-bondong tetirah, nyekar, ziarah semedi atau bermacam ritual lainnya dalam Goa Langse. Sebab Goa Langse diyakini sebagai salah satu keratonnya Kanjeng Ibu Ratu Kidul. Oleh sebab itu goa ini merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh para raja Mataram. Di goa ini konon pernah bersemedi pula Syekh Siti Jenar, Syech Maulana Maghribi, Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati maupun Sunan Kalijaga.

Tempat pertemuan dua penguasa dari alam yang berbeda itu dikenal dengan nama Goa Langse. Goa ini termasuk dalam wilayah administratif Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul. Goa yang hingga kini dikenal sebagai tempat semadi atau “nenepi” itu jaraknya sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Yogyakarta. Setiap hari selalu ada orang yang mendatangi tempat ini dengan maksud memanjatkan doa agar memperoleh keberhasilan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Pada saat tertentu seperti malam Selasa dan Jumat Kliwon, pengunjung Goa Langse lebih banyak lagi jumlahnya rata-rata mencapai 30 orang.

pada bulan Sura waktu yang dipercayai sebagai bulan berkah bagi masyarakat Jawa, pengunjungnya bisa mencapai 70 orang setiap harinya. Perjalanan menuju Goa Langse terbilang cukup mengasyikkan. Setelah berjalan kaki sekitar 150 meter melintasi hamparan ladang dan perkebunan pohon jati, pengunjung akan sampai di “plawangan” atau bibir tebing dengan batu-batu besar di bawahnya terhampar lautan biru yang luas, Pantai Parangtritis yang terletak di sebelah utara Goa Langse terlihat dari “plawangan”. Di bawah salah satu batu besar di bibir tebing ini terdapat sisa-sisa bunga, menandakan sering digunakan untuk tempat bersemadi atau berdoa.

Menurut penuturan Aris Sukamto dan Sagiyanto juru kunci yang kerap mengantarkan pelaku spiritual yang berkunjung ke Goa Langse, diketahui bahwa tujuan para peziarah bermacam-macam. “Yang jelas berdoa, nenuwun kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tujuannya tercapai lantaran tempat ini. Mereka percaya berdoa dari dalam Goa Langse itu mustajab,” katanya.

Ditambahkan Aris ketenaran Goa Langse berawal dari kisah Dewi Nawangwulan, “Dewi Nawangwulan adalah bidadari dari kahyangan. Kala itu bersama kakak-kakaknya mandi di Sendang Beji yang ada di Girijati,” kisahnya mengawali cerita.

Alkisah, kala bidadari mandi tersebut, Kidang Telangkas atau yang lebih dikenal dengan nama Jaka Tarub melihatnya. Tahu banyak wanita cantik mandi, tergerak hatinya untuk menyembunyikan seperangkat pakaian yang ternyata milik Dewi Nawangwulan. Saat selesai mandi Dewi Nawangwulan menangis sebab teman-temannya bisa kembali mengangkasa dan pulang ke kahyangan sedangkan Dewi Nawangwulan tidak bisa, “Karena kamanungsan (ketahuan manusia) maka oleh Sang Hyang Wenang Dewi Nawangwulan dijatuhi sabda untuk menjadi Ratu-nya Pantai Selatan dan berjuluk Kanjeng Ibu Ratu Kidul dan salah satu keratonnya ya ada di Goa Langse ini,” tuturnya.

Sagiyanto menambahkan, “Karena dianggap keramat, maka dahulu Syech Maulana Malik Maghribi, Syech Siti Jenar, Kanjeng Sunan Kalijaga dan Panembahan Senopati pernah bertapa bersama-sama disini dan mengharap keselamatan, kesejahteraan serta kemuliaan seluruh kawula kala itu. Maka yang berdatangan kesini biasanya ngalap berkah dari para leluhur itu. Masalah terkabul atau tidaknya itu urusan Allah SWT. Anda percaya silahkan, tidak juga nggak masalah,” pungkasnya.(solihin)