Terancam Punah, ini Pentingnya Keberadaan Mangrove Bagi Ekonomi Indonesia

Ekosistem mangrove memiliki banyak kontribusi pada kesejahteraan, ketahanan pangan, dan perlindungan masyarakat. Khususnya bagi komunitas pesisir karena mendukung sektor perikanan nasional.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Konservasi Perairan dan Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Andreas H. Hutahaean, mengatakan ekosistem mangrove, padang lamun dan rawa pasang surut telah bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan, beberapa tahun belakangan ekosistem ini diakui dunia internasional banyak menyerap dan menyimpan emisi karbon.

“Dalam beberapa tahun terakhir (ekosistem mangrove) telah diakui secara Internasional atas kemampuannya yang signifikan dalam menyerap dan menyimpan emisi karbon dioksida (CO2), yaitu blue carbon (karbon biru),” kata Andreas, dalam webinar dengan topik ‘Blue Carbon Initiatives in IORA’, Jakarta , Rabu (2/9).

Andreas menjelaskan, Ekosistem Mangrove dan blue carbon ini sangat penting keberadaannya di sepanjang pantai dunia. Sebab, mangrove mendukung kualitas air, pelindung garis pantai, perikanan yang sehat, dan memberikan perlindungan terhadap banjir dan badai.

Diperkirakan mangrove berkontribusi dalam mendukung mata pencaharian pesisir dan populasi manusia di seluruh dunia senilai USD 1,6 miliar. Namun, terlepas dari itu, ekosistem ini merupakan salah satu ekosistem yang paling terancam akibat konversi, industri, budidaya perairan, dan pembangunan infrastruktur.

Pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer yang berkontribusi pada efek pemanasan global dan perubahan iklim. Untuk itu, diperlukan kesadaran akan pentingnya keberadaan ekosistem ini.

“Diperlukan kesadaran pentingnya ekosistem mangrove sebagai ekosistem yang unik, khusus dan rentan,” kata dia.

1 dari 1 halaman

Salah satunya melalui IORA Indian Ocean Blue Carbon Hub, dengan membangun pengetahuan dan kapasitas yang relevan. Tujuannya untuk melindungi dan memulihkan ekosistem karbon biru, termasuk ekosistem mangrove.

Adapun beberapa tujuan spesifikasinya yakni menyediakan platform virtual sebagai tempat pemangku kepentingan terkait dapat berdiskusi tentang peluang dan tantangan terkait konservasi dan pemulihan ekosistem karbon biru. Lalu sebagai tempat berbagi informasi tentang inisiatif IORA saat ini dan IORA Blue Carbon Hub.

Kemudian, berbagi pengalaman dan informasi tentang hasil dan tindak lanjut peristiwa karbon biru IORA sebelumnya meningkatkan kesadaran tentang perlindungan dan pemulihan ekosistem karbon biru.

“Serta menjajaki jalan ke depan untuk lebih memajukan pembangunan di sektor ini serta meningkatkan visibilitas IORA dan inisiatif karbon biru,” kata dia mengakhiri.

[bim]

Baca juga:
RI Perlu Investasi Rp 3.500 Triliun Turunkan Emisi Karbon 314 Juta Ton di 2030
Proses Pembuatan Biodiesel Potensi Ciptakan Emisi Tinggi
Turunkan Emisi Karbon, Indonesia Terima Rp812 M dari Norwegia
Kontribusi Lingkungan Nissan LEAF, Mobil Listrik Massal Pertama di Dunia
Isuzu Siap Terapkan Standar Euro 4 dan Masa Depan Mesin Diesel di Indonesia
Menteri Arifin: Emisi Karbon Jakarta Tertinggi di Asia Tenggara
Mobil Lebih Ringan, Emisi Karbon Berkurang

Berita terkait: