Telepon Kanselir Jerman, Presiden China ajak kerja sama vaksin

Meningkatkan kerja sama China-Jerman dan China-EU dapat membuahkan hasil yang signifikan Beijing – Presiden China Xi Jinping menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Jerman dalam mendukung distribusi vaksin yang rasional sehingga bisa membantu negara-negara berkembang mendapatkannya dengan mudah.

“Vaksin itu digunakan untuk mencegah penyakit dan menentang politisasi atau nasionalisme vaksin. China siap bekerja dengan Jerman dan komunitas internasional secara keseluruhan untuk mendukung distribusi vaksin,” kata Presiden Xi saat melakukan percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Rabu (7/4).

Dalam kesempatan itu, Xi mendorong Jerman dan Uni Eropa bersama-sama dengan China melindungi dan mendukung peningkatan kemitraan yang sehat dan stabil demi terciptanya stabilitas global.

Baca juga: VW impor peralatan medis China senilai 40 juta euro untuk Jerman
Baca juga: Jerman benarkan kasus ketujuh virus corona

“Meningkatkan kerja sama China-Jerman dan China-EU dapat membuahkan hasil yang signifikan,” kata Xi.

Ia berharap kedua belah pihak bisa saling mendukung kerja sama di segala sektor yang dilandasi semangat saling menghormati dan saling menguntungkan untuk membantu membangkitkan kepercayaan dalam kerja sama China-EU dan revitalisasi ekonomi dunia.

Tahun depan kedua belah pihak akan memperingati 30 tahun hubungan diplomatik.

Xi berharap pada tahun depan pula ajang Olimpiade Musim Dingin yang digelar di Beijing menjadi kesempatan bagi kedua negara untuk bekerja sama dalam bidang iptek, pendidikan, budaya, dan olahraga.

Sementara itu, Kanselir Merkel menanggapi bahwa untuk mengatasi tantangan dunia, maka kedua belah pihak harus meningkatkan dialog dan kerja sama yang memberikan keuntungan bagi keduanya dan dunia.

“Pemerintah Jerman siap memulai negosiasi babak baru dengan China untuk memulihkan perjalanan internasional antarkedua negara dan juga ingin memperkuat kerja sama di berbagai bidang dengan China, seperti penanganan COVID-19 dan distribusi vaksin,” ujar perempuan pemimpin Jerman itu.

Sebelumnya, China dan EU terlibat saling balas sanksi terkait dengan isu Xinjiang.

Akademisi Jerman Adrian Zenz termasuk salah satu individu yang terkena sanksi berupa larangan memasuki wilayah China, Hong Kong, dan Makau. 

Baca juga: China salip Jerman sebagai negara surplus transaksi berjalan terbesar
Baca juga: Kasus flu babi, Jerman minta China terapkan larangan impor terbatas

Berita terkait: