Siswa Diminta Bawa Bekal Selama Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka di Jakarta

Uji coba pembelajaran tatap muka di Jakarta dimulai hari ini, Rabu (7/4) dan akan dilaksanakan hingga 29 April mendatang. Jumlah peserta didik juga dibatasi maksimal 50 persen karena mereka harus menjaga jarak 1,5 meter.

Sehingga, sekalipun jumlah murid yang diizinkan mengikuti pembelajaran tatap muka hanya 25 persen, sekolah tetap diperbolehkan melaksanakan tatap muka. SMKN 28 Jakarta Selatan misalnya. Jumlah murid yang mengikuti sekolah tatap muka hanya 25 persen.

“Jumlah murid yang mengikuti pembelajaran tatap muka totalnya 25 persen. Sebelum pandemi dalam satu kelas 36 orang, tapi sekarang hanya 8 orang saja,” kata Wakil Kurikulum SMKN 28 Tri Retnowati saat ditemui di SMKN 28, Jakarta Selatan, Rabu (7/4)

Seperti yang diketahui, pihak sekolah harus mendapatkan izin dari orang tua murid untuk bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Tri mengatakan, sekolah bersikap terbuka dengan pilihan orang tua murid. Karena orang tua lah yang sangat memahami kondisi kesehatan anaknya. Selain itu, menurutnya yang utama adalah kesehatan peserta didik.

“Siswa yang hadir yang sehat saja, kita cek suhu tubuh juga di pintu gerbang. Kesehatan yang utama, apalagi musim hujan. Tadi ada beberapa yang kehujanan, mereka boleh ganti baju, tidak pakai baju praktik. Boleh pulang juga kalau mau pulang,” ujarnya.

Selain itu, sekolah juga tidak membuka kantin. Peserta didik juga diimbau untuk membawa makanan dari rumah. Imbauan tersebut bertujuan agar anak-anak makan makanan yang sehat dan bergizi. Untuk itu, kata dia, selama uji coba sekolah tatap muka ini, guru harus bekerja sama dengan orangtua untuk memastikan anaknya aman dan sehat di sekolah.

“Kantin belum dibuka, mereka harus bawa bekal (makanan) dari rumah masing-masing. Harus pakai masker dari rumah, tapi kita sediakan juga,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan masker yang disiapkan di SMKN 28 adalah masker KN95, selain itu terdapat sarana mencuci tangan mulai dari gerbang utama hingga di setiap lorong/ koridor sekolah. Hand sanitizer juga disiapkan di setiap kelas. Para guru dan tenaga pendidik lainnya juga menggunakan face shield.

Durasi kegiatan belajar mengajar juga dibatasi hanya 4 jam. Seperti yang diketahui, sebelum pandemi Covid-19, sebagian besar sekolah menengah atas di Jakarta melaksanakan pembelajaran hingga 8 jam. Sebelum pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar SMKN 28 dimulai pukul 06.30 hingga 15.00 WIB, namun saat ini pembelajaran dimulai pukul 07.00 hingga 11.00 WIB.

Persiapan sarana dan prasarana pembelajaran tatap muka ini, kata Tri sudah disiapkan sejak bulan November 2020. Sekolah harus melewati dua tahap test untuk bisa membuka sekolah. Selain itu, bukan hanya guru, orangtua dan peserta didik juga harus mengikuti pelatihan blended learning, yakni pembelajaran secara online dan offline.

“Sejak bulan November sudah dipersiapkan. Soalnya kan harus lolos assessment test 1 dulu, kalau sudah, ada lagi assessment test 2. Siswa, orangtua, dan kami para guru harus mengikuti pelatihan blended learning,” ujarnya.

Sebagai informasi, tidak semua sekolah lolos penilaian pembelajaran tatap muka ini. Hanya ada 85 sekolah di Jakarta yang lolos. Kriteria penilaian mencakup sarana dan prasarana protokol kesehatan di sekolah, hingga kondisi kesehatan guru dan tenaga pendidik lainnya.

Berita terkait: