Sekolah Tatap Muka di DKI, PSI: Kepentingan Anak Harus Jadi Nomor Satu

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melakukan uji coba sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka di 85 sekolah di Jakarta. Selama satu bulan ke depan, sekolah terpilih dari berbagai tingkatan SD – SMP- SMU hingga SMKN terpilih akan melakukan kelas tatap muka dengan aturan protokol kesehatan tetap.

Memantau langsung pelaksanaan di SD 05 Petojo Utara, SD 07 Cideng dan SMKN 2 Jakarta, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengingatkan agar kepentingan anak didahulukan.

“Pemerintah harus bisa memastikan kualitas sekolah jarak jauh setara dengan sekolah tatap muka. Pendidikan anak memang terutama tetapi kesehatan tidak boleh diabaikan apalagi belum ada vaksin untuk anak,” ujar Ketua Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta Idris Ahmad usai mengunjungi sekolah pelaksana uji coba.

BACA JUGA

Pemprov DKI Gencarkan Sosialisasi Agar Orang Tua Izinkan Anak Sekolah Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka, kata Idris, harus diimbangi oleh disiplin protokol kesehatan yang ekstra untuk menghindari terbentuknya klaster sekolah. Selain memastikan seluruh guru dan pegawai sekolah sudah divaksinasi dua kali bahkan jika perlu orang tua anak bisa divaksinasi juga, sekolah juga harus bisa memantau kedisiplinan siswa melaksanakan protokol kesehatan.

Terakhir, menurut Idrid, sekolah juga harus mampu berkoordinasi dengan pihak Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kelurahan maupun Satpol PP, untuk memantau pelaksanaan protokol kesehatan oleh siswa seusai sekolah, di lingkungan masing-masing.

“Tingkat kedisiplinan siswa bahkan juga guru berbeda-beda harus bisa disesuaikan, yang disiplin bisa ikut sekolah tatap muka, yang belum siap bisa fokus belajar jarak jauh,” tandas Idris.

BACA JUGA

Mendikbud Pastikan Vaksinasi Guru di Daerah Dipercepat

Sekolah juga harus membantu proses kedisiplinan dengan memperbanyak poster imbauan protokol kesehatan terkait 3M serta menyediakan hand sanitizer beserta isi ulangnya di berbagai tempat di sekolah, khususnya toilet yang rentan penyebaran virus karena dipakai bersama.

Idris menambahkan pembelajaran tatap muka baru akan berhasil apabila ada komunikasi aktif antara sekolah, siswa, dan orang tua. Karenanya ia mendorong orang tua untuk tidak perlu ragu memberikan ataupun mencabut izin bagi anaknya untuk mengikuti sekolah tatap muka bila aturan yang diterapkan di sekolah tidak memadai.

“Kami menyadari sekolah tatap muka dibutuhkan karena banyak keluhan dari pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) namun kepentingan anak harus jadi nomor satu,” imbuhnya.

BACA JUGA

Izin Orang Tua Tetap Jadi Faktor Penentu Anak Ikut Sekolah Tatap Muka

Hasil uji coba ini nantinya akan menjadi tolok ukur pelaksanaan sekolah tatap muka pada tahun ajaran baru 2021/2022, namun Idris meminta agar sekolah tidak gegabah dan terburu-buru dalam menjalankan sekolah tatap muka karena kualitas sekolah tidak ditentukan dari apakah sekolah tersebut bisa menjalankan pembelajaran tatap muka atau sepenuhnya masih pembelajaran jarak jauh.

Berita terkait: