Pengusaha Minta Pemerintah Beri Insentif Perusahaan Pekerjakan Penyandang Disabilitas

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi B. Sukamdani, meminta pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan pekerja disabilitas. Tujuannya untuk lebih memaksimalkan dan meluaskan implementasi ketenagakerjaan inklusif di tempat kerja dan memberikan apresiasi atas keterlibatan dunia usaha selama ini.

“Dalam undang-undang nomor 8 tahun 2016 sebenarnya telah diatur tentang insentif yang seharusnya diberikan oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kepada perusahaan yang telah mempekerjakan pekerja disabilitas,” kata Hariyadi dalam Dialog Interaktif Ketenagakerjaan Inklusif Bersama Menteri Ketenagakerjaan, Rabu (24/2).

Oleh karena itu, Apindo berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah untuk dapat merealisasikan ketentuan tersebut.

“Isu disabilitas merupakan isu yang besar, WHO dalam world report on disability tahun 2011 memperkirakan jumlah disabilitas 15 persen dari total populasi, yang menjadikan disabilitas sebagai kelompok minoritas terbesar di dunia,” katanya.

Dalam WHO global disability action plan 2014-2021, ketenagakerjaan juga menjadi bagian yang penting. Oleh karena itu, banyak negara yang mendorong para pengusahanya untuk menerapkan kebijakan kesetaraan inklusivitas ini dengan memberikan insentif-insentif.

Misalnya di Amerika serikat terdapat work opportunity tax credit yaitu tax kredit untuk mempekerjakan pegawai dengan kualifikasi tertentu, salah satunya disabilitas. Terdapat juga disabled access credit yaitu kredit untuk usaha kecil yang mengeluarkan biaya tertentu dalam memberi akses kepada disabilitas.

“Selain itu bagi pengusaha yang menghilangkan hambatan akses fisik dan transportasi bagi disabilitas juga mendapatkan architectural barrier removal tax deduction , di China dan Malaysia tax deduction juga diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan disabilitas,” ujarnya.

Itulah sebagian contoh kecil dari apa yang sudah dilakukan perusahaan-perusahaan dan contoh-contoh lain, dalam upaya membangun iklim yang aktif dan akseleratif dalam pembangunan Ketenagakerjaan inklusif.

“Kami sendiri akan mulai menggagas adanya desk khusus untuk Ketenagakerjaan inklusif di kantor dewan, agar bisa memberikan layanan informasi terkait Ketenagakerjaan inklusif dari seluruh perusahaan yang membutuhkan informasi tersebut,” pungkasnya.

500 Perusahaan Apindo Telah Terapkan Program Kesetaraan dan Inklusivitas

apindo telah terapkan program kesetaraan dan inklusivitas

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi B. Sukamdani, mengatakan hingga kini tercatat 500 perusahaan anggota Apindo yang telah menjalankan program kesetaraan dan inklusivitas di tempat kerja. Apindo bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan USAID Mitra Kunci telah mengembangkan dan melaksanakan program ketenagakerjaan inklusif di tempat kerja sejak 2019.

“DPN Apindo bersama-sama Kementerian Ketenagakerjaan dan USAID Mitra Kunci mencatat setidaknya sudah ada lebih dari 500 perusahaan anggota APINDO yang terlibat melalui berbagai macam aktivitas,” kata Hariyadi dalam Dialog Interaktif Ketenagakerjaan Inklusif Bersama Menteri Ketenagakerjaan, Rabu (24/2).

Program ini juga telah menghasilkan panduan yang dikembangkan oleh perusahaan untuk perusahaan, yaitu Buku Panduan Kesetaraan dan Inklusivitas di Tempat Kerja dan Buku Modul Pelatihan Tim Fasilitator Penerapan Kesetaraan dan Inklusivitas di Tempat Kerja.

“Pada September yang lalu DPN Apindo bersama-sama Kementerian Ketenagakerjaan dan USAID mitra Kunci telah meluncurkan buku panduan kesetaraan dan inklusivitas di tempat kerja yang dihadiri 200 perusahaan anggota Apindo,” ujarnya.

Menurutnya, peluncuran buku telah membuka wawasan serta memulai langkah konkret dalam upaya menerapkan konsep kesetaraan dan inklusivitas di tempat kerja. Setelah itu Apindo mencatat akselerasi yang signifikan, dalam upaya menerjemahkan konsep kesetaraan dan inklusivitas di tempat kerja.

Adapun beberapa perusahaan juga telah mensosialisasikan buku panduan tersebut kepada grup dan anak perusahaannya masing-masing seperti yang sudah dilakukan oleh Kawasan industri, grup bank BCA, Accor hotel group, Perhimpunan HRD provinsi Jawa Tengah dan dan selanjutnya akan diikuti PT Kalbe Farma dan beberapa Kawasan industri di beberapa wilayah.

“Harapan kami setelah kegiatan ini akan semakin banyak perusahaan yang menerapkan kesetaraan dan inklusivitas di tempat kerja,” katanya.

Dia menegaskan, program ini bertujuan untuk mendorong dunia usaha mempraktikan ketenagakerjaan inklusif, dengan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan produktif. Serta membuka peluang yang setara kepada penyandang disabilitas untuk dapat berkarya dan menjadi bagian esensial dari Sumber Daya Manusia (SDM) baik di perusahaan maupun tingkat nasional.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

Baca juga:
Kakek Difabel di Payakumbuh Bawa Uang Rp82 Juta dalam Karung, Butuh 2 Hari Menghitung
Kakek Sebatang Kara Bikin Kaget, Ditemukan Karung Isi Rp90 Juta di Rumahnya
Stafsus Jokowi Puji Kapolri Beri Kesempatan Disabilitas Jadi ASN
Tunanetra Bersaudara di Palestina Bertahan Hidup dengan Membuat Rajutan
Perjuangan Petani di Manggarai Timur Demi Sembuhkan Anak dari Kelumpuhan
Keterbatasan Fisik Tak Membuatnya Berbeda
Semangat Kurir Disabilitas Bersepeda Roda Tiga di Kongo

Berita terkait: