Pengungsi Merapi Akan Jalani

Hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Sleman, telah masuk zona merah Covid-19 , sedang Moyudan, Seyegan, Ngemplak, Sleman, Turi masuk dalam zona oranye.

Sementara, lokasi pengungsian Merapai yakni Desa Glagaharhjo, masih merupakan zona hijau.

Namun, untuk mengantisipasi penularan virus corona pada pengungsi Merapi yang rata-rata merupakan kelompok rentan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, segera akan menggelar rapid test antigen kepada seluruh pengungsi, relawan dan petugas yang berada di lokasi pengungsian Merapi.

BACA JUGA

Cegah Covid-19, Donatur dan Relawan Dilarang Masuk ke Barak Pengungsian Merapi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo mengatakan belum lama ini Pemkab Sleman mendapat bantuan bahan rapid tes antigen dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kita dapat bantuan 2.500 rapid test antigen, nantinya akan digunakan untuk melihat ada tidaknya penularan Covid-19 di pengungsian. Yang menjadi sasaran adalah pengungsi, relawan, dan petugas di Balai Desa Glagaharjo,” ujar Joko, Minggu (22/11/2020).

Joko mengungkapkan, meskipun Kapanewon (Kecamatan) Cangkringan masuk dalam zona merah, namun Kalurahan Glagaharjo masih zona hijau.

Dikatakan, penambahan kasus Covid-19 di Kecamatan Cangkringan berada di Kelurahan Argomulyo (satu kasus) dan Kalurahan Kalurahan Wukirsari (dua kasus). Wilayah tersebut memang berdekatan dengan wilayah lain yang masih berada di zona hijau yakni Glagaharjo, Kepuharjo dan Gayamharjo, dan Umbulharjo.

Barak pengungsi yang juga dibuka di Gayamharjo Kalurahan Argomulyo juga merupakan zona hijau, sebab kasus yang ditemukan di Argomulyo bukan terjadi di Gayam dan cukup jauh dari barak pengungsian.

Sebelumnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman telah melakukan rapid tes bagi relawan dan petugas di pengungsianBalai Desa Glagaharjo.

RS Rujukan Penuh
Sementara itu, di Kabupaten Kulonprogo, ruang isolasi Covid-19 di rumah sakit rujukan RSUD Wates dan RS Nyi Ageng Serang (NAS) Sentolo telah penuh.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Baning Rahayujati, pada Minggu (22/11/2020) membenarkan bahwa ruang isolasi di RSUD Wates yang kapasitasnya 20 kamar telah terisi semua. Sedang di RS NAS, empat kamar juga sudah penuh.

Sementara, ruang isolasi di Rumah Singgah Teratai (RST), Kompleks RSUD Wates dari kapasitas 20 ruang, hanya tinggal delapan.

“Kami sangat selektif memilih pasien karena RST hanya dikhususkan bagi pasien yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumah,” ujarnya.

Dikatakan, pihak RS sedang berupaya menambah ruang isolasi baru guna mengantisipasi lonjakan jumlah penderita di Kulonprogo.

Diketahui, dalam seminggu terakhir terjadi lonjakan jumlah pasien positif Covid-19 di Kulonprogo. Sehak Minggu (15/11/2020), terjadi penambahan 4 kasus baru dan 1 kasus sembuh. Sehari kemudian atau Senin (16/11/2020), bertambah dua kasus baru dan tiga kasus sembuh.

Pada Selasa (17/11/2020) bertambah 36 kasus baru; Rabu (18/11/2020) 10 kasus, Kamis (19/11/2020) 7 kasus; Jumat (20/11/2020) 16 kasus baru dan dua kasus sembuh, sedang Sabtu (21/11/2020) bertambah 27 kasus baru, Minggu (22/11/2020) bertambah 38 kasus.

Dikatakan Baning Rahayujati, penambahan kasus dalam satu Minggu terakhir, berasal dari Klaster Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kulonprogo, penularan keluarga, dan warga yang baru pulang datang dari luar daerah atau pelaku perjalanan.

BACA JUGA

Merapi Siaga, Pengungsi Lansia Mulai Mengeluh Pusing dan Gangguan di Lambung

Sedang di tingkat provinsi, juru bicara Pemda DIY, Berty Murtingsih melaporkan pertambahan kasus baru di DIY sebanyak 77 kasus.

Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di DIY menjadi 5.137 kasus.

“Kasus baru merupakan hasil pemeriksaan dari 803 sampel atau 797 orang, dan kasus tertinggi hari ini berasal dari Kulonprogo, yakni 38 kasus, disusul Sleman dengan 26 kasus, 6 kasus di Kota Yogya, 6 kasus di Bantul dan 1 dari Gunungkidul,” terangnya.

Berita terkait: