Penanganan Darurat Bencana di NTT, BNPB Kerahkan Enam Helikopter

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan enam helikopter guna penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 12 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengerahan helikopter tersebut sesuai arahan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo di Lembata, Flores, NTT, Selasa (6/4/2021).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, Rabu (7/4/2021) mengatakan, enam helikopter tersebut adalah MI-8 dengan daya angkut delapan ton yang direposisi dari Kalimantan Barat dan Kamov 32A dengan daya angkut lima ton yang direposisi dari Riau.

BACA JUGA

Update Bencana Alam di NTT, BNPB: 124 Orang Meninggal dan 74 Hilang

“Kemudian, EC-115 berkapasitas 12 tempat duduk, AW199 berkapasitas 7 tempat duduk, helikopter jenis Bell 412EP dengan kapasitas 12 tempat duduk, dan AS-365 berkapasitas 11 tempat duduk,” ujar Raditya Jati.

Sebagaimana perintah Kepala BNPB, helikopter tersebut akan difungsikan untuk mendistribusikan logistik dan peralatan di lokasi yang terisolasi setelah akses transportasi terputus akibat longsor maupun akses penyeberangan laut yang tidak memungkinkan akibat gelombang tinggi.

Selain itu, helikopter tersebut juga difungsikan guna mengakomodasi para warga yang membutuhkan pertolongan darurat, terutama kelompok rentan, sekaligus untuk mengangkut tim medis yang ditugaskan di posko penanganan darurat.

Sebagaimana diketahui, percepatan penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 12 kabupaten/kota di NTT masih mengalami beberapa kendala teknis, seperti akses terputus hingga faktor cuaca buruk. Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB, wilayah yang masih belum dapat diakses sepenuhnya meliputi Kabupaten Malaka, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Lembata.

BACA JUGA

BMKG: Informasi Akan Terjadi Tsunami Besar di NTT Tidak Benar

Adapun akses darat menuju wilayah Kabupaten Malaka masih terputus akibat longsor, kemudian Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata juga belum sepenuhnya dapat diakses mengingat gelombang laut masih tinggi sehingga harus menggunakan moda transportasi udara.

Di sisi lain, tim di lapangan juga melaporkan kondisi Kota Kupang. Saat ini listrik belum sepenuhnya pulih dan sinyal jaringan telekomunikasi selular juga masih dalam kendala. Sejumlah pohon dan tiang papan reklame dilaporkan tumbang dan sempat menutup beberapa akses jalan.

Sementara itu, beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih belum beroperasi karena bangunan mengalami kerusakan terdampak cuaca ekstrem sehingga menimbulkan antrean panjang. Hingga saat ini banyak warga yang memilih tinggal di hotel, yang menyediakan genset untuk keperluan mobilitas, sehingga banyak hotel di Kota Kupang yang penuh oleh pengunjung.

Berita terkait: