Pembukaan Fasilitas Umum Harus Pertimbangkan Risiko Penularan

Tempat dan fasilitas umum merupakan salah satu lokasi masyarakat beraktivitas yang akan mendukung keberlangsungan perekonomian, namun juga berpotensi menjadi klaster penyebaran Covid-19. Banyak kasus konfirmasi positif ditemukan dari fasilitas umum, seperti pasar tradisional, mal, tempat wisata, dan tempat kerja atau perkantoran. Di DKI Jakarta, misalnya, penambahan kasus positif harian belakangan ini banyak dikontribusi dari tempat kerja dan pasar.

Melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 382 tahun 2020, Kementerian Kesehatan sudah mengatur protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19. Sebagian fasilitas umum telah dibuka sejak PSBB dilonggarkan. Namun ada beberapa yang masih dibatasi, seperti sejumlah tempat wisata dan bioskop. Meskipun sudah ada protokol kesehatan, tetapi tidak bisa dipastikan semua masyarakat melaksanakannya dengan disiplin. Sehingga fasilitas umum ini berpotensi menjadi sumber penularan baru.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pemerintah daerah agar mempertimbangkan risiko penularan Covid-19 apabila membuka sejumlah fasilitas umum. Bahkan bila perlu tidak dibuka untuk sementara waktu. Terutama di tempat wisata tertentu yang tidak memungkinkan jaga jarak, seperti bioskop, tempat hiburan atau diskotek Terlebih karena fasilitas umum ini juga bukan kebutuhan mendesak untuk masyarakat.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, mengatakan, sebagian besar atau sekitar 80% kasus konfirmasi positif Covid-19 belakangan ini tanpa gejala atau minim gejala. Mereka sudah terinfeksi Covid-19 tetapi bergejala ringan bahkan tanpa gejala. Batuk tetapi jarang, atau panas tetapi tidak tinggi, sehingga mereka merasa sehat-sehat saja. Bahayanya, seseorang yang sudah terinfeksi dan membawa virus di dalam tubuhnya menularkan kepada orang sekitarnya melalui droplet tanpa disadari. Ketika mereka tidak mengisolasi diri, maka bisa berpotensi menjadi sumber penularan.

“Harus dilihat dari risiko penularan. Kalau tempat hiburannya di tengah lapangan luas ya tidak apa-apa. Tetapi kalau bioskop atau diskotek ya tidak boleh (dibuka). Karena orang-orang yang datang ke tempat-tempat ini tidak bisa diyakini mereka sakit atau tidak,” kata Yuri, pekan lalu.

Menurut mantan Jubir Penanganan Covid-19 ini, boleh atau tidaknya sebuah fasilitas umum dibuka terkait dengan faktor risiko penularan. Misalnya tempat wisata, yang memungkinkan untuk dibuka adalah wisata pantai, snorkling, dan sejenisnya. Bukan tempat wisata yang menciptakan kerumunan dan jarak dekat, seperti kebun binatang dan sejenisnya. Bagaimana dengan mal? Yuri berpendapat, pengunjung mall rata-rata memiliki kesadaran untuk menerapkan protokol kesehatan lebih baik. Sementara pasar hingga saat ini menjadi klaster penyebaran hampir di semua daerah. Karena kepatuhan terhadap protokol kesehatan di pasar rendah.

Di tengah pandemi sekarang ini, Yuri mengimbau masyarakat untuk melakukan aktivitas apapun termasuk berwisata. Tetapi coba dibandingkan dengan risiko penularan Covid-19. Jika lebih besar kemungkinan untuk terjadi penularan, sebaiknya kegiatan atau aktivitas tersebut ditunda.

Termasuk menghitung untung ruginya membuka fasilitas umum tersebut. Menutup bioskop atau diskotek sementara waktu mungkin berdampak pada ekonomi atau hilangnya pekerjaan bagi pekerja. Tetapi dampak kesehatan yang ditimbulkan ketika dibuka jauh lebih besar. Ruang tertutup, ber-AC, dengan sirkulasi udara yang buruk meningkatkan sumber penularan Covid-19. Protokol kesehatan juga sulit untuk diterapkan di fasilitas seperti ini.

“Jadi sekali lagi, logika kita pada risiko. Silakan aktivitas apa saja, tapi coba adu dengan risiko. Karena penularannya di risiko, bukan di macam hiburannya atau macam wisatanya. Menutup bioskop atau tempat hiburan saja, apakah ekonomi ambruk, tidak kan,” kata Yurianto.

Yurianto mengatakan, selama protokol kesehatan diterapkan dengan disiplin, maka penularan Covid-19 bisa di kendalikan. Termasuk dalam perayaan Hari Raya Iduladha pada 31 Juli 2020 mendatang.

Perayaan Iduladha tetap dilaksanakan tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan untuk meminimalisir risiko penularan akibat kerumunan orang dalam satu lokasi. Terutama jaga jarak, pakai masker dan sesering mungkin cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir.

Pemerintah melalui Kementerian Agama telah mengeluarkan pedoman penyelenggaraan Iduladha dan penyembelihan hewan kurban lewat Surat Edaran 18 tahun 2020. “Yang terpenting itu protokol kesehatannya diikuti. Menyembelih hewan ya silakan saja, yang penting jaga jarak. Silakan salat yang penting menjaga jarak.” kata Yurianto.

Berdasarkan pedoman tersebut, tempat penyelenggaraan kegiatan salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan di semua daerah dengan memperhatikan protokol kesehatan, dan telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

Berita terkait: