Pelajar SMK Ini Jadi Mentor Bantu Komunitas Pecahkan Rumitnya Koding

Namanya Adhitya Firmansyah Putra. Usianya baru menginjak 16 tahun. Pelajar SMK Negeri 1 Majalengka, Jawa Barat ini sudah tergila-gila dengan programing Android. Bahkan jauh sebelum ia duduk di bangku SMK. Kepada melalui wawancara virtual, ia bercerita awal mula jatuh cinta kepada program Android ini.

“Sebelumnya, sudah dari kelas 2 SMP saya sudah mulai suka dan penasaran,” kata dia.

Awal kecintaannya itu, ia ceritakan bermula gara-gara game. Adhit ini tipikal remaja yang suka sekali bermain game. Apapun itu. Mulai dari game yang ada di warung internet (warnet) hingga Android.

Sama seperti remaja seusianya yang gemar bermain game. Namun, ketika rekan-rekannya hanya memikirkan bermain game dan menang, Adhit tidak demikian. Dia melihat game dari sudut pandang lain.

“Saya berpikir, daripada bermain game terus gak ada progres, bagaimana ya kalau saya menciptakan game seperti ini? Saya juga penasaran, bagaimana sih game itu bisa bekerja, bagaimana cara kerja sistem IT. Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu muncul di otak saya,” jelasnya.

Pertanyaan yang ada di benak dia sekaligus tantangan besar untuk remaja seusianya kala itu. Dengan rasa penasaran dan cita-cita ingin bisa membuat game, akhirnya ia rela menyisihkan waktunya untuk belajar programing.

“Saya pun coba mencari tahu informasi bagaimana belajar programing di warnet sekaligus dipraktikan di sana. Ya, saya belajar koding secara otodidak melalui YouTube dengan mencatat kodenya di dalam buku,” ungkap dia.

Sampai pada akhirnya, ia bertemu dengan Kotakode. Kotakode ini merupakan platform komunitas programmer untuk melakukan tanya jawab terkait masalah teknis programing. Ia pun tertarik mengikuti forum ini.

“Banyak hal yang saya dapatkan dari Kotakode ini,” terang dia.

Adhit barangkali tipikal orang yang bisa belajar dengan cepat. Terbukti tak butuh waktu lama dia menjadi mentor muda di Kotakode. Hingga saat ini, Adhit telah berhasil membantu lebih dari 1.000 programmer di Kotakode untuk memecahkan persoalan terkait dengan programing.

“Ada juga pertanyaan yang tidak terpecahkan. Namun, saya kasih preferensi lain. Misalnya, daripada kamu pakai ini, bisa pakai teknologi ini. Jadi saya menyediakan alternative lainnya,” kata dia.

Meski demikian, Adhit masih merasa belum puas atas pencapaiannya ini. Ke depan, ketika ia kuliah nanti, ia ingin mempelajari secara mendalam tentang artificial intelligence.

Berita terkait: