Napiter Tanggapi Positif Program Deradikalisasi

International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) bekerja sama dengan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia merilis riset berjudul “Pemetaan Program Pencegahan Ekstremisme-Kekerasan oleh Pemerintah dan Lembaga Non-Pemerintah di Indonesia (2014-2019)”.

Riset itu merupakan studi deskriptif yang menggambarkan pemetaan program-program preventing violent extremism (PVE) di Indonesia saat ini. Riset juga berisi tentang pengetahuan mengenai program yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga non-pemerintah serta hambatan dan peluang di dalam implementasi program terkait pencegahan ekstremisme-kekerasan di Indonesia.

Tim Peneliti Lab Psikologi, Fakultas Psikologi UI, Chandra Rila Putra, menjelaskan, selama ini upaya radikalisasi dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi diri, indoktrinasi, hingga jihadisasi (justifikasi target dan metode).

“Kita sangat perlu mencegah penyebaran ideologi radikal. Di sisi lain pemerintah juga perlu menyusun kebijakan yang nyata untuk melakukan itu,” kata Chandra Rila Putra, dalam diskusi Infid bekerja sama dengan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, di Jakarta, Senin (20/7/2020).

Dalam riset Infid dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia diketahui, sebanyak 52 persen kelompok target mengakui memiliki sikap positif terhadap program deradikalisasi. Kemudian sebanyak 45 persen memiliki sikap sedang terhadap program deradikalisasi.

“Hanya sebanyak tiga persen yang memiliki sikap negatif terhadap program deradikalisasi. Program deradikalisasi yang telah dilaksanakan dapat diterima dengan baik dan telah membuat perubahan pada kelompok target,” kata Chandra Rila Putra.

Dalam riset itu sendiri menggunakan data kuantitatif kelompok target. Diantaranya dari data narapidana, sebanyak 31 narapidana kasus terorisme (Napiter) di 13 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) untuk mengukur sikap terhadap program deradikalisasi dan manfaat program deradikalisasi.

Dalam riset juga dilakukan pengukuran sikap terhadap pemerintah. Hasilnya ketika ditanyakan seberapa besar percaya terhadap pemerintah, di kelompok tidak terpapar radikal menghasilkan poin sebesar 4,56 dan kelompok tidak terpapar sebesar 4,46 (poin 1 sangat tidak percaya, poin 7 sangat percaya).

Dalam pengukuran terkait seberapa puas dengan kinerja presiden saat ini, di kelompok tidak terpapar menghasilkan poin sebesar 4,45, sedangkan di kelompok terpapar radikal sebanyak 4,44 poin. Dalam pengukuran persepsi masyarakat target terhadap pemerintah dilakukan terhadap data sinergisitas sebanyak 605 masyarakat di NTB, Sulawesi Tengah, hingga Jawa Timur.

“Program sinergisitas cukup efektif untuk membuat mereka yang terpapar ideologi radikal merasa puas dengan kinerja pemerintah,” ucap Chandra.

Tim Peneliti Lab Psikologi, Fakultas Psikologi UI lainnya, Mirra Noor Milla, menjelaskan, saat ini masih ada berbagai kendala di bidang deradikalisasi. Diantaranya resistensi, yakni penolakan dari orang yang menjadi target, keterbatasan akses yakni isu keamanan yang membuat akses ke kelompok ekstrimis menjadi terbatas, hingga kendala keterbatasan ruang diskusi. 

Berita terkait: