Miftahul Ulum Siapkan Bukti Soal Aliran Dana

Miftahul Ulum, asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi mengaku telah menyiapkan bukti-bukti terkait dugaan aliran dana kepada mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman. Hal itu disampaikan Ulum usai dimintai keterangan oleh Komisi Kejaksaan (Komjak) di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Komjak meminta keterangan Ulum terkait kesaksiannya di persidangan Imam Nahrawi beberapa waktu lalu yang menyebut adanya aliran dana sebesar Rp 3 miliar kepada Anggota BPK Achsanul Qosasi dan sebesar Rp 7 miliar kepada Adi Toegarisman terkait temuan mengenai keuangan KONI maupun Kempora.

“Iya, saya sudah menyiapkan (bukti), dan insyaallah Komjak akan memberikan, biar beliau saja Pak Barita (Barita Simanjuntak, Ketua Komjak) yang mengumumkan bagaimana hasilnya ke depan hasilnya,” kata Ulum usai dimintai keterangan oleh Komjak di Gedung KPK, Jakarta.

Saat dimintai keterangan oleh Komisi Kejaksaan, Ulum mengaku kembali menjelaskan mengenai aliran uang kepada pihak dari Kejaksaan Agung. Ulum berharap bukti maupun keterangan yang disampaikannya ditindaklanjuti oleh KPK maupun Komjak.

“Untuk tindak lanjut biar nanti dari KPK atau lembaga mana yang tindaklanjuti,” katanya.

Ulum mengaku disarankan mengajukan permohonan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) bila bersedia membongkar kasus tersebut. Ulum belum dapat memutuskan apapun karena ingin berkonsultasi terlebih dahulu dengan penasihat hukumnya, mengingat saat ini perkara dirinya di KPK sedang tahap banding. Yang jelas, Ulum berjanji akan kooperatif jika dimintai keterangan terkait hal tersebut.

“Terima kasih kepada bapak komisi kejaksaan yang sudah memberikan waktu kepada saya. Saya dimintai keterangan, ya ini kita menciptakan keadilan. Saya siap membantu sebagai warga negara. Doain (juga) banding saya turun (hukumannya) ya,“ kata Ulum.

Terpisah, Ketua Komisi Kejaksaan, Barita Simanjuntak mengatakan pihaknya kemungkinan akan kembali meminta keterangan Ulum. Sebab, dalam permintaan keterangan hari ini, Ulum baru sebatas menjelaskan apa yang sudah dia jelaskan di persidangan mengenai dugaan aliran uang ke Adi Toegarisman.

“Ya kami belum mendapatkan semua keterangan karena situasi M. Ulum sedang masa menghadapi persidangan jadi belum bisa kami mendapatkan keterangan (lebih) karena beliau menyampaikan ’apa yang sudah saya sampaikan selama ini ya itulah yang dia sampaikan’,” kata Barita.

Menurut Barita, tidak hanya dugaan aliran uang dari Kemenpora kepada Adi Toegarisman, tetapi Ulum juga menjelaskan soal dugaan aliran uang ke Anggota BPK, Achsanul Qosasi. Namun, Barita menyebut keterangan hari ini masih di permukaan.
“Jadi artinya kita memahami sebab hak Miftahul Ulum untuk menyampaikannya atau tidak, karena kita kan permintaan keterangan supaya clear dalam tugas Komisi, dalam tugas itu juga untuk melihat duduk masalah apa yang dia sampaikan,” kata Barita.

Barita mengatakan, Komjak memahami sikap Ulum yang belum terbuka lantaran saat ini masih menjalani sidang banding. Apalagi, Ulum telah berjanji akan membantu Komjak mendalami soal aliran-aliran uang tersebut.

“Kita tanyakan (soal oknum BPK dan Kejagung), tapi M Ulum berhak untuk tidak menyampaikan semuanya. Nah saat ini dia belum menyampaikan semuanya. Dia (Ulum) berjanji butuh waktu untuk menyampaikannya,” katanya.

Diketahui, Ulum sempat mengungkap adanya aliran dana kepada Achsanul Qosasi dan Adi Toegarisman terkait temuan mengenai keuangan KONI maupun Kempora. Hal itu diungkapkan Ulum saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap dana hibah KONI dan gratifikasi dengan terdakwa Imam Nahrawi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (15/5/2020).

Namun, saat membacakan pleidoi atau nota pembelaan dalam persidangan pada 9 Juni 2020, Ulum menyampaikan permintaan maaf karena telah menyinggung nama Achsanul Qosasi dan Adi Toegarisman.

Pengacara Ulum, Wa Ode Nur Zainab menyebut permintaan maaf yang disampaikan kliennya karena menyebutkan identitas personal saat persidangan. Dengan demikian, permintaan maaf itu bukan berarti pernyataan sebelumnya tidak benar, apalagi mencabut atau mengubah pernyataan di persidangan.

Achsanul Qosasi dan Adi Toegarisman telah membantah pernyataan Ulum. Achsanul mengaku tidak mengenal, tidak pernah bertemu maupun berkomunikasi dengan Ulum. Untuk itu, Achsanul berharap dapat bertemu dengan Ulum untuk mengonfirmasi kesaksiannya yang menyeret namanya tersebut. Bantahan serupa disampaikan Adi Toegarisman. Adi mengaku tidak pernah ditemui atau bertemu dengan pihak KONI atau Kempora untuk membahas penanganan perkara kasus dugaan korupsi terkait dana hibah KONI yang ditangani Kejagung. Adi menyebut kesaksian Ulum sebagai tuduhan yang keji.

Berita terkait: