Kempupera Targetkan 75 Bendungan pada 2024, Ini Fungsinya

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) melalui Direkrorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) dalam kurun waktu enam tahun terakhir telah membangun 61 bendungan . Kemudian pada tahun 2024, pemerintah menargetkan membangun 75 bendungan.

Banyaknya bendungan yang sudah dan akan dibangun pemerintah menunjukkan infrastruktur air menempati posisi dan peran penting dalam kehidupan dan pelayanan kepada masyarakat. Lalu apa saja sebetulnya fungsi dari bendungan? Berikut penjelasan Direktur Bendungan dan Danau Ditjen SDA Kementerian PUPR, Airlangga Mardjono.

Menurut Airlangga, bendungan memiliki fungsi dan manfaat yang sangat banyak. Bahkan infrastruktur air ini sudah memainkan peran kunci sejak tiga abad sebelum masehi. Namun fungsi utamanya adalah untuk menampung air pada saat surplus.

Bendungan juga dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan baik industri, irigasi, pengendalian banjir, dan cadangan pada saat ketersediaan air mulai langka.

BACA JUGA

Inovasi Teknologi untuk Mengatasi Persoalan Banjir Jakarta

Selain itu, bendungan juga dapat berfungsi untuk menampung kelebihan air terutama pada saat musim hujan. Pria yang biasa disapa Ari ini mencontohkan sebagaimana banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) belum lama ini.

“Ada cerita kecil. Ternyata salah satu kabupaten di Kalsel yaitu Tapin, dampak kerusakan banjirnya sangat minim dibanding kabupaten-kabupaten lain dikarenakan di sana ada Bendungan Tapin. Jadi dia sudah bisa mengisi air banjir ke dalam bendungan. Artinya, sudah bisa bermanfaat,” papar Ari dalam kegiatan Bedah Buku 75 Bendungan , Kamis (8/5/2021).

Untuk fungsi besarnya, Ari menyebutkan bahwa fungsi bendungan terbagi menjadi dua yaitu fungsi bendungan yang bersifat multifungsi dan bendungan yang berfungsi untuk irigasi. Kempupera mencatat sebanyak 48% bendungan di dunia memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan irigasi.

Sementara luas daerah irigasi di Indonesia yang mendapat suplai air dari bendungan luasnya mencapai 762.000 hektare. Tahun 2024 mendatang tepatnya setelah bendungan yang diprogramkan pemerintah selesai, maka luas daerah irigasi Indonesia akan bertambah menjadi 1,3 juta hektare.

“Ini nanti nama daerahnya akan berubah menjadi daerah irigasi premium. Tadinya, daerah irigasi mengandalkan air yang mengalir di sungai, kemudian kalau sudah ada bendungan akan lebih menjamin ketersediaan air di setiap musim,” jelas Ari.

BACA JUGA

Kempupera Percepat Pembangunan Bendungan Manikin

Di samping itu, bendungan juga dapat digunakan untuk menyuplai air baku. Di beberapa daerah di belahan dunia, bendungan banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku perkotaan termasuk di Indonesia.

Hal demikian, juga sedang dibangun di Indonesia di mana dua bendungan secara khusus akan difungsikan untuk menyuplai air baku ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan akan melayani masyarakat. Kedua bendungan tersebut Bendungan Karian di Banten dan Bendungan Sidan di Bali.

Lebih jauh, bendungan juga bisa digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. Menurut Ari, 20% dari bendungan di dunia berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air. Yang terbesar adalah Three Gorges Dam di Tiongkok yang bisa membangkitkan listrik sebesar 22.500 megawatt.

BACA JUGA

2015-2020, Kempupera Selesaikan 18 Bendungan Baru

Sedangkan di Indonesia, dengan rampungnya program pembangunan bendungan hingga 2024 nanti, maka potensi energi listrik yang akan dikembangkan menjadi 6.323 megawatt. Terakhir, bendungan berfungsi sebagai pengendali banjir.

“Ini yang sedang kita programkan untuk Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang mengggunakan tipe bendungan kering. Kita berharap, bendungan-bendungan itu dapat mereduksi atau mengurangi dampak bencana banjir di DKI Jakarta sebagai wilayah hilirnya,” ujar Ari.

Sementara itu, pengamat tata kota Nirwono Joga berpendapat, dengan jumlah bendungan di Indonesia yang baru mencapai 200-an, jauh dibanding dengan Tiongkok, Jepang, dan Amerika. Negara-negara ini memiliki curah hujan rendah namun berlomba-lomba membangun banyak bendungan, salah satu pemicunya didorong oleh tantangan krisis air bersih.

Joga menambahkan, banjir dan krisis air bersih merupakan dua persoalan perubahan iklim yang sebenarnya sudah terjadi di depan mata. Artinya, pada saat musim hujan dapat dilihat bencana banjir terjadi di kota dan kabupaten. Sebaliknya, pada saat musim kemarau, terjadi kekeringan di lahan-lahan pertanian di daerah kabupaten/kota.

BACA JUGA

Kempupera Alokasikan Rp 19,3 Miliar Bangun Rusun TNI AD di Gorontalo

Terlebih, 80% kabupaten/kota di Indonesia dari total 514 kabupaten/kota semuanya berlokasi di dekat sumber air baik sungai, pantai, situ, maupun waduk. Kota-kota seperti Jabodetabek, Surabaya, Semarang, Makassar, dan Medan merupakan kota yang jika tidak segera diatasi dalam konteks perubahan iklim, maka kota-kota tersebut terancam bencana.

“Lalu bagaimana mungkin kita swasembada pangan dan kota-kota kita bisa bertahan terhadap bencana perubahan iklim, kalau ketahahan airnya tidak dibangun,” kata dia.

Oleh karena itu, keberadaan bendungan menjadi hal penting untuk mendukung ketahanan air kabupaten/kota dan wilayah sekitarnya. Terkait bendungan, Joga juga menyoroti bahwa kendala utama dalam pembangunan bendungan adalah tersediaan lahan, tata ruang, tata kota dan wilayah serta kendala pembiayaan.

Berita terkait: