Kampung Pecinan yang tak pernah pudar

Jakarta – Kampung Pecinan atau kerap juga disebut Chinatown banyak ditemui di sudut-sudut kota besar di Indonesia.

Bahkan saat berkunjung ke sejumlah negara, Chinatown ini juga dengan mudah untuk dijumpai.

Masyarakat Indonesia apabila berkunjung ke luar negeri acap kali juga mencari Kampung Pecinan sekedar untuk mencari kuliner. Banyak alasan memilih kuliner di kawasan ini selain harganya terjangkau juga dari cita rasa masih dapat diterima lidah melayu.

Kuliner Tiongkok yang kaya bumbu ini juga disukai masyarakat di luar negeri. Bahkan di Amerika Serikat seperti di Los Angeles beberapa makanan menjadi favorit seperti pangsit ( dumpling ) dengan beragam isian.

Pengunjung berada di salah satu gang kampung yang dihias dengan mural bernuansa Tionghoa saat peluncuran awal Wisata Kampung Pecinan di Jalan Kapasan Dalam, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (10/11/2020). (FOTO/Moch Asim/foc.)

Bagaimana dengan Kampung Pecinan di Indonesia? Ternyata hampir semua kota besar di Indonesia memiliki Kampung Pecinan.

Sama halnya di luar negeri di kawasan ini bisa dengan mudah menemukan berbagai barang kebutuhan termasuk ragam kulinernya sudah barang tentu.

Kampung Pecinan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan sudah ada sejak tujuh abad silam berbarengan dengan masuknya masyarakat Tiongkok ke Indonesia. Mereka awalnya datang ke Indonesia untuk berdagang, untuk selanjutnya menetap hingga kini.

Menurut Prof. Dr-Ing. LMF Purwanto, Peneliti Kampung Pecinan dari Universitas Soegijapranata, Semarang, hadirnya Kampung Pecinan di beberapa kota besar di Indonesia sangat potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Hal ini karena adanya peninggalan sejarah di dalamnya. Kemudian budaya yang juga menarik untuk disuguhkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini. Seperti saat perayaan Imlek kawasan ini menjadi penuh warna dan dengan pertunjukan budaya yang menarik.

Purwanto menjelaskan arsitektur Kampung Pecinan memang memiliki ciri khas tersendiri di dalamnya seperti terlihat di Pasar Petak Sembilan di Jakarta Barat yang memang sudah terkenal. Tidak hanya itu interior dan ragam aksesoris kerap menjadi daya tarik bagi mereka yang berkunjung.

Baca juga: Ragam pernak-pernik Imlek yang paling dicari di tahun Tikus Logam
Baca juga: DKI Jakarta selenggarakan “Pergelaran Pecinan Batavia 2019”

Hilang
Menurut Purwanto seharusnya Kampung Pecinan yang ada di sejumlah daerah Indonesia juga bisa menjadi penggerak ekonomi nasional dari sektor pariwisata.

Sebelum wabah sektor pariwisata bisa memberikan kontribusi 5,2 persen. Apalagi lagi sektor ini juga memiliki daya ungkit untuk sektor lainnya mulai dari usaha mikro kecil dan menengah bahkan sektor manufaktur juga ikut terbantu.

Sayangnya pariwisata juga merupakan salah satu sektor yang paling terpukul di saat pandemi COVID-19. Bahkan Kementerian Pariwisata mencatat kerugian sampai dengan Rp54,6 triliun.

Aneka panganan dapat didapat dengan mudah di Kampung Pecinan (Foto / Ganet Dirgantoro)

Purwanto melihat Kampung Pecinan (Chinatown) yang ada di sejumlah daerah berpotensi untuk mendorong bangkitnya sektor pariwisata yang tengah terpuruk akibat pandemi. Namun dia memberi catatan sepanjang ke asrian dan kelestarian bangunan tetap terjaga.

Persoalannya, kondisi Kampung Pecinan di Indonesia beragam. Beberapa masih terlihat asri, namun ada juga yang beberapa bagiannya sudah hilang. Adanya bagian bangunan atau interior yang bernilai tinggi yang hilang entah dijual atau dicuri.

Suasana kampung pecinan seperti yang kerap kita lihat baik langsung maupun melalui film-film di televisi atau di bioskop seolah-olah membalikkan waktu ke masa silam. Harus diakui kawasan pecinan itu menimbulkan rasa khusus bagi pengunjungnya. Terlihat dari lokasi yang padat dan penuh dengan orang tidak hanya ditemui di Indonesia tetapi juga belahan lain di luar negeri.

Kegiatan perdagangan menjadi ciri utama berbaur dengan tradisi budaya Tionghoa yang khas. Bila dilihat kenyataan dari bangunan hunian, bangunan pertokoan dan bangunan ibadah yang marak warnanya, diselingi keindahan kriya kerajinan ukir, kain cita, busana, sampai kulinernya memang memiliki daya tarik tersendiri.

Keunikan Kampung Pecinan sebagai pusat kegiatan perdagangannya bisa menjadi generator ekonomi di kawasan sekitarnya.

Harga-harga yang ditawarkan relatif terjangkau tergantung dari kualitas barangnya bahkan bisa mendapat di bawah harga pasar tergantung dari kejelian memilih, menjadikan sebagai pengalaman yang menarik bagi mereka yang berkunjung, kata Punto Wijayanto ST. MT selaku Peneliti Kawasan Kota Pusaka-Universitas Trisakti Jakarta.

Seperti kalau kita berkunjung ke kawasan Glodok Jakarta Barat ragam kuliner khas Tiongkok mudah ditemui mulai dari kue basah, buah kering, aneka mie, kopi dan sebagainya.

Potensi yang dimiliki Kampung Pecinan membuat pemerintah daerah juga memperhitungkan kawasan pecinan. Dengan keunggulan sektor perdagangan dan pariwisata yang terus hidup tak tergerus waktu menjadikan kawasan ini selalu lestari.

Pertanyaannya, seiring dengan kemajuan zaman, bagaimana dengan masa depan kampung Pecinan terutama dalam menghadapi era industri 4.0 yang serba digital dan akan mengurangi peran manusia yang menjadi kekhasan dan tradisi mereka?

Akankah modernisasi pada kehidupan komunitas Tionghoa akan mengurangi daya tarik pariwisata yang masih kental sebagai ‘Kota Tua’? Harapan tetap memiliki kampung pecinan yang lebih teratur, bersih dan tetap menjaga tradisi seni budaya khas Tionghoa ini menjadi kepedulian bagi banyak pihak.

Baca juga: Lembaga Kebudayaan Betawi dukung Pergelaran Pecinan Batavia 2019
Baca juga: Pedagang sajikan Kue Bulan dan Kerak Telor tandai budaya Tionghoa-Betawi bersatu

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menabuh bedug khas masyarakat Tionghoa sebagai isyarat dimulainya perayaan Cap Go Meh tahun Imlek 2571 di Pancoran China Town, Glodok, Jakarta Barat, Sabtu (8/2/2020). (HO/Humas Pemprov DKI)

Dibahas
Persoalan kampung pecinan ini juga menjadi perhatian di kalangan arsitektur dan budayawan terbukti dengan pernah diselenggarakannya seminar khusus yang membahas arah dan perkembangan kawasan ini ke depannya.

Seminar yang diikuti oleh 524 peserta juga menghadirkan Direktur Rumah Khusus Kementerian PUPR Ir Johny FS Subrata. Anggaran dari Kementerian PUPR dimungkinkan untuk membiayai bangunan-bangunan peninggalan sejarah yang memiliki potensi untuk mendorong pariwisata.

Johny mengatakan bahwa beberapa ciri bangunan khusus yang terdapat di Pecinan ini banyak yang sudah menjadi perhatian pemerintah untuk dilestarikan.

Peneliti lainnya, Dr. Ir. FX Eddy Arianto, Mars melihat kehidupan di kampung pencinan tersebut terbukti banyak menarik wisatawan diperkuat dari hasil penelitian dari aspek pemukiman dan sosial budaya di kawasan pecinan di Yogyakarta.

Lebih jauh diungkapkan kehadiran kampung pecinan di Indonesia masih erat kaitannya dengan sejarah awal kedatangan bangsa Tiongkok. Bahkan kampung yang lokasinya di kota-kota besar ini ini memiliki peluang untuk lebih maju di masa depan karena adanya potensi heritage (peninggalan masa lalu).

Memang banyak ide dan inovasi untuk pengembangan kampung pecinan terutama agar kelestarian peninggalan yang terdapat di kota-kota besar di Indonesia tetap terjaga. Berbagai pendekatan telah diusulkan baik secara akademis maupun teknologi.

Namun yang jelas kehadiran kampung pecinan ini sudah berlangsung lama serta akan tetap ada hingga ke depannya. Terbukti meski usia yang telah berabad-abad, kawasan pecinan tetap eksis tak lekang oleh waktu bahkan terus berkembang hingga kini.

Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti, Dr. Ir. Etty R. Kidarso mengatakan pengembangan kampung pecinan harus melalui pendekatan multidisiplin ilmu karena banyak aspek terkait di dalamnya tidak hanya sekedar bangunan dan kuliner saja, tetapi juga sosial dan budaya.

Etty mengatakan pentingnya membuat kampung pecinan menjadi kawasan yang lebih baik dan modern tanpa menghilangkan ciri khas sebagai kawasan perdagangan yang memang kerap dibanggakan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Dari sisi arsitektur, Etty mengatakan butuh pemahaman mengenai kampung pecinan dan tradisi masyarakat Tionghoa sebelum mendesain kawasan itu agar tidak kehilangan keasriannya.

Sebagai salah satu pariwisata perkotaan, kampung pecinan, kelihatannya akan menjadi peluang yang baik untuk dikembangkan di saat pandemi ini.

Lokasinya yang mudah ditemui dan ragam kulinernya bisa menjadi solusi mendorong ekonomi di masa sulit.

Berita terkait: