Kabar Baik, Uji Klinis Vaksin Covid-19 Mulai Awal Agustus

Pemerintah Indonesia melalui PT Biofarma bekerja sama dengan sejumlah instansi sedang mengembangkan vaksin untuk Covid-19 produksi dari dalam negeri. Ditargetkan Agustus 2020 uji klinis vaksin Covid-19 mula dilakukan, dan semua prosesnya berjalan dengan baik, maka ditargetkan awal tahun 2021 sudah bisa diproduksi. Kapasitas produksi dialokasikan sebanyak 250 juta dosis vaksin setiap tahun.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir, mengatakan, untuk pengembangan vaksin Covid-19, pihaknya sedang mempercepat ketersediaan vaksin Covid-19. Untuk jangka pendek, pihaknya berkolaborasi dengan dua institusi , yaitu Sinovac Biotech Ltd China dan The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). PT Biofarma akan menjadi salah satu pabrikan vaksin yang ditunjuk oleh CEPI untuk membuat vaksin Covid-19 secepatnya. Untuk kolaborasi dengan Sinovac Biotech sendiri sudah mendapatkan ijin Kementerian Kesehatan dan Badan POM terakit protokol uji klinisnya.

“Protokol uji klinis sudah dikeluarkan, dan awal Agustus segera lakukan uji klinis Bandung. Kalau semua uji klinis dilakukan dengan baik, kita akan segera produksi di fasiltias produksi Biofarma di Bandung pada Q1 2021,” kata Honesti dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Selasa (14/7/2020).

Menurut Honesti, fasilitas produksi vaksin Covid-19 terus dikembangkan. Satu lagi kapasitas produksi segera diinstal peralatannya dan segera beroperasi di Desember 2020, sehingga awal 2021 dapat mempercepat produksi vaksin Covid-19.

Untuk jangka panjang, menurut Honesti, sudah dibentuk konsorsium vaksin Covid-19 nasional yang diketuai oleh Lembaga Eijkman di mana Biofarma berperan aktif untuk melakukan produksi setelah bibit vaksin sudah ditemukan dan diterima Biofarma.

Diharapkan pada pertengahan 2021 nanti, Biofarma sudah bisa memproduksi vaksin Covid-19 sesuai strain virus Indonesia. Tetapi untuk mempercepat prosesnya, menurut Honesti, masih perlu kerja sama dengan Sinovac Biotech dan CEPI.

Adapun kebutuhan anggaran untuk produksi vaksin Covid-19 ini diestimasikan sekitar Rp 103 miliar. Terdiri dari Rp 63,2 miliar untuk pengembangan vaksin nasional, dan Rp 40,5 miliar untuk vaksin kolaborasi dengan Sinovac dan CEPI terutama untuk pre klinis. Sementara itu ada pula kebutuhan anggaran untuk pengembangan vaksin secara umum di luar vaksin Covid-19 sebesar Rp 68,7 miliar. Untuk vaksin umum ini menurut Honesti akan diupayakan dari cash flow Biofarma.

Honesti mengatakan, pembiayaan pengembangan vaksin ini paling cepat menggunakan anggaran pemerintah. Sejumlah mekanisme sudah diusulkan Biofarma kepada pemerintah terutama terkait anggaran riset. Salah satunya anggaran di Kementerian Riset dan Teknologi untuk membiayai mulai dari tahap pengembangan, uji pre klinis, hingga uji klinis.

“Mungkin juga untuk produksinya kita bisa gunakan dana dari sponsor baik dari dalam maupun luar negeri. Tapi khusus Covid-19 ini dari pembicaraan dengan Kemristek sepertinya kita akan full dana di Kemristek,” katanya.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Bambang Brodjonegoro mengatakan, tim nasional pengembangan vaksin yang dipimpin oleh Kemristek, Kemkes, dan Kementerian BUMN terus berkoordinasi untuk mencari vaksin yang kemungkinan lebih cepat dinyatakan sebagai vaksin Covid-19. Sejauh ini dari monitor yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ada tiga pengembang yang posisi pengembangan vaksinya paling cepat. Sudah masuk uji klinis tahap tiga. Pertama adalah Sinovac Biotech yang bekerja sama Biofarma, AstraZeneca-Oxford, dan Moderna.

“Tentunya kita berupaya agar kerja sama Biofarma dengan Sinovac, rencananya akan segera uji klinis tahap ketiga di Indonesia. Jadi yang paling penting adalah Indonesia salah satu negara yang mendapatkan tempat sebagai uji klinis,” kata Bambang.

Menurut Bambang, kalau bibit vaksin ini sudah diuji klinis di Indonesia, maka prosesnya dan hasilnya bisa dilihat langsung oleh Badan POM, sehingga bisa dinyatakan sebagai vaksin Covid-19 untuk digunakan di Indonesia.

Dikatakan Bambang dibutuhkan waktu tiga bulan untuk melakukan uji klinis tersebut dimulai Agustus 2020. Setelah ada hasil uji klinis, perlu ijin edar dari Badan POM.

“Kita harapkan Januari 2021 Biofarma sudah mulai memproduksi vaksin-19 yang pengembangannya dilakukan oleh Sinovac,” kata Bambang.

Untuk diketahui, vaksin yang akan segera diproduksi oleh Biofarma tersebut bibitnya dikembangkan oleh Sinovac. Bibit vaksin tersebut akan diuji klinis di Indonesia, setelah itu diserahkan kepada Biofarma untuk diproduksi. Setelah diproduksi kemudian didistribusi atau digunakan oleh Kementerian Kesehatan untuk vaksinasi massal.

Selain vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac, pemerintah juga sedang berupaya mengembangkan vaksin sendiri terutama dari virus SARS Cov-2 yang bertransmisi di Indonesia.