Fokus Pasar Lokal, Emdeki Utama Proyeksikan Penjualan Tumbuh 3%

PT Emdeki Utama Tbk (MDKI) menargetkan pertumbuhan tahun ini sama dengan tahun lalu mengingat situasi pasar lokal masih terdampak pandemi Covid-19 di tengah persaingan ketat dengan produk impor. Satu-satunya produsen kalsium karbit atau karbit di dalam negeri ini, tahun lalu mencatat pertumbuhan penjualan 3% dan profit 20%.

“Kita tidak berharap bisa berkembang terlalu cepat tahun ini karena situasinya masih stagnan. Bisa mempertahankan kinerja tahun ini sama dengan tahun lalu sudah sangat baik,” kata Direktur Emdeki Utama, Vincent Secapraman, di Gresik, Rabu (7/4/2021).

Vincent mengutarakan, Emdeki Utama tahun ini mengambil strategi untuk memaksimalkan pasar lokal yang selama ini berkontribusi 80% terhadap penjualan, mulai dari mendekatkan diri ke pengguna langsung, meningkatkan level layanan ke toko, menempatkan paling sedikit 2 distributor di setiap provinsi sampai mengerahkan tim pemasaran.

BACA JUGA

Laba Bersih Emdeki Utama Naik 6,03% di Triwulan III

Di pasar lokal ritel terutama toko menyerap paling banyak hingga 55%-60%, disusul pabrik gas dan aneka tambang 20% dan sisanya pengguna langsung seperti tukang las dan perajin kerajinan kecil kategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ). MDKI juga tetap fokus meningkatkan efisiensi hingga 90% dengan menekan biaya operasional.

“Strategi itu yang kita jalankan tahun ini seperti halnya tahun lalu, bisa bertahan bahkan sekalipun di masa pandemi penjualan bisa tumbuh 3% dan profit juga tumbuh 20%,” terang Vincent.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia menyebut, tantangan utama yang dihadapi MDKI tahun ini masih soal persaingan di pasar lokal dengan karbit impor dari Tiongkok. Karena produksi di negara asalnya memanfaatkan listrik murah, insentif pajak ekspor dan ditunjang dengan logistik pengiriman karena alur perdagangan yang mudah sehingga karbit impor itu bisa dijual di pasar lokal lebih murah.

“MDKI kalah bersaing di sisi harga baik di pasar lokal atau pasar ekspor karena harus menanggung biaya listrik mahal, tidak mendapatkan insentif pajak saat ekspor dan biaya pengiriman ke negara tujuan ekspor juga lebih mahal. Itu tantangan kita, kadang terseok-seok tapi bisa tetap survive, ya itu tadi dengan efisiensi dan pendekatan langsung ke pelanggan, ke toko-toko,” ungkap Vincent.

BACA JUGA

Penjualan Hunian Melonjak di Tengah Pandemi Covid-19

Dia menyatakan, beruntung perseroan memiliki pabrik disini, karena pengiriman ke pelanggan menjadi lebih cepat sehingga kualitas karbit juga lebih optimal sebab karbit dalam 2 bulan bahkan lebih kualitasnya akan menurun, berubah menjadi debu karena kelembaban udara dan itu akan merugikan toko dan pengguna langsung. “Itu daya saing kuat kita, pabrik kita disini,” tandas Vincent.

Oleh sebab pula, sambung dia, strategi pemasaran juga menjadi fokus utama dalam mempertahankan kinerja dengan memanfaatkan celah dari kelemahan pemasaran karbit impor terutama terkait dengan stok dan kemasan karbit. Toko yang menjual karbit impor tentu harus menyediakan stok setidaknya 100 ton untuk melayani pembeli dan itu membutuhkan biaya.

Melihat peluang itu MDKI melakukan inovasi sehingga toko tidak perlu lagi menyimpan stok terlalu banyak dengan waktu yang lama. MDKI mengirim langsung ke toko-toko itu dengan waktu pengiriman berbeda untuk wilayah Jawa Timur selama satu dua hari, Jawa tengan 3 hari dan Jawa Barat 4 hari nyampek.

Inovasi juga terkait dengan kemasan, karena karbit itu komoditas yang perlu kemasan, berapapun kebutuhannya satu kemasan besar akan dibuka sesuai kebutuhan. Saat ada pembeli 2 kg atau 3 kg toko akan tetap membukanya, tangan menjadi kotor, makan waktu serta karbit bisa jadi debu sehingga akan merugikan toko.

BACA JUGA

Mendag Serukan Perkuat Pasar Lokal

“Makanya kita bikin kemasan satu kio, tiga kilo, jadi tidak ada lagi debu dan kotoran. Respon pasar bagus dengan inovasi marketing dan itu yang kita optimalkan,” tutur Vincent.

Selain pasar dalam negeri, perseroan juga terus mencermati perkembangan pasar global untuk menangkap peluang ekspor. Ekspor tahun lalu ke India, sebelumnya juga sempat ekspor ke 5-7 negara, termasuk diantaranya ke Jepang dan Amerika Serikat. Penjualan ekspor ke India tahun lalu menyumbang 20% dari total penjualan. “Kalau di pasar ekspor ada permintaan, harganya cocok kita bisa melayaninya dengan kapasitas cukup,” kata Vincent.

Upaya ekspor 20% dari kapasitas produksi 24.000 ton per tahun itu sebenarnya untuk mengimbangi impor bahan baku karbit, yakni batu metallurgical coke dari Tiongkok, yang menyumbang 25%-30% dari total biaya produksi. “Kandungan lokal kita 75%, listrik 30%, impor batu coke dari Tiongkok 25%-30% dan sisanya batu kapur dari lokal. Jadi kita upayakan ekspor 20%. Setelah pandemi kita kirim 500 kontainer ke India,” tandas Direktur Emdeki Utama, Chakravarthi Kilambi.

Sepanjang tahun 2020, MDKI membukukan volume penjualan kalsium karbit sebesar 20.910 ton atau naik 3,2% dibandingkan dengan realisasi penjualan pada 2019 sebesar 20.260 ton. Dari total volume penjualan 20.910 ton tersebut, ke pasar lokal sebanyak 18.590 ton dan ke pasar ekspor 2.320 ton.

Berita terkait: