Anies Masih Cermati Kasus Covid-19 untuk Ambil Kebijakan Rem Darurat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih mencermati perkembangan kasus positif Covid-19 di Jakarta untuk memutuskan apakah akan mengambil langkah rem darurat atau emergency break policy . Jika kebijakan rem darurat diambil, maka Provinsi DKI Jakarta akan kembali pada fase pengetatan pembatasan sosial seperti pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Sekarang kita lihat saja situasi ini. Karena sekali lagi, jangan lihat hanya satu hari, tetapi mingguan. Karena memang proses pemeriksaannya pun beberapa hari, antara ambil sampel dan lihat hasil. Jadi, lihatnya mingguan,” ujar Anies di Gedung DPRD DKI, Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Saat ini, DKI Jakarta masih menerapkan masa perpanjangan PSBB transisi fase I hingga 30 Juli 2020 mendatang. PSBB transisi fase I ini sudah dimulai 5 Juni 2020 yang lalu dan telah mengalami 2 kali perpanjangan. Sejak PSBB transisi, Pemprov DKI membolehkan sejumlah aktivitas ekonomi, sosial dan keagamaan dilakukan, meskipun tetap harus menerapkan protokol kesehatan.

Anies mengakui bahwa pada masa PSBB transisi, kasus positif Covid-19 mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Menurut dia, lonjakan kasus tersebut disebabkan karena tes Covid-19 yang dilakukan Pemprov DKI juga mengalami peningkatan signifikan.

Karena itu, dia minta publik, tidak hanya melihat angka kasus positif Covid-19, tetapi juga perlu mencermati angka-angka epidemiologis lainnya, seperti angka positivity rate , angka Rt, atau tingkat kesembuhan dan kematian.

“Kalau kita melihatnya angkanya saja, maka kesimpulan yang diambil bisa tidak tepat, karena kalau tidak melakukan testing enggak ada kasus. Padahal, justru kita meningkatkan testing untuk menemukan yang positif supaya bisa isolasi,” terang dia.

Positivity rate adalah rasio antara jumlah orang yang mendapatkan hasil positif Covid-19 dengan jumlah orang yang dites Covid-19. Menurut standar WHO, angka aman positivity rate adalah 5 persen.

Anies mengakui bahwa pada masa perpanjangan PSBB transisi, angka positivity rate di Jakarta masih fluktuatif dalam rentang 5 hingga 10 persen. Sementara, kata Anies, angka Rt atau tingkat penyebaran virusnya juga masih terkendali, rata-rata 0,9 hingga 1,1.

“Dari yang kita temukan selama 2-3 minggu ini angka positivity rate meningkat, tetapi angka Rt-nya tidak bergerak dari angka 0,9 sampai 1,1. Artinya, wabahnya meningkat juga tidak, menurun juga tidak,” jelas dia.

Yang menggembirakan, kata Anies, angka fatality rate (tingkat kematian akibat Covid-19) tidak mengalami kenaikan. Meskipun kasus positif banyak ditemukan, tutur dia, namun, kebanyakan adalah orang-orang tanpa gejala.

“Mayoritas orang yang ditemukan tanpa gejala dan mereka yang kemudian dirawat adalah orang yang ditemukan positif tanpa gejala, tapi punya risiko, makanya biasanya kita minta untuk dirawat. Jadi, misalnya ada warga lansia usia 70 tahun lebih, maka demi keselamatan diisolasi di rumah sakit,” ungkap Anies.

Pemprov DKI, kata Anies, akan memperhitungkan semua hal ketika mengambil kebijakan termasuk kebijakan rem darurat. Kebijakan yang diambil pun berdasarkan data-data yang valid dan ilmiah.

“Jadi, (kita) perhatikan semuanya. Wabahnya memang masih ada, kita tetap harus waspada dan kita lakukan testing lebih banyak, dengan lebih banyak yang ketemu, lebih banyak yang isolasi dan lebih banyak yang diselamatkan,” pungkas Anies.

Secara terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia Tatri Lestari mengatakan terdapat penambahan jumlah kasus positif di Jakarta per Rabu (22/7/2020) sebanyak 382 kasus. Dengan demikian, jumlah kumulatif kasus Konfirmasi di wilayah DKI Jakarta pada hari ini sebanyak 17.535 kasus.

Dari jumlah tersebut, 11.187 orang dinyatakan telah sembuh, sedangkan 766 orang meninggal dunia.

“Sampai dengan hari ini kami laporkan, 1.205 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 4.377 orang melakukan isolasi mandiri (termasuk data Wisma Atlet). Untuk suspect yang masih menjalani isolasi mandiri sebanyak 877 orang, sedangkan suspect yang masih menjalani isolasi di RS sebanyak 1.379 orang. Untuk kontak erat dari kasus confirm atau probable yang saat ini masih menjalani isolasi mandiri sebanyak 7.159 orang,” jelas Dwi.

Dwi mengungkapkan, secara kumulatif, pemeriksaan PCR (tes swab) sampai dengan 21 Juli 2020 sebanyak 474.851 sampel. Pada 21 Juli 2020, dilakukan tes PCR pada 5.235 orang, 4.879 di antaranya dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada kasus baru, dengan hasil 382 positif dan 4.479 negatif.

Selain itu, untuk rapid test , totalnya sebanyak 280.292 orang telah menjalani, dengan persentase reaktif Covid-19 sebesar 3,5 persen, dengan rincian 9.794 orang dinyatakan reaktif Covid-19 dan 270.498 orang dinyatakan nonreaktif.

“Untuk kasus positif ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab secara PCR dan apabila hasilnya positif dilakukan rujukan ke Wisma Atlet atau RS atau dilakukan isolasi secara mandiri di rumah,” tutur Dwi. 

Berita terkait: