Target Partisipasi Pemilih Dinilai Realistis

Target angka partisipasi pemilih sebesar 77,5% dalam Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) Serentak 2020 cukup realistis. Pasalnya, tren partisipasi pemilih dalam tiga kali Pilkada Serentak sejak 2015 terus meningkat. Pada 2015, angkanya mencapai 64,02%. Kemudian naik menjadi 71,58% pada 2017, dan 73,24% pada 2018.

Demikian diungkap peneliti Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD) Rizqan Kariema Mustafa, di Jakarta, Jumat (20/11/2020). “Target partisipasi itu cukup relevan karena tren partisipasi cenderung naik,” katanya.

Rizqan menyatakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sepatutnya membangun kepercayaan masyarakat. Dengan begitu, maka target 77,5% tersebut dapat terealisasi. Ditegaskan, penyelenggara harus meningkatkan integritas dan profesionalitas serta kepatuhan terhadap protokol pencegahan Covid-19.

Rizqan menuturkan salah satu indikator tingkat partisipasi pemilih pada pilkada yakni tingginya masyarakat pada tahapan kampanye. Meskipun berada pada situasi pandemi, lanjutnya, masyarakat tertarik untuk mengikuti kegiatan kampanye tatap muka atau pertemuan terbatas. Padahal, kegiatan kampanye di masa pandemi mengharuskan pasangan calon (paslon) mengadakan kampanye berskala kecil. Namun, aturan itu tidak menyurutkan niat masyarakat mengikutinya.

BACA JUGA

Meski Ada Kerawanan, Polri Optimisme Pilkada Serentak 2020 Sukses

Menurutnya, partisipasi masyarakat tidak hanya dilihat dari voter’s turnout atau seberapa banyak jumlah pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Partisipasi juga dapat dilihat dalam setiap tahapan pilkada seperti pengawasan, keikutsertaan dalam kampanye dan ikut serta dalam mengkritisi kebijakan pemerintah.

“Pada prinsipnya kesuksesan Pilkada 2020 tidak hanya dapat diukur dari seberapa besar pemilih yang datang ke TPS. Namun perlu dilihat juga seberapa besar keterlibatan masyarakat dalam mengikuti, mengawasi, dan mengkritisi setiap tahapan pilkada,” ujarnya.

Sementara itu peneliti SPD Aqidatul Izza Zain mendorong pemerintah untuk mendukung penuh penyediaan tenaga medis serta alat bantu kesehatan yang memadai khususnya di TPS. Tujuannya agar pemilih tetap datang dengan rasa aman. Berikutnya, mendorong para akademisi, lembaga swadaya masyarakat, kelompok-kelompok peduli demokrasi, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat untuk terus membangun narasi positif Pilkada 2020.

Berita terkait: