Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannya

Rapid test merupakan salah satu tes awal untuk mendeteksi COVID-19. Meski tingkat akurasinya diragukan, metode itu masih digunakan oleh berbagai pihak, terutama untuk screening sebelum dilanjutkan dengan tes lain.

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan RI menyebut dua macam rapid test. Masing-masing  rapid test antibodi dan rapid test antigen.

Sebagian orang mengira kedua jenis pemeriksaan cepat itu sama. Padahal, masing-masing punya tujuan dan tingkat akurasi berbeda. Jika kamu termasuk yang bingung membedakannya, simak ulasan berikut ini agar tidak salah paham lagi.

1. Apa itu rapid test?

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannyacadenaser.com

Sesuai namanya, rapid test berupa tes yang digelar secaara cepat. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), hasil rapid test bisa keluar dalam 10 menit atau maksimal 2 jam. Tes

Tes ini didesain untuk digunakan kepada individu atau sampel yang terbatas, sehingga lebih ekonomis. Berguna untuk kepentingan uji dalam keadaan darurat.

Disebut juga tes serologis, rapid test punya beberapa cara tes diagnostik. Kualitasnya tergantung pada sejumlah faktor, mulai dari waktu sakit, konsentrasi virus di spesimen, sampai proses tesnya sendiri.

Dikutip dari CBS News , Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), uji cepat ini memiliki tingkat akurasi 50-70 persen, bahkan untuk flu biasa.

2. Rapid test antibodi

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannya/Paulus Risang

Tes ini menyasar antibodi yang dihasilkan tubuh terhadap penyakit COVID-19. Dikutip dari Kawal COVID19 , tes ini mencari antibodi (imunoglobulin atau Ig G dan M) dalam darah sebagai bukti bahwa tubuh sedang atau sudah pernah memerangi virus SARS-CoV-2.

Pemeriksaan ini memerlukan spesimen darah. Bisa diambil di jari atau sampel yang berasal dari serum darah.

Ini tes cepat yang paling umum dijumpai di Indonesia. Pemeriksaannya tidak perlu laboratorium dengan dengan biosecurity level II, sehingga memungkinkan untuk dilakukan di komunitas dengan tenaga dan sarana kesehatan yang terbatas.

Rapid test ini punya kelebihan antara lain: mudah dilakukan di mana saja, hasilnya cepat, dan dapat digunakan untuk skrining infeksi COVID-19 pada populasi. Harganya pun lebih murah.

Namun, tes ini punya banyak kendala. Rapid test antibodi tidak dapat digunakan sebagai alat deteksi dini bagi orang-orang yang masih dalam hari-hari awal masa inkubasi. Tingkat IgG dan IgM masih rendah pada masa-masa tersebut, meskipun jumlah partikel virus sangat tinggi di awal.

Baca Juga: Metode Tes COVID-19 Baru Cuma dalam 15 Menit, Seberapa Akurat?

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini PerbedaannyaIlustrasi rapid test (Dok.)

Menurut keterangan di laman The Native Antigen Company , respons antibodi IgM awal tidak mencapai puncak hingga hari ke-9 setelah infeksi awal, dan respons antibodi IgG tidak mencapai puncak hingga hari ke-11.

Kekuatan akan respons tersebut bisa berbeda-beda pada tiap orang, yang dipengaruhi oleh usia, nutrisi, tingkat keparahan penyakit, dan ada atau tidaknya penyakit penyerta (komorbid).

Bila pasien diuji pada masa tersebut, hasil tes antibodi akan negatif palsu ( false negative ), meski kenyataannya pasien mengidap COVID-19. Karena itu, penting bahwa seseorang yang dianggap berisiko tinggi, tetapi negatif pada antibodi pertama, harus dites lagi sekitar seminggu setelahnya.

Pada dasarnya, menurut Texas Health and Human Services (THHS), tes antibodi berguna untuk menentukan pasien mana yang cocok sebagai partisipan untuk uji penanganan COVID-19 atau lebih tepatnya untuk mencari vaksin. Jika tes antibodi ini dilakukan dalam jumlah besar ke masyarakat, pemerintah dan petugas kesehatan bisa mengetahui seberapa jauh populasi yang sudah pernah terkena COVID-19.

3. Rapid test antigen

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannya/Maya Aulia Aprilianti

Rapid test antigen disebut-sebut lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi, sehingga tes ini diproyeksikan akan menggantikan rapid test antibodi.

Walaupun hasil tes bisa keluar sama cepatnya dengan rapid test antibodi, tetapi rapid test antigen mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2, bukan mendeteksi antibodi tubuh terhadap COVID-19.

Spesimen yang diperlukan untuk rapid test antigen adalah swab orofaring atau swab nasofaring. Inilah kenapa rapid test antigen juga disebut sebagai rapid swab . Tes harus dilakukan di fasilitas layanan kesehatan yang memiliki fasilitas  biosafety cabinet .

Sebagai informasi, antigen adalah protein yang dikeluarkan oleh virus. Antigen bisa terdeteksi bila ada infeksi yang sedang berlangsung dalam tubuh. Inilah mengapa rapid test antigen paling baik digunakan pada orang yang baru saja terinfeksi COVID-19.

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannyaunsplash.com/United Nations COVID-19 Response

Menurut keterangan dari THHS, tes antigen berguna untuk mencari virus yang sedang aktif di dalam tubuh. Jika hasilnya positif, maka saat ini di dalam tubuhmu terdapat virus SARS-CoV-2 yang sedang aktif.

Jika negatif, indikasinya adalah protein viral virus tersebut tidak ditemukan, tetapi hasil ini bukan berarti orang yang dites tersebut bebas dari COVID-19. Bila orang tersebut ada kecenderungan positif atau memang habis berkontak dengan pasien yang terkonfirmasi, tes PCR mesti dilakukan untuk mengonfirmasinya.

Tingkat akurasi rapid test antigen dikatakan lebih akurat dari rapid test antibodi. Sebab, antigen langsung merepresentasikan keberadaan virus dalam tubuh. Secara harga, rapid test antigen lebih mahal dari rapid test antibodi, tapi lebih murah dari tes PCR. Meski begitu, hasilnya tak bisa menjadi patokan dan sifatnya hanya sebagai skrining awal.

4. PCR test tetap merupakan satu-satunya standar pengujian COVID-19 yang diakui WHO

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannyaopenhouse.es

Dua macam rapid test di atas cuma sekadar untuk kebutuhan screening awal. Untuk mengonfirmasinya, tetap harus melalui tes Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) atau tes PCR. Tes itu juga satu-satunya standar pengujian COVID-19 yang diakui WHO, yang mendeteksi virus dengan mencari jejak genetik virus di spesimen.

Melansir Kawal COVID-19 , tes PCR sebagai standar emas pengujian SARS-CoV-2 memerlukan tes kit untuk mengambil sampel swab dari rongga nasofaring dan cairan reagen untuk mengisolasi potongan kode genetik yang dimiliki virus yang diuji. Dua lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus akan menggandakan dirinya.

Metode ini tidak bebas dari kemungkinan  human error,   false positive  maupun  false negative . Studi dari The New England Journal of Medicine menyatakan sekitar 30 persen dari uji PCR tidak akurat.

Rapid Test Ada Antibodi dan Antigen, Ini Perbedaannyaunsplash.com/Mufid Majnun

Berdasarkan keterangan dari THHR, tes PCR yang positif mengindikasikan jika ada infeksi COVID-19 yang aktif di dalam tubuh. Kalaupun negatif, indikasinya adalah kamu tidak terkena atau belum terkena virus tersebut.

Tes PCR baik untuk mengetahui orang yang sedang terkena infeksi dan saat dapat menularkan virus, tetapi tidak untuk menentukan apakah orang tersebut pernah mendapatkan virus tersebut di masa lalu.

Meskipun tingkat akurasinya sangat tinggi, salah satu kekurangan intrinsik tes PCR adalah limit deteksinya. Apabila jumlah partikel virus terlampau kecil, maka PCR akan memberikan hasil negatif.

WHO menyatakan, median durasi virus shedding adalah 14 hari. Pada periode tersebut, jumlah partikel virus dalam tubuh dapat berfluktuasi. Melansir Nikken Asian Review , Beberapa pasien yang sudah sembuh bahkan dilaporkan masih menyebarkan virus setelah 22 hari. Menurut pemberitaan di NPR dan The Times of India , beberapa lab di Korea Selatan dan India masih menemukan hasil tes positif COVID-19 pada hari ke-35.

Standar tes PCR memang tinggi, sehingga tes ini biayanya mahal. 

Itulah kurang lebih perbedaan antara rapid test antibodi dan rapid test antigen pemeriksaan COVID-19. Harus selalu diingat bahwa kedua tes ini hanya merupakan skrining awal dan hasil pemeriksaannya harus dikonfirmasi dengan tes PCR.

Jangan bingung lagi, ya! Bila masih bingung, langsung tanyakan ke fasilitas layanan kesehatan atau petugas kesehatan agar tak lagi salah paham.

Baca Juga: 7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19

Berita terkait: