Milenial Mau Berinvestasi? Sandiaga: Pertimbangkan Tiga Tren Jangka Panjang Ini

– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengajak kalangan muda atau milenial yang ingin berinvestasi agar mempertimbangkan tiga tren. Ketiga tren itu kini bersifat jangka panjang dan tidak dapat dihentikan ( unstoppable ).

“ Try to identify and spot the long term unstoppable trend ,” kata Sandiaga dalam diskusi bertema “Financial Independence (Kemerdekaan Finansial)” di acara Next Gen Summit 2021 yang digelar Beritasatu Media Holdings, Rabu (7/4/2021).

Sandiaga, yang berlatar belakang pengusaha, juga mengingatkan anak muda jangan memiliki mental me too atau herd mentality (ikut-ikutan) dalam memilih investasi.

BACA JUGA

Bangkitkan Pariwisata, Sandiaga Uno Usulkan Masyarakat Bekerja dari Destinasi Wisata

Sandiaga menjelaskan tren pertama adalah digitalisasi. Saat ini sudah menjadi keniscayaan bahwa segala sesuatu akan berbasis teknologi dan digital baik kuliner, fesyen, hotel, maupun atraksi kebudayaan. Dia mengatakan semua bidang harus bertransformasi ke arah digital termasuk pariwisata.

“Kemarin saya melihat Tari Kecak di Uluwatu untuk pertama kali setelah sempat tutup. Saya lihat narasinya masih pakai kertas selembar. Wah itu PR buat saya, saya minta agar dibantu digitalisasi untuk story telling mereka sebagai bagian dari long term and unstoppable trend ,” ujar Sandiaga atau biasa disapa Sandi.

Sandi mengatakan tren kedua adalah longevity (umur panjang) atau tren kesehatan. Menurutnya, turunan dari tren tersebut sangat banyak, bukan hanya bersifat kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan), tetapi juga promotif (promosi) dan preventif (pencegahan). “Bukan hanya rehabilitatif dan kuratif seperti perawatan di rumah sakit. Tapi promotif dan preventif juga menjadi tren seperti gaya hidup sehat, olahraga, bersepeda, jalan, mengonsumsi makanan bernutrisi seperti herbal, dan sebagainya,” kata Sandi.

BACA JUGA

Sandiaga Uno Kisahkan Pengalaman Bisnisnya Bangkit dari Krisis

Sandi menambahkan tren longevity juga mencakup silver economy (ekonomi perak), yaitu orang-orang berusia 60 tahun ke atas yang kini jumlahnya 1,2 miliar di dunia. Menurutnya, kelompok silver economy memiliki potensi besar karena menguasai sekitar US$ 15 triliun (Rp 217.630 triliun) di dunia. “Mereka sehat, punya financial freedom , bisa bekerja di mana saja. Ibu saya umur 80 tahun masih bisa Instagram dan Zoom. Mereka kelompok yang punya duit, punya kemampuan spending ,” ujarnya.

Sandi mengatakan asuransi bisa menjadi pilihan untuk kelompok silver economy ini. “Mereka butuh belajar lagi, rescaling, upscaling , ini bagian dari longevity unstoppable trend ,” ucapnya.

Tren ketiga, tambah Sandi, adalah ekonomi hijau. Menurutnya, kebutuhan untuk ekonomi hijau sudah tidak bisa dihentikan, misalnya dalam bentuk energi terbarukan berupa kendaraan listrik, bahkan bahan makanan yang organik.

Berita terkait: