Hotel dan Restoran di Bali Siap Terapkan Protokol CHSE

Sampai saat ini pelaku pariwisata di Bali masih bersiap untuk mengadapi era adaptasi kebiasaan baru. Setelah sebelumnya industri pariwisata mulai dibuka khusus untuk wisatawan lokal (masyarakat Bali), kini pada pertengahan hingga akhir Juli diharapkan siap untuk pasar domestik. Kemudian September 2020 siap untuk pasar luar negeri. Atas dasar itulah para pelaku industri hotel dan restoran di Bali memulai proses pemulihan.

Ida Bagus Purwa Sidemen, Direktur Eksekutif BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, kepada Suara Pembaruan, Rabu (15/7/2020), mengatakan saat ini pelaku hotel dan restoran telah menerapkan protokol kesehatan sesuai standar cleanliness, health, safety and environmental sustainability (CHSE) dalam rangka memasuki era adaptasi kebiasaan baru.

Ida mengatakan, upaya menerapkan CHSE diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata Indonesia, khususnya Bali. Mengingat saat ini ada kecenderungan wisatawan akan mencari destinasi wisata yang aman dan bersih untuk menghindari penyebaran Covid-19.

“Dalam menerapkan protokol kesehatan ini, tidak ada tantangan yang begitu signifikan. Untuk itu, hotel dan restoran yang sudah tergabung dalam PHRI pun terus kami dorong untuk mulai menjalankan protokol. Misalnya, kebiasaan menjaga jarak, melengkapi hotel dan restoran dengan hand sanitizer , dan SOP yang disiapkan,” terang Ida saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Selain itu, menurut Ida beberapa hotel kini juga sudah mengadopsi inovasi teknologi digital, seperti teknologi nirkontak yang mengurangi kontak langsung ke fasilitas publik.

“Kami sudah melakukan sosialisasi, beberapa hotel sudah terverifikasi. Teknologi digital kini telah menjadi alat yang digunakan demi menerapkan social distancing . Hotel bintang 3,4,dan 5, serta restoran sudah dilengkapi inovasi ini,” tuturnya.

Selain itu, Ida juga menekankan bahwa pemulihan ini tidak hanya bisa diupayakan oleh para pelaku hotel dan restoran saja. Mengingat, penyebaran virus asal Wuhan ini bisa terjadi di mana saja. Terutama, fasilitas umum dan kawasan wisata yang rawan keramaian.

“Percuma hotel dan restoran sudah menjalankan protokol kesehatan baik, tetapi pada akhirnya tetap ada penyebaran di luar. Maka, saat ditemukan kasus penambahan wabah di Bali, industri ini akan tutup kembali. Dampaknya, hotel dan restoran kembali terpuruk. Jadi, kesadaran seluruh komponen masyarakat harus ditekankan,” tuturnya.

Berita terkait: