Beda dengan Fintech Lending, Pinjaman Online Dipastikan Ilegal

Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko, menyebut selama ini ada pemahaman keliru antara fintech pendanaan atau peer-to-peer (P2P) lending dengan pinjaman online (pinjol). Sebab, pinjol dipastikan ilegal karena tidak terdaftar maupun berizin di OJK.

“Nah ini saya ingin menyampaikan kepada bapak-bapak ibu-ibu anggota dewan yang terhormat. Izinkan kami memberikan penjelasan, bahwa fintech itu sering dikonotasikan dengan pinjaman online afau pinjol yang selalu ramai di masyarakat dan di media. Di mana, kita semua tahu istilah pinjaman online ini adalah ilegal bapak-bapak ibu-ibu, mereka tidak berizin atau tidak terdaftar di OJK tapi mereka menjalankan usaha seperti kita,” terangnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI, Kamis (14/1).

Selain itu, pinjol dipastikan tidak melakukan proses identifikasi, seleksi, dan proses skoring secara proper terhadap setiap calon penerima pinjaman dalam menjalankan bisnisnya. “Sehingga, mereka memberikan pinjaman secara serampangan atau gegabah,” imbuhnya.

Sunu menambahkan, perbedaan lainnya ialah identitas dari pengurus pinjol maupun alamat kantornya tidak jelas. Lalu, sebagai jaminan, pinjol memilih untuk mengakses data pribadi pengguna secara bebas yang mana ini melanggar aturan POJK 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi pada akhir 2020.

“Kalo kami under POJK 77 kami sangat dibatasi data yang di ambil, kami tidak boleh mengakses data kontak. Nah, mereka ini mengakses data kontak, dimana data tersebut yang akhirnya digunakan pada saat untuk penagihan,” ucapnya.

Oleh karena itu, dia meminta seluruh masyarakat agar tak tergiur oleh berbagai penawaran menarik dari pinjol. Mengingat ada banyak dampak negatif yang akan ditanggung pengguna.

“Jadi, ini yang membedakan antara kami dengan fintech ilegal atau pinjol yang ramai saat ini,” tutupnya.

Berita terkait: