5 Juta Pekerjaan Hilang Akibat Lesunya Industri Penerbangan

Sosiolog Universitas Indonesia, Ricardi S Adnan, mengatakan penurunan sektor penerbangan diproyeksikan bisa menurunkan PDB dunia sebesar 0,02 persen hingga 1,98 persen. Imbas lanjutannya mengakibatkan hilangnya pekerjaan 4,2 juta-5 juta pekerja secara global.

Sejak covid-19 mulai muncul sejak awal tahun 2020, lanjutnya, pergerakan revenue passenger kilometres (RPK) global mengalami penurunan yang sangat cukup drastis hingga Maret 2020. Kemudian sejak April 2020 barulah mengalami tren peningkatan kembali namun lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019.

“Passenger load factor (PLF) di bulan Juni 2020 turun ke 57,6 persen terendah sepanjang sejarah. Industri kargo menunjukkan tren naik sejak Mei 2020 walaupun masih di bawah angka pada tahun 2019. Freight Tonne kilometres (FTK) pada bulan Mei 2020 turun sebesar 20,1 persen yoy dan 17,6 persen yoy pada bulan Juni 2020,” jelas Ricardi dalam webinar Resiliensi Kinerja dan Strategi Pemulihan Bisnis Sektor Transportasi Udara Pada Saat dan Pasca Pandemi covid-19, Rabu (23/9).

Padahal, menurutnya, secara langsung sektor penerbangan telah menyediakan lapangan pekerjaan, penerimaan pajak, dan investasi bagi perekonomian. Namun, di masa pandemi ini, beberapa aspek sektor penerbangan mengalami penurunan, sehingga banyak maskapai penerbangan global yang membutuhkan bantuan pemerintah agar cash flownya tetap terjaga, seperti penerbangan asal Jerman yakni Luthfansa, termasuk Garuda Indonesia.

Lesunya Sektor Penerbangan Turunkan PDB Nasional -0,18 Persen

penerbangan turunkan pdb nasional

Bisnis penerbangan atau sektor jasa angkutan udara salah satu sektor paling merasakan dampak pandemi covid-19. Sosiolog Universitas Indonesia, Ricardi S Adnan, mengatakan penurunan wisatawan dan permintaan sektor penerbangan menurunkan PDB nasional sebesar -0,18 persen. Kemudian konsumsi rumah tangga juga akan turun -0,55 persen dan tenaga kerja akan turun -0,54 persen.

“Dua jenis simulasi dilakukan dalam studi ini untuk melihat dampak covid-19 secara keseluruhan dan dampak penurunan permintaan pada sektor penerbangan,” kata Ricardi.

Covid-19 menyebabkan adanya disrupsi perdagangan internasional karena resesi global, penurunan jumlah wisman, containment measure atau pembatasan sosial dan disertai adanya stimulus fiskal.

Sedangkan untuk dampak menurunnya permintaan sektor penerbangan, disebabkan turunnya wisman 75 persen dan turunnya air travel lokal karena covid-19 berdasarkan Google mobility report (asumsi sampai bulan Agustus).

“Yang menjadi tantangan kita paling tidak tren yang kita temukan sudah terlihat salah satunya adalah dampak covid-19 pada PDB itu sudah dapat dipastikan minus, dari hasil kami antara -4,97 persen, dengan penurunan PDB terbesar dirasakan DKI Jakarta 7,5 persen; Bali 7,3 persen; Banten 7 persen, dan Jabar 6,6 persen,” pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Penerapan Protokol Kesehatan Seharusnya Tak Hambat Upaya Menggairahkan Penerbangan
Menhub Budi Sebut Sektor Penerbangan Paling Ketat dalam Penerapan Protokol Kesehatan
Menhub Budi Bongkar Alasan Pelibatan Youtuber untuk Kampanyekan Penerbangan
Maskapai Kanada Batal Terbang karena Satu Balita Rewel Tak Mau Pakai Masker
Lion Air Sebut 60 Persen Masyarakat Naik Pesawat Saat ini untuk Keperluan Bisnis
Arab Saudi Mulai Buka Penerbangan Untuk 25 Negara, Termasuk Indonesia, Ini Syaratnya
Garuda Indonesia Izinkan Penumpang Duduk Bersebelahan Saat Pandemi, ini Syaratnya

Baca Selanjutnya: Lesunya Sektor Penerbangan Turunkan PDB…

Halaman

  • 1
  • 2

Berita terkait: