Wali Kota di Prancis Dikecam Karena Hapus Daging dari Menu Makan Siang Sekolah

Pemerintah Prancis pada Minggu menuding Wali Kota Lyon yang merupakan politikus Partai Hijau, menghina tukang daging dan merusak kesehatan anak-anak karena menghapuskan daging dari menu makan siang sekolah di kota itu.

Wali Kota Lyon, Gregory Doucet membela keputusannya, mengatakan ide menyediakan menu tunggal tanpa daging adalah untuk memastikan lancarnya pelayanan makan siang selama diterapkannya jaga jarak sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Lyon juga dipandang sebagai pusat kuliner di negara itu, dikenal karena makanan lezat dengan menu berbasis daging.

“Mari hentikan menyuguhkan ideologi ke piring anak-anak kita,” kata Menteri Pertanian Prancis, Julien Denormandie di Twitter, dikutip dari France 24, Senin (22/2).

“Beri mereka apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh dengan baik. Daging adalah bagian dari itu,” lanjutnya.

Denormandie menambahkan, dia telah meminta pejabat pemerintah kota itu untuk membatalkan kebijakan itu.

‘Hinaan yang tak bisa diterima’

Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin mengatakan langkah Wali Kota Lyon itu adalah “penghinaan yang tak bisa diterima” terhadap petani dan tukang daging Prancis.

“Kita dapat melihat bahwa kebijakan moralisasi dan elitis Partai Hijau mengesampingkan kelas-kelas populer. Banyak anak hanya sering makan daging di kantin sekolah.”

Doucet membalas di Twitter, mengatakan langkah tersebut diambil “semata-mata” karena krisis kesehatan dan menambahkan pendahulunya dari sayap kanan Gerard Collomb juga melakukan “tindakan yang persis sama” selama gelombang pertama pandemi.

Dia mengatakan menu — termasuk ikan dan produk telur — “seimbang untuk semua anak sekolah kita”.

Doucet bukanlah pejabat pertama dari Partai Hijau yang menuai kontroversi.

Tahun lalu, Wali Kota Baru Bordeaux, Pierre Hurmic memutuskan untuk menyingkirkan pohon Natal tradisional kota sebagai bagian dari agenda pro lingkungan, mengatakan “tidak akan meletakkan pohon mati di alun-alun kami”.

Doucet juga pernah mengatakan agenda olahraga paling terkenal di Prancis — Tour de France itu “macho dan mencemari” dan tidak diterima kembali di kota itu selama tidak “bertanggung jawab terhadap lingkungan”.

Berita terkait: