[UPDATE] Naik 2.266, Ini Provinsi Penambahan Kasus COVID-19 Tertinggi

Jakarta, – Kasus COVID-19 di Indonesia mengalami penambahan 2.266 orang hari ini, Kamis (20/8/2020). Sesuai data yang dirilis Satgas Penanganan COVID-19, total kasus virus corona meningkat menjadi mencapai 147.211 orang.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan kasus COVID-19 harian tertinggi, yaitu 594 kasus. Diikuti Jawa Timur 372 kasus, Jawa Barat 199 kasus, dan Kalimantan Selatan 181 kasus.

1. Jumlah kabupaten atau kota yang sudah terinfeksi COVID-19 menjadi 485, ini detail angka kasusnya

Naik 2.266, Ini Provinsi Penambahan Kasus COVID-19 Tertinggi”] Ilustrasi ambulans COVID-19 (/Candra Irawan)

Virus corona telah menyebar ke 485 kabupaten/kota di 34 provinsi Indonesia. Berikut ini data rincian penyebarannya:

1. Aceh 1.137 kasus
2. Bali 4.292 kasus
3. Banten 2.434 kasus
4. Bangka Belitung 220 kasus
5. Bengkulu 286 kasus
6. Yogyakarta 1.138 kasus
7. DKI Jakarta 31.610 kasus
8. Jambi 250 kasus
9. Jawa Barat 8.988 kasus
10. Jawa Tengah 12.092 kasus
11. Jawa Timur 29.257 kasus
12. Kalimantan Barat 471 kasus
13. Kalimantan Timur 2.697 kasus
14. Kalimantan Tengah 2.291 kasus
15. Kalimantan Selatan 7.544 kasus
16. Kalimantan Utara 337 kasus
17. Kepulauan Riau 680 kasus
18. Nusa Tenggara Barat 2.526 kasus
19. Sumatera Selatan 3.988 kasus
20. Sumatera Barat 1.483 kasus
21. Sulawesi Utara 3.401 kasus
22. Sumatera Utara 5.957 kasus
23. Sulawesi Tenggara 1.277 kasus
24. Sulawesi Selatan 11.278 kasus
25. Sulawesi Tengah 233 kasus
26. Lampung 352 kasus
27. Riau 1.097 kasus
28. Maluku Utara 1.761 kasus
29. Maluku 1.611 kasus
30. Papua Barat 640 kasus
31. Papua 3.520 kasus
32. Sulawesi Barat 323 kasus
33. Nusa Tenggara Timur 165 kasus
34. Gorontalo 1.875 kasus.

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia

2. COVID-19 terbukti menular melalui airborne

Naik 2.266, Ini Provinsi Penambahan Kasus COVID-19 Tertinggi”] Ilustrasi Swab Test. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Profesor Amin Soebandrio mengungkapkan, COVID-19 dapat menyebar melalui udara dan hal ini bukan suatu temuan baru. Bahkan, dia sudah mencurigai hal ini sejak awal kemunculan pandemik.

“Jika ada droplet kemudian ada aliran udara yang cukup kuat (virus COVID-19), bisa terbawa angin dan terbang karena volumenya jadi lebih kecil, relatif ringan karena kadar airnya berkurang,” ujarnya saat dihubungi , Selasa 7 Juli 2020.

Amin menerangkan, virus COVID-19 bisa keluar bersama droplet (cairan) yang dihasilkan ketika bersin atau batuk. Droplet yang menempel pada benda-benda yang tersentuh orang lain bisa menularkan virus-virus tersebut.

Namun, sebagian virus menyebar lewat udara (airborne) saat droplet berubah menjadi partikel yang lebih kecil dan mudah menyebar di udara.

“Sebagian besar memang menular melalui droplet, tapi dalam situasi tertentu bisa. Seperti di rumah sakit saat dilakukan prosedur pemasangan ventilator, pengisapan lendir, atau terapi nebulizer,” jelasnya.

Bahkan menurut Amin, sudah ada bukti dari pengamatan bahwa virus COVID-19 menular melalui airbone. Dia mencontohkan kasus di suatu restoran yang tertutup, misal pengunjung di meja yang bersin maka virus bisa saja satu ruangan kena.

“Ini juga bisa terjadi di ruang kerja, di perkantoran dengan AC split serta tertutup maka droplet bisa terembus udara dan hanya berputar satu ruangan,” imbuhnya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Uji Materi Perppu COVID-19 Hadirkan Menkumham dan Menkeu Hari Ini
  • 20 Tahun Reformasi: Negara Masih Takut Ungkap Kasus 65
  • 66 Jam yang Menegangkan: Kronologi Jelang Soeharto Lengser

3. Kasus positif COVID-19 di dunia mencapai 22,5 juta orang

Naik 2.266, Ini Provinsi Penambahan Kasus COVID-19 Tertinggi”] Seorang pelancong melakukan tes virus corona (COVID-19) secara sukarela pada pusat pengujian di stasiun layanan Hochfelln di jalan tol A8 dekat kota Bergen, Jerman, Kamis (30/7/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Michael Dalder)

Mengutip laman situs worldometers.info , hingga 20 Agustus 2020 pukul 15.31 WIB, secara global terdapat 22.598.305 orang terpapar virus corona. Kasus terbanyak masih berada di Amerika Serikat dengan 5.701.162 kasus.

Dari 22,5 juta kasus itu, sebanyak 791.299 di antaranya meninggal dunia. Sementara pasien yang sembuh mencapai 15.316.684 orang.

4. Pengertian dan gejala-gejala COVID-19

Naik 2.266, Ini Provinsi Penambahan Kasus COVID-19 Tertinggi”] Seorang dokter menunjukkan alat tes swab virus Corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020). Alat tersebut nantinya dapat melakukan tes virus corona hingga 1.300 sampel tiap harinya (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Tiongkok, pada akhir Desember 2019. Virus ini telah menyebar ke wilayah lain di Tiongkok dan ratusan negara, termasuk Indonesia.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) , dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang mampu membunuh virus corona. 

Bagaimana gejala virus corona? Infeksi COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Tapi dalam beberapa kasus, pasien positif Corona tak menunjukkan gejala khusus.

Hari pertama, penderita virus corona mengalami demam atau suhu tinggi, nyeri otot, dan batuk kering. Sebagian kecil diare atau mual beberapa hari sebelumnya. Ada juga yang hilang penciuman. Hari kelima, penderita kesulitan bernapas, terutama penderita lansia atau mereka yang memiliki penyakit kronis.

Hari ketujuh, menurut penelitian Universitas Wuhan, gejala yang dialami penderita mulai semakin parah. Penderita biasanya perlu dirawat di rumah sakit. Hari kedelapan, penderita dengan kasus yang parah memperlihatkan sindrom gangguan pernapasan akut. Paru-parunya dipenuhi cairan dan kesulitan bernapas hingga menyebabkan gagal napas.

Hari ke-10, penderita dengan kasus ringan mengalami sakit perut dan kehilangan nafsu makan. Hanya sebagian penderita yang meninggal dunia. Hari ke-17, rata-rata penderita sembuh dari virus corona dan keluar dari rumah sakit.

Bagaimana mencegah virus corona? Sering Mencuci tangan pakai sabun, gunakan masker, mengonsumsi gizi seimbang, hati-hati kontak dengan hewan, cukup istirahat dan olahraga, jangan konsumsi daging mentah, bila batuk, pilek, dan sesak segera ke fasilitas kesehatan.

Jika membutuhkan beberapa nomor telepon terkait virus corona, kamu bisa menghubungi beberapa nomor penting ini, yakni Hotline Kemenkes (+62 812 1212 3119, 119 ext 9, (021) 521 0411), atau mengunjungi beberapa situs terkait virus corona antara lain kemkes.go.id, arcgis.org, jakarta.go.id, healthmap.org, jabarprov.go.id, cdc.gov, jhu.edu. Kamu juga bisa mengunjungi web resmi pemerintah daerah untuk mencari informasi terkait perkembangan virus corona di daerah kamu tinggal.

Baca Juga: [LINIMASA-3] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia

Berita terkait: