UGM Gandeng Filipina Ciptakan Obat Antivirus dan Antiinflamsi

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta , resmi bekerja sama dengan PT Filipina Antiviral Indonesia (FAI) mengembangkan obat antivirus dan antiinflamsi, termasuk untuk pengobatan Covid-19.

Kerja sama tersebut telah ditandatangani Rektor UGM Panut Mulyono dan Presiden Direktur PT FAI Mario Parcusa Marcos pada 23 Oktober 2020.

Sedang menurut Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM, Paripurna, Rabu (2/12/2020), mengatakan kerja-sama tersebut sejalan dengan misi Pemerintah RI mengenai peningkatan kemandirian obat dalam negeri yang berfokus pada empat bidang. Yaitu bahan baku natural kimia farmasi dan vaksin dilakukan sebagai wujud konkret dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri di sektor kesehatan, termasuk di dalamnya memproduksi obat Covid-19.

“Pengembangan obat saat ini berada di tahap konsultasi dengan BPOM dan komite etik, dan pengembangannya akan dilakukan bersama dengan Bio Farma,” ujar Paripurna melalui keterangan secara virtual dengan aplikasi Zoom .

Selain dalam bidang pengembangan obat-obatan, PT FAI juga mendukung pengembangan laboratorium bioteknologi di UGM dan memberikan dana abadi untuk program pascasarjana bagi para peneliti yang bergerak dalam pengembangan obat.

Proximate Coordinating Investigators dari UGM, dr Jarir At-Thobari menuturkan kerja sama ini berawal dari keinginan UGM untuk mengembangkan teknologi obat antivirus dan antiviral, bahkan vaksin di Indonesia. Filantropi dari Filipina melalui PT FAI pun bersedia berkolaborasi.

“Selama ini jenis obat antivirus dan antiinflamasi yang ada masih sangat sedikit dan belum ada yang langsung diteliti dan diproduksi di Indonesia,” tuturnya.

BACA JUGA

Bio Farma Siapkan Infrastruktur Digital untuk Penyediaan dan Layanan Vaksin Covid-19

Bahkan nantinya juga dikembangkan fasilitas bagi ilmuwan dari Filipina dan Indonesia untuk bisa bekerja sama lebih lanjut dalam mengembangkan produk obat, kemudian vaksin, juga kemungkinan ke arah uji coba yang menjadi salah satu teknologi kesehatan yang sangat diperlukan.

“Kami melibatkan tidak hanya peneliti dari fakultas kedokteran kesehatan masyarakat dan keperawatan UGM namun juga dari rumah sakit jejaring juga dari fakultas farmasi UGM, kemudian di dalam proses penelitiannya kami akan menggunakan standar yang sudah ditetapkan baik di internasional maupun nasional yaitu akan berbasis pada cara uji klinik yang baik dan juga cara penelitian di laboratorium yang baik,” terangnya.

Dalam pengembangannya, obat antivirus dan antiinflamasi ini juga akan menggunakan bahan baku dari Indonesia dengan menjadikan UGM sebagai pusat industrinya.

BACA JUGA

Korut Dapat Vaksin Covid-19 dari Tiongkok

Penelitian termasuk uji klinis akan dimulai pada awal 2021 dan target hilirisasi pada 2022. Saat ini, UGM sedang menunggu rekomendasi dari BPOM dan komite etik supaya obat antivirus dan antiinflamasi bisa memasuki tahap praklinis sampai uji ke manusia.

Sementara Direktur Utama Filipina Antiviral Indonesia, Mario Pacurso Marcos, berharap dukungan pengembangan obat antivirus dan antiinflamasi, pengembangan laboratorium bioteknologi UGM serta pemberian beasiswa kepada peneliti muda yang berkontribusi positif bagi kedua negara Filipina dan Indonesia bisa memberikan manfaat bagi kedua negara.

“Kerja sama ini ditujukan untuk pengembangan obat anti inflamasi dan anti viral, atau pengembangan formulasi obat sebagai tambahan dukungan untuk pengembangan lab. Biotech internasional dalam industri farmasi yang sebelumnya terpisah,” ujarnya.

Berita terkait: