“Tuesday with Morrie”, memantik optimisme bersama Mitch Albom

Jakarta – Virus Corona menebar duka. Airmata meleleh di pipi buat anak negeri, karena korban baru dari hari ke hari terus berjatuhan.

Pandemi ini demikian menguras energi sukacita karena dukacita terus datang tiada henti. Sepuluh bulan lebih, Indonesia dicekam bahkan dihantui pandemi COVID-19. Boleh jadi, kita para youngster mengajukan pertanyaan: apa makna hidup ini? Bagaimana memantik optimisme di tengah galau pandemi ini?

Nyali bisa jadi ciut setelah membaca berita dari berbagai media massa, baik media portal maupun media elektronik. Betapa tidak? Kasus positif virus corona (COVID-19) di Indonesia bertambah sebanyak 10.047 orang, Selasa (12/1). Total mereka yang positif terinfeksi virus corona menjadi 846.765 orang.

Jumlah pasien COVID-19 yang dinyatakan sembuh hingga artikel ini ditulis adalah 7.068 orang, sehingga total pasien sembuh 695.807 orang.

Sementara itu, pasien yang meninggal bertambah 302 orang, dengan demikian totalnya menjadi 24.645 orang, sebagaimana dikutip dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga Selasa pekan ini pukul 12.00 WIB. Tercatat pula jumlah suspek COVID-19 mencapai 54.827 orang. Sedangkan spesimen yang diperiksa sebanyak 70.309 spesimen.

Apa dan bagaimana makna hidup ini saat menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia? Roda kehidupan terus berjalan, roda kematian terus mengancam.

kita boleh jadi saling mengajukan pertanyaan, kapan pandemi ini berakhir? Bukan sebatas ujaran, tetapi harapan sarat optimistis bahwa “badai pasti berlalu”.

Mitch Albom, yang dikenal sebagai penulis untuk Detroit Free Press, dengan novel berjudul “Tuesday with Morrie”, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Selasa Bersama Morrie, Pelajaran tentang Makna Hidup, gamblang menyajikan 14 hari Selasa sarat makna seputar optimisme.

Novel itu pertama kali diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, pada 2001. Dengan gemilang, novel ini menyabet predikat bergengsi sebagai International Bestseller.

Dalam 14 hari Selasa, Albom – yang dikenal kondang sebagai kolumnis olahraga Amerika Serikat nomor satu oleh Associated Press Sports Editors – bersua dan berbicara dengan mantan professornya bernama Morrie Schwartz, yang mengajar studi sosiologi di Brandeis University di kota Waltham, Massachusetts, Amerika Serikat.

Dari Selasa pertama bergulir ke Selasa berikutnya, Albom sebagai “aku” berbicara dengan Morrie sebagai “engkau”, meski mantan professornya itu menderita “amyotrophic lateral sclerosis” (ALS), penyakit ganas yang menyerang sistem saraf.

Gambaran kontras seakan mengimbau serentak menohok perhatian pembaca. Akibat deraan ALS itulah, sang mahaguru tidak lagi dapat menghadirkan masa silam sarat kegembiraan dengan melakukan hobi dansa dalam iringan tembang Rock and roll, big band, dan blues.

Albom memanggil Morrie sebagai “coach”, sementara Morrie memanggil Albom sebagai “player”. Dalam balutan kenangan hampir dua puluh tahun silam, sang profesor bersama murid kesayangannya itu hendak menunjukkan kepada pembaca sebuah jalan pulang optimisme saat kegembiraan terus tergerus oleh bayang-bayang kematian.

“Kematian mengakhiri hidup, tetapi tidak mengakhiri suatu hubungan,” demikian salah satu nukilan dari novel itu yang menyasar kepada sejumlah pertanyaan seputar cinta dalam persahabatan, tanggungjawab, spiritualitas, dan kesadaran.

Setelah membaca pertanyaan-pertanyaan itu, muncul pertanyaan, bagaimana Albom merekonstruksi optimisme untuk memproduksi kembali kenangan bersama dengan Morrie?

Penulis novel – yang juga berprofesi sebagai pembawa acara pada suatu program radio di WJR, Detroit, Amerika Serikat – setiap Selasa mengunjungi mantan profesornya itu.

Keduanya bergerak dalam horizon persahabatan guru dan mahasiswa yang sama-sama mengusung kredo bahwa kita dapat kembali ke masa silam untuk merekonstruksi sejumlah makna perjalanan hidup.

Mitch – demikian Morrie memanggil mantan muridnya itu – hendak melebur horizon masa silam agar membawa pembaca kepada masa kini yang memantik optimisme dan memunculkan harapan.

Kita sebagai pembaca hendak dibawa oleh penulis kepada upaya membersihkan diri dari jelaga pesimisme. Empat belas pertemuan setiap Selasa mencetuskan sejumlah topik yang bukan sebatas romantisme masa lampau melainkan imbauan bahwa “aku dan engkau bermakna”.

Relasi “aku dan engkau”, Albom dan Morrie, terbalut dalam empat belas topik Selasa, yakni tentang dunia, tentang mengasihani diri sendiri, penyesalan diri, kematian, tentang keluarga, tentang emosi, takut menjadi tua, tentang uang, cinta yang tidak padam, perkawinan, budaya, bicara tentang maaf, bicara tentang hari yang paling baik. Selasa keempat belas bertajuk “kami saling mengucapkan kata perpisahan”.

Setelah menderita ALS, Morrie lantas berujar kepada Mitch, “Memang, sekarang aku harus memandang hidup ini secara unik. Yang mau tak mau harus kuhadapi. Aku tak bisa berbelanja, aku tak bisa pergi ke bank sendiri, aku tak bisa membuang sampah.”

“Namun aku dapat duduk di sini mengisi hari-hariku yang semakin berkurang dan memikirkan apa yang penting dalam hidup. Aku memiliki dua hal, waktu dan alasan untuk melakukannya. (halaman 53).

Nukilan itu termuat dalam topik Selasa pertama yang melibatkan tanya jawab sang murid dengan sang profesor. Keduanya terus bertukar gagasan demi gagasan yang berwarna kontemplatif, dalam arti setiap manusia ditentukan dan divonis oleh sejarah – dari kelahiran menuju kematian – karena itu baik Albom maupun Morrie tidak ingin tercekat oleh vonis ajal.

Mitch dan Morrie sama-sama menyebut dirinya sebagai “Kita ini manusis Selasa”. Keduanya merangkum optimisme saat menghadapi kemalangan, saat merespons kematian, justru dengan mencintai dan merayakan hidup ini.

“Mitch, … Tapi aku ingin memberitahumu satu hal yang sekarang paling banyak kupelajari sehubungan dengan penyakit ini.” Apa itu, tanya Mitch pula.

Morrie menjawab, “Yang paling paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang.” Ia kemudian berbisik, “Biarkan cinta itu datang….”

Cinta sarat perhatian dan persahabatan sejati dari Mitch kepada Morrie memuncak dalam narasi penulis bahwa, “Dalam bisnis, orang berunding untuk menang. Mereka berunding untuk mendapatkan yang mereka inginkan.”

“Mungkin kau terlalu terbiasa dengan pendekatan ini. Namun cinta adalah adalah sesuatu yang berbeda. Cinta adalah ketika kau peduli dengan situasi yang tengah dihadapi oleh seseorang dengan kepedulian sama seperti terhadap situasimu sendiri.” (halaman 190).

Percakapan Mitch dengan Morrie bermuara ke dalam oase optimisme di tengah gurun penderitaan menghadapi kematian yang merangkak menyambangi sang profesor dari hari ke hari. Penulis novel ini pun bertekad lepas dari belenggu interpretasi dari setiap momen kebersamaan dari Selasa ke Selasa lainnya.

Mitch kemudian menafsirkan obyektivitas fakta pengalaman hidup bersama Morrie dengan menulis, “Aku ingin memiliki kejelasan yang telah tampak olehnya. Siapa pun yang bingung atau jiwanya tersiksa memerlukan kejelasan itu. Tanyakan kepadaku apa saja, kata Morrie.”

Maka aku menulis daftar berikut: Kematian, Ketakutan, Usia Lanjut, Kerakusan, Perkawinan, Keluarga, Masyarakat, Maaf, Hidup yang bermakna.” (halaman 70).

Hidup yang bermakna lantas dimaknai oleh Morrie dalam pernyataannya yang bernas mengenai gambarannya mengenai siapa sebenarnya dunia manusia, siapa engkau siapa aku.

“…kebanyakan kita hidup seperti orang yang berjalan sambil tidur. Kita sesungguhnya tidak menghayati dunia ini secara penuh, karena kita separuh terlelap, mengerjakan semuanya yang terpikir oleh kita…Ketika kita sadar bahwa kita akan mati, kita melihat segala sesuatu secara berbeda.” (halaman 88).

Morrie meninggal dunia pada Sabtu pagi. Ia memasuki masa koma selama dua hari setelah kunjungan Mitch yang terakhir, meski ia masih dapat bertahan melewati satu siang dan satu malam lagi.

Pada tanggal empat November, ketika orang-orang yang disayanginya meninggalkan dia sebentar – untuk mengambil kopi hangat di dapur – Morrie menghembuskan napas terakhir. Akhirnya ia pergi. (halaman 200).

Novel “Tuesday with Morrie” ini–di tengah pandemi COVID-19 di Indonesia–hendak menawarkan satu horison makna hidup optimistis bahwa, “Apabila Anda cukup beruntung dapat menemukan jalan menuju guru semacam itu, Anda akan selalu tahu jalan pulang. Terkadang jalan itu hanya ada dalam pikiran Anda.” (halaman 206).

Aku membaca “Tuesday with Morrie”, maka aku ada.

Baca juga: Buku Ilham Bintang berisi kumpulan artikelnya sepanjang tahun

Baca juga: Kereta mesin menuju pulau seberang

Baca juga: “Suteru! Gijutsu” karya penulis Nagisa Tatsumi hadir di Indonesia

Berita terkait: