Tips Sukses Pengusaha yang Mampu Balikan Rugi Rp 14 Miliar Jadi Untung 5 Kali Lipat

Setiap pengusaha pasti pernah mengalami rugi dan keterpurukan bisnis. Namun, pengusaha sukses menjadikan kegagalan justru sebagai batu loncatan.

Seperti Ali Katz. Dilansir dari CNBC, pendiri perusahaan finansial dan hukum keluarga seperti Eyes Wide Open, Personal Family Lawyer, dan New Law Business Model ini menceritakan saat pertama kali menjadi pengusaha.

Dia berpikir bahwa kesuksesan ditentukan saat seorang pengusaha berhasil menghasilkan USD 1 juta atau setara Rp 14 miliar. Dengan kepercayaan itu, Ali sekarang dapat mewujudkan keuntungan itu sebanyak 2 kali dalam 5 tahun.

“Setelah 3 tahun, perusahaan hukum pribadi saya menghasilkan tujuh angka dalam pendapatan tahunan. Kemudian, usaha kedua saya yang bergerak di bidang pelatihan online mulai menghasilkan pendapatan lebih dari USD 1 juta dalam 18 bulan,” ujar Ali pada tim CNBC Make-It.

Saat mampu menghasilkan uang dengan nominal cukup besar, Ali merasa sudah menemukan cara efektif dalam menghasilkan sekaligus mengelola uangnya.

Namun keberhasilannya juga berasal dari kegagalan yang dia lalui. Seperti kesalahan hukum, asuransi, dan keuangan yang secara kolektif bahkan menyebabkan kerugian lebih dari USD 1 juta.

“Saya saat itu merasa gagal, tetapi saya tidak melihat hal yang seperti itu sekarang. Salah langkah itu dapat membantu saya belajar bagaimana mengelola sumber daya dan menjadikan saya CEO dan pengusaha wanita yang lebih baik,” tambah Ali.

Di 2012, Ali memulai perusahaan pelatihan New Law Business Model dengan tujuan melatih para pengacara agar dapat membantu keluarga dan pemilik bisnis supaya tidak membuat kesalahan secara hukum.

“Sejak pendekatan saya dirombak, bisnis saya menghasilkan USD 5 juta dalam setahun dan memungkinkan saya menjalani kehidupan yang saya impikan,” pungkasnya.

Berikut adalah hal-hal yang dipelajari oleh Ali Katz dari kegagalannya sejak hari pertama dirinya membangun bisnis.

1. Jangan Malu Jika Tidak Tahu

malu jika tidak tahu

Ali Katz membagi kisah ambisiusnya saat masih di sekolah hukum. Ketika banyak murid di sekolah cenderung ingin duduk di baris paling belakang, Ali selalu memilih barisan paling depan dan siap mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan.

Namun, saat sudah memulai bisnisnya sendiri, dia merasa sungkan jika harus mengajukan pertanyaan karena tidak mau terlihat seperti berpengetahuan sempit.

“Misalnya, dulu melihat laporan keuangan itu selalu berat bagi saya, karena tidak tahu harus memulai dari mana. Bahkan, setelah saya mempekerjakan CPA, keputusan tetap saya ambil berdasarkan uang yang saya miliki di bank dan berpikir semuanya akan beres dengan sendirinya,” kisah Ali pada CNBC Make-It.

Jujur akan ketidaktahuan bukanlah sebuah aib yang besar. Bahkan, dengan meminta bantuan yang lebih ahli, Ali dapat menghemat USD 50.000 untuk pajak di tahun berikutnya. “Kalau saya tetap bertahan dengan ke sok-tahuan, saya bisa terus kena tagihan pajak ‘kaget’ hingga USD 100.000, bahkan harus ambil pinjaman untuk menutupinya,” tambahnya.

Saat Membuat Perjanjian, Buat Kesepakatan Tertulis Meski Dengan Teman

perjanjian buat kesepakatan tertulis meski dengan teman

Bagi Ali, perjanjian tertulis merupakan suatu tahap awal untuk membangun kesepakatan. Lewat perjanjian tertulis, segala hal akan tertera sejelas mungkin di dalamnya mulai dari apa saja yang disetujui sampai dengan sanksinya.

“Meski saya merupakan seorang pengacara, dulu saya sering merasa kesepakatan tertulis bukanlah hal yang krusial. Tetapi, waktu membuat perjanjian dengan seseorang, saya akan merasa tidak aman, gugup, meski di sisi lain saya tetap bergerak maju tanpa perjanjian itu,” jelasnya.

Bahkan, Ali mengaku sempat menjadi orang yang santai jika perjanjian dibuat dengan kerabat dekat atau temannya. Menurutnya, selama dia memercayai orang tersebut, maka tidak akan ada masalah yang berarti.

Namun demikian, yang tidak disangka-sangka terjadi. “Saat meluncurkan produk website pertama, saya mempekerjakan seorang teman. Ketika saya perlu memindahkan proyek ini ke web developer lain, teman saya mengklaim bahwa source code situs itu miliknya dan saya harus membeli darinya seharga USD 25.000. Ini terjadi karena kami tidak membuat kontrak perjanjian di awal soal bekerja di sini,” sebutnya.

Oleh karena itu, segala hubungan baik tidak menjamin kesepakatan kerja yang baik. Jadi, harus dijelaskan sejak awal apa yang menjadi tujuan, harapan, dan kepentingan yang diperlukan dalam melakukan suatu kerjasama.

Terbuka Pada Bantuan Ahli

bantuan ahli

Dalam usaha awalnya, Ali bercerita bahwa dia membuat banyak keputusan terkait uangnya, meskipun mengatur uang bukanlah sesuatu yang dia sukai.

“Perusahaan rintisan terbaru saya bergerak dalam memandu orang untuk ‘membuka mata lebar-lebar’ (eyes wide open) tentang keputusan hukum (law), asuransi (insurance), keuangan (finance), dan pajak (tax) atau disingkat LIFT. Sistem ini berguna sebagai sebuah investasi yang mengembalikan keuntungan berkali-kali lipat,” ujarnya.

LIFT di sini berarti keberanian untuk menginvestasikan lebih pada orang orang tertentu, misalnya membayar seorang CFO paruh waktu dan pemegang pembukuan untuk mengatur pembukuan dan meninjau keuangan setiap minggu.

“Sehingga saya tahu saya tidak mengulangi kesalahan di masa lalu. Saya juga membayar pengacara untuk menyesuaikan persyaratan layanan, kebijakan privasi, dan perjanjian kami dengan anggota kami,” tambah Ali.

Karena, mempekerjakan penasihat hukum dan keuangan yang tepat adalah salah satu bentuk bahwa perusahaan dapat mengelola pertumbuhannya dengan baik.

Secara keseluruhan, saran terbaik dari Ali adalah meluangkan waktu, energi, dan uang yang diperlukan agar mendukung aspek LIFT dalam menjalankan bisnis. Selain itu, mempekerjakan orang yang tepat juga menjadi salah satu investasi terpenting yang dapat Anda lakukan untuk menstimulasikan tumbuh kembang bisnis Anda.

Reporter Magang: Theniarti Ailin

 

Baca juga:
Dibutuhkan Keteladanan Pemimpin dalam Selamatkan Bisnis di Masa Krisis
Simak, Pola Pikir yang Diperlukan Pebisnis di Masa Pandemi Corona Versi Kopi Tuku
Bukan IPK Tinggi, ini Kunci Sukses ala Menteri Sri Mulyani Untuk Generasi Milenial
Kisah Sanawi, Tak Lulus SD Kini Miliki 700 Karyawan dan Penghasilan Rp1,5 M
Passion Adalah Gairah Besar untuk Mencapai Tujuan, Ketahui Cara Mengembangkannya
Tips Temukan Minat yang Bisa Diubah Jadi Karir Sukses
Berawal dari Tukang Sapu, Pria Gunungkidul Ini Sekarang Jadi Miliarder

Berita terkait: