Tes Psikologi SIM Dianggap Bisa Turunkan Angka Pelanggaran dan Kecelakaan

Pemerhati masalah transportasi Budiyanto menilai, tes psikologi dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) penting dilakukan. Selain merupakan amanah undang-undang, tes psikologi juga merupakan suatu kebutuhan untuk menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.

“Kualitas konsentrasi manusia pada saat beraktivitas, termasuk saat mengendarai kendaraan bermotor dapat dilihat dari aspek-aspek psikoligis. Begitu pentingnya aspek psikologis untuk diketahui bagi pemohon SIM dengan cara memberlakukan persyaratan tes psikologis. Persyaratan tes psikologis itu selain merupakan amanah undang-undang juga merupakan suatu kebutuhan untuk menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas,” ujar Budiyanto, Senin (20/7/2020).

Dikatakan Budiyanto, kemampuan seseorang dalam mengemudikan kendaraan bermotor secara legalitas dapat dilihat dari golongan SIM yang dikantongi. Kemampuan yang dimiliki menjadi jaminan ketika mengendarai kendaraan bermotor di jalan. Pengendara harus paham tentang tata cara berlalu lintas yang benar atau mengetahui rambu-rambu agar tidak melakukan pelanggaran dan terhindar dari potensi risiko kecelakaan lalu lintas, termasuk memberikan jaminan keselamatan berlalu lintas bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain.

“Hasil analisa dan evaluasi bahwa setiap kejadian kecelakaan lalu lintas diawali dengan pelanggaran lalu lintas. Melaksanakan tata cara berlalu lintas yang benar berarti meniadakan pelanggaran lalu lintas dan sekaligus menghindari potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas,” ungkapnya.

Budiyanto menyampaikan, kecelakaan lalu lintas di kota-kota besar, termasuk di Ibu Kota Jakarta, relatif masih cukup tinggi. Hal itu menggambarkan disiplin masyarakat pengguna jalan dalam menjalankan tata cara berlalu lintas belum maksimal.

“Tapi ini bisa kita maklumi karena kita dihadapkan pada masyarakat yang heterogen, memiliki latar belakang dan tipe (karakter) manusia yang berbeda,” katanya.

Menurut Budiyanto, guna mengetahui tipe manusia dari aspek rohani seperti kemampuan konsentrasi, kecermatan, pengendalian diri, kemampuan menyesuikan diri, stabilitas emosi, dan ketahanan kerja, dapat dilihat dari sisi psikologisnya.

Berdasarkan Pasal 81 ayat 1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, untuk mendapatkan SIM setiap orang harus memenuhi persyaratan antara lain adalah masalah kesehatan. Pada ayat 4 persyaratan kesehatan sebagaimana yang dimaksud meliputi:
a. Sehat jasmani dengan surat keterangan dari dokter.
b. Sehat rohani dengan surat lulus tes psikologis.

Persyaratan SIM juga diatur dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 9 tahun 2012 tentang SIM:

1. Pasal 24 ayat 1, persyaratan pendaftaran SIM: usia, administrasi, kesehatan.

2. Pasal 34 ayat 1, persyaratan kesehatan sebagaimana dimaksud Pasal 34 huruf C meliputi:
a. Sehat jasmani.
b. Sehat rohani.

3. Pasal 36 ayat 1:
a. Kemampuan konsentrasi.
b. Kecermatan.
c. Pengendalian diri.
d. Kemampuan penyesuaian diri.
e. Stabilitas emosi.
F. Ketahanan kerja.

Budiyanto mengungkapkan, dalam tata cara berlalu lintas yang benar disebutkan, para pengemudi kendaraan bermotor harus berlaku wajar dan penuh konsentrasi yang diatur pada Pasal 106 ayat 1 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ.

“Hal itu mengandung maksud untuk menciptakan etika berlalu lintas yang benar dan sekaligus dapat menghindari situasi yang berpotensi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Diketahui, kurang konsentrasi atau human error sebagai salah satu penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi,” tandasnya.

Berita terkait: