Teknologi 3D Printing Jadi Solusi Atasi Kelangkaan Swab Stick

Swab test menjadi cara utama dalam mendiagnosis apakah seseorang positif terinfeksi virus corona ( Covid-19 ) atau tidak.

Hingga saat ini, swab test menjadi standar diagnostik virus corona yang dianjurkan oleh organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), dikarenakan tingkat reliabilitas yang jauh lebih tinggi dibanding metode lainnya.

Swab test sendiri menggunakan mesin polymerase chain reaction (PCR), yang membutuhkan produk pengumpul spesimen yang bernama flocked swab atau swab stick . Sayangnya, hingga saat ini produk swab stick masih sangat langka di Indonesia dan hanya bisa didapatkan melalui impor.

Menyikapi hal tersebut, kehadiran teknologi 3D printing dinilai dapat membantu untuk menghasilkan produk swab stick dengan lebih cepat.

kehadiran teknologi 3D printing dinilai dapat membantu untuk menghasilkan produk swab stick.

Inisiatif tersebut, telah dilakukan oleh pemerintah Singapura yang mendukung produksi dan suplai swab stick dari perusahaan lokal. Salah satunya, United Additive Manufacturing (UAM), yang merupakan salah satu perusahaan jasa cetak 3D industri tertua di Singapura.

Ternyata, salah seorang pendiri perusahaan yang bergerak di bidang 3D printing ini merupakan warga negara Indonesia, bernama Sugianto Kolim.

Menurut Sugianto, saat ini swab stick yang diproduksi pihaknya dengan menggunakan teknologi 3D printer industrial sedang diuji oleh badan pemerintah terkait di Singapura.

“Produksi swab stick dengan 3D printer industrial sangat efektif dan fleksibel, berhubung setiap bentuk produk dapat diubah langsung tanpa membuat molding terlebih dahulu seperti teknologi injeksi. Adapun kecepatan produksi sangat cepat, kurang lebih 2.000 stick per hari per printer,” ungkap Sugianto dalam keterangannya kepada , Jumat (3/7/2020).

Pendiri Klix3D (salah satu perusahaan 3D printing di Indonesia) ini berujar, pihaknya menyambut baik anjuran pemerintah Indonesia yang mendukung keberadaan swab stick untuk diproduksi oleh perusahaan lokal.

“Menyambut baik anjuran pemerintah, UAM sedang menjajaki mitra di Indonesia untuk menduplikasi fasilitas produksi swab stick yang ada di Singapura ke Indonesia. Saat ini, fasilitas cetak 3D UAM di Singapura mampu mencetak berbagai materi untuk swab stick dan kebutuhan industri lainnya termasuk cetak 3D metal,” jelas Sugianto.

Untuk diketahui, kata Sugianto, cetak metal dengan 3D printer industrial merupakan salah satu teknologi mutakhir. Untuk produk yang tidak mungkin bisa dibuat dengan cara tradisional, bisa dicetak dengan metal 3D printer. Adapun materi yang bisa digunakan seperti aluminum, stainless steel, nikel alloy, cobalt chrome dan titanium.

“Cetak 3D metal sudah digunakan untuk berbagai aplikasi dari industri kesehatan seperti implan titanium, sampai dengan mesin roket yang lebih efisien dan kompak,” tegasnya.

Menurut Sugianto, dengan hadirnya teknologi 3D printing ini, diharapkan kelangkaan perangkat pendukung tes Covid-19 seperti swab stick bisa cepat teratasi.