Tanpa Vaksin, Pandemi Covid-19 Tidak Akan Berakhir

Ahli Epidemiologi sekaligus Koordinator tim respons Covid-19 UGM, dr Riris Andono Ahmad menegaskan, penularan virus Covid-19 masih sulit dikendalikan sebelum tersedianya vaksin, kemampuan menerapkan herd immunity , hingga terjadinya mutasi virus yang akan mempengaruhi durasi pandemi Covid-19.

Model penularan/paparan virus akan berulang, seperti halnya saat di DI Yogykarta, selain transmisi lokal, juga impor, dan impor ini merupakan penularan awal di DIY.

Secara nasional ujarnya, wacana bahwa masyarakat ke depan harus berdamai dengan virus lewat penerapan adaptasi cara hidup baru, harus dipahami secara bijaksana dan sesuai dengan protokol kesehatan. Tanpa itu, maka persebaran masih akan terjadi, lebih-lebih saat ini lanjutnya, pasien positif tanpa gejala, mendominasi, kasus terkonfirmasi positif.

Covid-19 , ujarnya merupakan penyakit menular. Penyebab utama seseorang terpapar virus ini adalah kekebalan tubuh yang lemah. Namun dalam kondisi tertentu orang yang terpapar Covid-19 hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tidak bergejala.

“Ini jelas menjadi tantangan besar pencegahan Covid-19 dan selama Covid-19 masih belum terkendali, pasien yang akan masuk ke rumah sakit mungkin bisa mencapai 15-20 persen penduduk,” jelasnya.

Namun dengan penerapan konsep herd immunity , hingga mayoritas populasi penduduk memiliki kekebalan tubuh yang baik, maka penyebaran virus bisa diminimalisir.

“Tetapi persoalannya, kekebalan tubuh ini tidak sama di setiap wilayah dan inilah yang menjadi tugas negara untuk meningkatkan nutrisi,” tegasnya.

Seperti halnya Guru Besar Statistika UGM Dedi Rosadi yang menyatakan bahwa dengan riset model Probabilistic Data Driven Model Covid-19 Indonesia, puncak pandemi akan terjadi akhir Juli sampai akhir Agustus 2020 dan berakhir pada akhir Februari 2021 dengan estimasi total kasus positif sekitar 227.000 penderita.

Maka dr Riris Andono Ahmad juga menyebut, pandemi Covid-19 paling cepat selesai pada akhir 2021, bahkan bisa lebih lama lagi jika tidak ditemukan vaksin yang potensial. Sehingga dengan demikian, stakeholder kesehatan harus berlomba, menciptakan vaksin atau justru ke-duluan virus menyebar semakin cepat.

Selain itu, juga dibutuhkan pengendalian mobilitas masyarakat secara permanen. Namun menurutnya, virus akan bermutasi sampai terjadi seleksi alam, dengan demikian, virus yang mampu bertahan hidup adalah virus yang memberikan gejala ringan.

Riris Andono Ahmad yang juga anggota Tim Perencanaan Data dan Analisa Gugus Tugas DIY ini menambahkan, selama kebutuhan imunitas masyarakat tidak tertangani dengan baik, ada kemungkinan besar kasus Covid-19 akan membesar.

Berita terkait: