Surplus Neraca Perdagangan Harus Dibarengi Perbaikan Fundamental

– Neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 kembali mengalami surplus sebesar US$ 2,44 miliar. Surplus ini dihasilkan oleh kinerja ekspor yang mencapai US$ 14,01 miliar atau meningkat 6,97% dibanding ekspor Agustus 2020. Sedangkan untuk nilai impor mencapai US$ 11,57 miliar atau naik 7,71%. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ini merupakan surplus kelima berturut-turut sepanjang tahun 2020 sejak bulan Mei.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus menilai, surplus perdagangan ini di satu sisi merupakan tren yang baik. Namun di sisi lain, perlu juga dilihat keberlanjutan ke depannya. Apalagi situasi global hingga saat ini juga masih diliputi ketidakpastian dengan adanya pandemi Covid-19.

“Kita tidak pernah tahu dinamika global ke depannya akan seperti apa. Sehingga yang perlu dilakukan adalah memperkuat fundamental ekspor kita dalam berbagai kondisi global yang tidak pasti. Jadi, mutlak diperlukan peningkatan daya saing produk ekspor. Bukan hanya dari sisi barang, tetapi juga dari iklim usaha dan aturan ekspor-impor, maupun juga diversifikasi pasar,” kata Ahmad Heri Firdaus, Jumat (16/10/2020).

BACA JUGA

Neraca Perdagangan September Surplus US$ 2,4 Miliar

Heri melihat, surplus perdagangan Indonesia ini belum mencerminkan peningkatan daya saing secara fundamental. Apalagi kondisi perekonomian negara lain juga sedang mengalami pelemahan yang bahkan sebagian lebih dalam dari Indonesia.

“Kita bisa surplus karena negara lain mungkin sedang ‘sakit’. Tetapi kalau negara lain sedang ‘sehat’, belum tentu juga kita bisa surplus. Makanya surplus ini harus diiringi juga dengan perbaikan-perbaikan secara fundamental,” imbuhnya.

Agar kinerja ekspor bisa terus baik, lanjut Heri, Indonesia harus memperkuat potensi produk yang bisa bersaing di pasar ekspor dengan memperkuat struktur industrinya.

“Kalau struktur industri yang kuat kan berarti dari bahan mentah sampai jadi, semuanya kita punya dan bisa kita bikin. Barang-barang apa saja yang bisa kita unggulkan di situ, itulah yang bisa kita jual. Ini lebih berkelanjutan ketimbang kita terlalu memaksakan di satu produk tertentu yang belum tentu kompetitif,” tuturnya.

Surplus yang Ideal
Heri menambahkan, surplus neraca perdagangan sebetulnya baru bisa dikatakan baik apabila kinerja ekspor dan impor sama-sama meningkat, namun peningkatannya lebih tinggi ekspor. Sementara itu dalam beberapa bulan di tahun 2020, impornya justru mengalami penurunan yang cukup dalam, terutama impor bahan baku/penolong industri dan impor barang modal.

Untuk periode September 2020, kondisinya memang sudah lebih baik, di mana ekspor dan impor sama-sama meningkat, tetapi peningkatannya lebih tinggi impor. Kemudian jika melihat data secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–September 2020 mencapai US$ 117,19 miliar atau turun 5,81% dibanding periode yang sama tahun 2019. Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari–September 2020 tercatat US$ 103,6 miliar atau turun 18,15%.

“Secara kumulatif, memang sebenarnya turun karena adanya pelemahan. Ini yang harus diwaspadai, setidaknya bagaimana nanti kita ke depan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian kita bisa terus positif (surplus),” kata Heri.

Heri juga menyoroti kinerja penurunan impor bahan baku industri dan barang modal dalam beberapa bulan di tahun 2020. Menurutnya, hal tersebut juga mengindikasikan adanya kontraksi industri, sehingga permintaan bahan baku dikurangi.

“Kalau ada penurunan impor, indikasinya ada kontraksi di industri kita. Jadi kalau surplus, belum tentu baik juga, terutama kalau penurunan impornya jauh lebih besar daripada penurunan ekspor. Yang bagus itu kalau ekspor dan impor sama-sama meningkat, tetapi peningkatannya lebih tinggi ekspor,” kata Heri.

Berita terkait: