Sugetan 1 dan 2, Kedelai Lokal Unggulan Batan

Kelangkaan tempe dan tahu di pasaran menjadi sorotan masyarakat. Sebab, kedua produk pangan itu sangat digemari oleh hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Hilangnya tempe dan tahu beberapa waktu lalu karena harga kedelai yang melonjak dan produsen tempe dan tahu bingung untuk menjualnya karena akan berimbas kenaikan harga.

Saat ini sebagian besar pasokan kedelai yang digunakan untuk pembuatan tempe dan tahu diperoleh dari impor. Kebutuhan nasional kedelai di Indonesia per tahunnya mencapai 2,8 juta ton. Produktivitas kedelai lokal hanya mampu memasok kurang dari 50 persennya.

BACA JUGA

Jokowi Soroti Masalah Kelangkaan Tahu dan Tempe

Menangkap kondisi itu, Badan Tenaga Nuklir Nasional ( Batan ) sudah menghasilkan 14 varietas kedelai unggul yang dihasilkan dari pemuliaan tanaman dengan sinar gamma teknologi nuklir. Yang terbaru tahun 2020, Batan menghasilkan dua varietas baru yakni Super Genjah Batan (Sugetan) 1 dan Sugetan 2. Kedua varietas kedelai baru ini dimuliakan dari varietas asalnya Argomulyo.

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan mengatakan, Batan melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi telah menghasilkan dua varietas kedelai baru yang super genjah berumur panen pendek.

“Varietas kedelai ini hasil perbaikan dari varietas Argomulyo dan diharapkan menjadi salah satu upaya mengatasi kelangkaan kedelai di Indonesia,” katanya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (13/1/2021).

BACA JUGA

https://www.beritasatu.com/ekonomi/718591/jokowi-soroti-masalah-kelangkaan-tahu-dan-tempe

Anhar menjelaskan, kurangnya pasokan kedelai akan memicu pada naiknya harga kedelai di pasaran sehingga berdampak pada produksi makanan berbahan baku kedelai. Apalagi kedelai terkait erat dengan makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia yakni tempe, tahu dan kecap.

“Kenaikan harga kedelai disebabkan naiknya harga kedelai impor. Hal ini menjadi momentum Batan untuk mendorong swasembada pangan dengan mengoptimalkan produk lokal,” tambahnya.

Pada tahun 2020, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kemtan) menargetkan meningkatkan produksi kedelai 7 persen sekitar 358.627 ton pada tahun 2019 menjadi 383.371 ton pada tahun 2020. Untuk mencapai hal itu, pemerintah membuat program 300.000 hektare di 21 provinsi ditanami kedelai.

BACA JUGA

Harga Kedelai Melonjak, Satgas Pangan Turun Tangan

Peneliti Batan, Arwin mengungkapkan, kedelai lokal memang kurang diminati karena bentuknya yang tidak seragam dan terlalu kecil ketika dibuat tempe. Namun kedelai lokal rasanya lebih enak, segar dan menyehatkan. Sedangkan kedelai impor sudah disimpan bulanan sehingga rasanya tidak fresh .

“Kandungan protein kedelai lokal lebih tinggi dibanding kedelai impor. Sedangkan kandungan lemaknya lebih rendah dari kedelai impor. Sehingga cocok untuk mereka yang ingin diet,” paparnya.

Sugetan 1 dan 2 dihasilkan dengan penyinaran radiasi gamma pada dosis 250 gray dan mempunyai karakter lebih baik dibanding varietas induknya.

BACA JUGA

Polisi Akan Proses Hukum Importir Penimbun Kedelai

Keunggulannya super genjah sekitar 67-68 hari sudah bisa panen. Sedangkan induknya 86-87 hari. Produktivitasnya juga lebih tinggi yakni 3,01 ton per hektare dengan rata-rata 2,7 ton per hektare. Sedangkan induknya pada kisaran 2,2-2,4 tonper hektare.

Selain itu lanjutnya, Sugentan 1 dan 2 ini diklaim sebagai varietas kedelai yang tahan terhadap penyakit karat daun, hama penghisap polong dan hama ulat kerayak. Kedua varietas super genjah sehingga cocok ditanam di lahan sawah atau tegalan.

Untuk mendapatkan varietas ini, lanjutnya, Batan sudah meneliti sejak tahun 2012 dan telah dilakukan uji multilokasi di tujuh daerah yakni Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bogor, Yogyakarta dan Citayam. Lewat serangkaian keunggulan varietas ini diharapkan menarik minat petani untuk menanam kedelai lokal.

Berita terkait: