Startup Travelio Lebarkan Bisnis di Masa Pandemi

Pandemi virus corona ( Covid-19 ) yang terjadi di Indonesia telah memengaruhi banyak sektor usaha. Salah satunya, kalangan perusahaan rintisan atau startup .

“Membesarkan startup hampir mirip seperti menyuapi balita, harus diawasi setiap menitnya,” kata co-founder dan COO Travelio , Christie Tjong, kepada , di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Ibu dari dua anak ini, berhasil menggalang US$18 juta di pendanaan Seri-B November lalu. Pendanaan tersebut, dipimpin oleh Temasek Holding melalui Pavilion Capital, dan dilakukan tepat sebelum terjadinya pandemi Covid-19 . Christie berhasil membuktikan kemampuannya dalam ‘menyuapi’ high-growth startup dan kedua balitanya di saat yang bersamaan.

“Saat pandemi global melanda, masyarakat kembali memprioritaskan kebutuhan dasarnya. Makanan jelas adalah kebutuhan dasar, dan kami sadar akan kekuatan digitalisasi supply chain kami, maka kami cepat bertindak. Layanan TravelioMart akhirnya tersedia, dan bukan hanya untuk para penyewa apartemen saja. Namun, sesuai kapabilitas kami yaitu dapat menyasar ke target audiens yang lebih luas,” jelas Christie.

Sebagai ibu, kata Christie, secara naluri tentu selalu memastikan kesehatan si kecil. Oleh karena itu, belanja di luar rumah bukan keputusan yang tepat di masa seperti ini. Namun sayangnya, banyak kendala saat berbelanja lewat platform e-grocery , misalnya pilihan bahan makanan yang masih sangat terbatas.

“TravelioMart hadir untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Sehingga, saat konsumen tinggal di apartemen kami, mereka tidak hanya mengenal kami sebagai penyedia platform, namun sebagai rumah yang juga menyediakan segala kebutuhan,” papar Christie.

COO berusia 32 tahun ini menambahkan, TravelioMart melakukan seleksi pemasok atau supplier secara ketat. “Hal itu kami lakukan, untuk memastikan terjaminnya kualitas dan kesegaran bahan-bahan yang dijual,” tandasnya.

Menurut Christie, salah satu karakteristik startup terutama yang masih di tahap awal, adalah kurangnya corporate infrastructure . Kondisi itu memaksa para pendiri atau founders untuk menjalankan beberapa peran secara sekaligus, dan merangkap posisi yang setara dengan lima orang.

“Memainkan peran sebagai COO, istri, bahkan ibu secara sekaligus tentu memerlukan dedikasi yang sangat tinggi. Dulu saya sempat mengira jika saya fokus secara penuh ke salah satunya, yang lainnya pasti akan terabaikan. Namun saya sadar, kata ‘terabaikan’ itu tidak akan muncul ketika saya mendedikasikan diri kepada ketiganya. Hal itu hanya dapat dicapai jika bisa mengatur waktu dengan baik,” ujarnya.

Christie menambahkan, berbagai keterbatasan telah membuatnya lebih efisien dalam manajemen waktu, mengingat apa saja tuntutan di setiap peran. Sebagai gantinya, hal tersebut membentuk pola pikir untuk menjadi semakin gesit dalam mengambil keputusan.

“Saya sangat mempercayai kalimat speed outweighs perfection. Percaya atau tidak, itulah rahasia kami dalam membesarkan Travelio hingga saat ini, khususnya untuk bisa survive di masa pandemi. Kami tidak hanya cepat untuk menyadari kegagalan, kesalahan, maupun inefisiensi, namun juga menindak-lanjutinya,” pungkas Christie.

Berita terkait: