Stafsus Edhy Prabowo Diduga Beli Rumah Pakai Uang Suap Ekspor Benur

Aliran dana kasus dugaan suap perizinan ekspor benih bening lobster atau benur yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo semakin terkuak seiring dengan proses penyidikan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ).

Saat ini, tim penyidik sedang mendalami adanya transaksi pembelian rumah yang dilakukan Andreau Pribadi Misanta , staf khusus Edhy Prabowo dengan menggunakan uang suap dari para eksportir benur. Salah satunya rumah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Untuk mendalami hal itu, tim penyidik memeriksa karyawan swasta bernama Jaya Marlian, Senin (22/2/2021).

“Didalami pengetahuannya terkait dengan transaksi jual beli rumah milik tersangka APM (Andreau Pribadi Misanta) yang berlokasi di wilayah Cilandak, Jakarta Selatan yang diduga sumber uang untuk pembeliannya dari para ekspoktir yang memperoleh izin ekspor benur tahun 2020 di KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan),” kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri , Senin (22/2/2021).

BACA JUGA

Kasus Suap Izin Ekspor Benur Edhy Prabowo Siap Dijatuhi Hukuman Mati

Pembelian rumah oleh Andreau menggunakan uang suap dari eksportir benur juga didalami penyidik dengan memeriksa seorang karyawan swasta bernama Yusuf Agustinus dan seorang petani atau pekebun bernama Zulhijar. Andreau diduga membeli rumah dari Yusuf Agustinus.

“Yusuf Agustinus dan Zulhijar didalami pengetahuannya terkait pembelian rumah milik saksi Yusuf Agustinus oleh tersangka APM yang diduga sumber uang pembeliannya dari para ekspoktir yang memperoleh izin ekspor benur tahun 2020 di KKP,” kata Ali.

Selain itu, pada hari ini penyidik KPK sedianya memeriksa Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP, Sjarief Widjaja. Namun Sjarief tidak memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik.

“Yang bersangkutan (Sjarief Widjaja) dijadwalkan ulang pada Selasa (23/2/2021),” kata Ali.

BACA JUGA

Edhy Prabowo Klaim Vila yang Disita KPK Bukan Miliknya

Diketahui, KPK menetapkan Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan bersama dua stafsusnya Safri dan Andreau Misanta Pribadi; sekretaris pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin; pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK) bernama Siswadi; serta staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan bernama Ainul Faqih; sebagai tersangka penerima suap terkait izin ekspor benur.

Sementara tersangka pemberi suap adalah Chairman PT Dua Putra Perkasa Pratama (PT DPPP), Suharjito.

Edhy Prabowo dan lima orang lainnya diduga menerima suap dari Suharjito dan sejumlah eksportir terkait izin ekspor benur yang jasa pengangkutannya hanya dapat menggunakan PT Aero Citra Kargo.

Kasus ini bermula pada 14 Mei 2020. Saat itu, Edhy Prabowo menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas ( Due Diligence ) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster, dengan menunjuk kedua stafsusnya, Andreau Misanta Pribadi dan Safri sebagai Ketua dan Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas ( Due Diligence ). Salah satu tugas dari tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur.

Selanjutnya, pada awal bulan Oktober 2020, Suharjito datang ke lantai 16 kantor KKP dan bertemu dengan Safri. Dalam pertemuan tersebut, terungkap untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT ACK (Aero Citra Kargo) dengan biaya angkut Rp 1.800/ekor.

BACA JUGA

Kasus Suap Izin Ekspor Benur KPK Dalami Aliran Uang Penyewaan Apartemen Edhy Prabowo

Atas kegiatan ekspor benih lobster yang dilakukannya, PT DPPP diduga melakukan transfer sejumlah uang ke rekening PT ACK dengan total sebesar Rp 731.573.564. Berdasarkan data kepemilikan, pemegang PT ACK terdiri dari Amri dan Ahmad Bahtiar yang diduga merupakan nominee dari pihak Edhy Prabowo serta Yudi Surya Atmaja.

Atas uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke rekening Amri dan Ahmad Bahtiar masing-masing dengan total Rp 9,8 miliar.

Selanjutnya pada 5 November 2020, sebagian uang tersebut, yakni sebesar Rp 3,4 miliar ditransfer dari rekening Ahmad Bahtiar ke rekening salah satu bank atas nama Ainul Faqih selaku staf khusus istri menteri Edhy.

Uang itu, diperuntukkan bagi keperluan Edhy Prabowo, istrinya IIs Rosita Dewi , Safri, dan Andreu Misanta Pribadi. Uang itu digunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy Prabowo dan Iis Rosita Dewi di Honolulu AS pada 21 sampai dengan 23 November 2020 sejumlah sekitar Rp 750 juta. Sejumlah barang mewah yang dibeli Edhy dan istrinya di Hawaii, di antaranya jam tangan rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy.

Berita terkait: