Setelah Larangan Facebook dan Twitter, Gerakan Supremasi AS Beralih ke Medsos Lain

Larangan Twitter, Facebook, Gab, MeWe, Discord, dan Telegram rupanya tak menghentikan gerakan supremasi di Amerika Serikat (AS). Gerakan Supremasi dan Konspirasi AS mulai beralih ke jaringan media sosial lain.

Seperti dilaporkan AFP , Selasa (23/2), gerakan supremasi yang mayoritas adalah pendukung Trump memilih jaringan yang lebih luas, rahasia, dan sulit diatur.

Setelah serangan mematikan 6 Januari di Washington, ketika ratusan pendukung Trump menyerbu Capitol AS, jejaring sosial utama mengambil tindakan terhadap organisasi yang terlibat, seperti Oath Keepers, Three Percenters, dan Proud Boys.

BACA JUGA

Kanada Sejajarkan Proud Boys dengan Al-Qaeda dan ISIS

“Pendukung Trump yang paling ekstrim sudah berada di platform alternatif,” kata Nick Backovic, seorang peneliti di Logically.AI, satu perusahaan yang mengkhususkan diri dalam disinformasi digital.

Facebook meningkatkan pembersihan akun yang terkait dengan gerakan bersenjata – hampir 900 akun secara total ditutup. Twitter telah secara permanen melarang Trump dan menutup 70.000 akun yang berafiliasi dengan QAnon, satu teori konspirasi yang mengklaim bahwa mantan presiden tersebut terlibat dalam pertempuran melawan kultus global para pedofil elit pemuja Setan.

BACA JUGA

Ini Bukti Penting Trump Tahu dan Tidak Mau Hentikan Perusuh Capitol

“Fakta bahwa Facebook dan Twitter membutuhkan waktu lama untuk (melarang mereka) memungkinkan influencer untuk membangun kembali percakapan dan grup hampir tanpa hambatan,” katanya.

Tetapi jutaan ekstremis yang gigih dan ahli teori konspirasi menolak untuk mundur. Menurut para ahli yang khawatir, penyensoran akan menyatukan individu yang sangat berbeda.

“De-platforming bekerja. Sekarang Anda melihat Trump tidak ada di Twitter, dia kehilangan pembicara besarnya, mikrofon amplifikasinya ke dunia,” kata Jim Steyer, presiden organisasi Common Sense Media.

Berita terkait: