Setelah Dua Sekretaris Pribadi, Muncul Kasus Siswi Diduga Dikerjai Kepsek

– Keluarga siswi SMK berinisial AR (17) di Surabaya berharap laporan mereka terkait pelecehan seksual yang diduga dilakukan kepala sekolah diproses polisi Surabaya. Jika terbukti, kasus tersebut menambah daftar panjang pelecehan seksual di Indonesia.

Polisi Surabaya menyatakan sudah menerima berkas laporan keluarga AR, Rabu (3/3/2021), dan akan menindaklanjutinya.

“Berkas baru kita terima dan korban serta saksi akan diperiksa. Tunggu dan biarkan kami bekerja nanti hasilnya akan kami sampaikan,” kata Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya Inspektur Polisi Satu Fauzi Pratama . ( beritajatim )

Orang tua AR berinisial MN (40) mengatakan putrinya sekarang mengalami trauma. 

Baca Juga: Bagaimana Si Bos Takuti Dua Sekretaris Pribadinya Saat Pelecehan Seksual?

“Bahkan anak saya enggan ke sekolah dan mengurungkan diri di dalam kamar,” kata dia.

MN mengatakan selama ini bekerja di Jakarta sehingga tidak bisa setiap saat memantau putrinya.

Kasus dua sekretaris pribadi

Dibutuhkan keberanian korban untuk mengungkap kasus pelecehan seksual.

Kasus yang menimpa dua sekretaris pribadi pimpinan perusahaan jasa keuangan di Pademangan, Jakarta Utara, baru-baru ini terbongkar setelah mereka lapor polisi.

Baca Juga: Ribuan Orang Laporan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Gereja Katolik

Tersangka JH (47), salah satu pimpinan perusahaan jasa keuangan di Pademangan, kini meringkuk di sel kantor polisi Jakarta Utara setelah mengakui melakukan pelecehan seksual dan dia juga mengakui berbuat tak senonoh di bawah pengaruh minuman keras.

Kepada polisi, dia mengatakan setiap kali hendak melakukan pelecehan seksual, dia menunjukkan sebuah keris kepada para korban: DF (25) dan EFS (23).

“Dia menggunakan modus juga setiap melakukan pelecehan itu dia menampakkan sajam (senjata tajam) yang disimpan di pinggangnya,” kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara AKBP Nasriadi dalam laporan Muhammad Yasir kepada

“Akhirnya korban tidak berani melawan.”

JH merupakan pria yang sudah berkeluarga, anaknya sudah empat orang.

Sejak kemarin, JH ditetapkan menjadi tersangka dan ditahan di kantor polisi.

Korban melaporkan kasus tindak pidana asusila ke kantor Polres Jakarta Utara pada 2 Februari 2021.

Polisi mengatakan pelecehan seksual terjadi sejak September 2020.

Pimpinan perusahaan jasa keuangan itu mengerjai DF ketika sedang sendirian, dan pada awalnya, meskipun korban tidak terima, dia tidak berani mengadu karena takut, apalagi masih terikat pekerjaan dengan perusahaan.

DF bekerja di perusahaan itu mulai bulan Maret. Semula, dia bukan sekretaris. Tetapi semenjak September, dia dijadikan sekretaris dan sejak itulah pelecehan seksual berlangsung.

DF merupakan korban pertama yang terungkap. Pada Oktober 2020, ESF juga mengalami pelecehan seksual, dia sampai dipaksa melakukan oral seks.

Sama seperti rekannya, ESF tidak melapor ke polisi karena malu sekaligus takut kehilangan pekerjaan.

Apa alasan JH?

Suatu hari, JH mengajak dua sekretarisnya mandi bareng. JH mengatakan punya kemampuan meramal dan dia ingin membuka aura kedua sekrataris dengan syarat mandi bersama.

“Ini tersangka mengaku sebagai peramal, orang pintar, yang bisa meramal nasib orang yang bisa meramal nasib dan rezeki seseorang,” kata Wakapolres Metro Jakarta Utara AKBP Nasriadi, Selasa (2/3/2021).

“Ketika mereka diajak untuk mandi bareng artinya untuk membuka aura atau untuk membuka hal-hal yang positif di tubuhnya, ditolak oleh kedua korban ini.”

Bagaimana kasus terungkap?

Semakin lama, kedua sekretaris pribadi tidak tahan dengan perbuatan atasannya, dan mereka memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan.

Barulah setelah itu, mereka melaporkan perbuatan pimpinan bank ke polisi.

JH kemudian digelandang ke kantor polisi dan dia tidak bisa berdalih.

Kini, dia ditetapkan menjadi tersangka dan ditahan di Polres Metro Jakarta Utara. Dia dijerat dengan Pasal 289 KUHP dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara.

Kepada polisi, JH berkata, “Saat itu posisi saya lagi setengah mabuk, pak. Iya (korban) menolak.”

JH merupakan adik dari pemilik perusahaan tempat kedua korban pelecehan seksual itu bekerja.

Berita terkait: