Sebuah Keajaiban, 2 Pilot Ini Selamat Pesawatnya Tabrak Gunung & Terbakar

Setiap musibah yang datang tidak akan pernah diketahui oleh manusia. Semua manusia hanya bisa berusaha dan berdoa agar selalu diberikan keselamatan, namun tetap saja Tuhan lah sang penentu segalanya.

Seperti kisah dua pilot yang pernah mengalami kecelakaan pesawat, pada28 Januari 1997 silam. Dua pilot bernama Sigit Hani Hadiyanto dan Dwi Krismawan itu selamat dan lolos dari maut setelah pesawatnyamenabrak gunung.

Tragedi tersebut membuat tubuh keduanya terbakar sangat parah. Hingga kini, bekas luka bakar tersebut masih terlihat begitu jelas. Namun, pilot-pilot ini mampu bangkit dari keterpurukan dan ketakutan. Hingga mampu berperan lebih bagi orang lain.

Berikut ulasannya.

Kondisi Pesawat Normal Saat Tabrak Gunung

Kala itu Kapten Sigit Hani Hadiyanto bertugas sebagai instruktur penerbang, yang sekarang bernama STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). Ia bertugas mendampingi Dwi Krismawan untuk penerbangan kloter kedua.

dua pilot ini selamat pesawatnya tabrak gunungChannel YouTube metrotvnews ©2021

Ia mengawali karier sebagai instruktur penerbang sejak 1996. Sebelum lepas landas, pemeriksaan pesawat sudah dilakukan. Kecelakaan pesawat yang disebut CFIT, atau pesawat yang laik terbang dan tidak mengalami kerusakan. Tapi tanpa sengaja menabrak daratan.

“Kalau di penerbangan kita ada istilah khususnya yang kita alami, CFIT (Controlled Flight Into Terrain). Pesawat itu tidak mengalami masalah teknis apa pun. Tapi kondisi ternyata membuat kita terlalu dekat dengan gunung gede di Bogor. Kemudian pesawatnya jadi crush dan sayapnya terbakar,” kata Sigit seperti dikutip dari channel YouTube metrotvnews.

Pingsan di dalam Kokpit Pesawat

Sayangnya kedua pilot tersebut hilang kesadaran. Sehingga api yang menjalar dari sayap pesawat kian membesar dan ikut membakar tubuh keduanya.

“Memang pada saat impact atau crush itu, kemungkinan kita berdua kehilangan kesadaran. Dan tadi yang saya sampaikan, sayangnya terus kemudian pesawatnya terbakar. Dan kita berdua masih di dalam akhirnya kami menderita luka bakar seperti ini,” ujar Sigit menceritakan.

dua pilot ini selamat pesawatnya tabrak gunungChannel YouTube metrotvnews ©2021

Sigit yang mulai siuman, langsung mencari keberadaan sang murid Dwi. Barulah ia berani keluar dari kokpit pesawat.

“Begitu saya siuman, kondisi pesawat sudah berhenti di lereng gunung. Saya menengok ke sebelah kiri karena murid saya di situ. Saya panggil namanya, ternyata merespon dan sudah luar. Berarti satu situasi itu sudah tertangani. Baru saya keluar sendiri,” imbuhnya.

Kondisi Mengerikan, Takut dengan Penerimaan Orang Lain

Kapten Sigit harus menjalani serangkaian operasi dan perawatan paru-paru usai kebakaran hebat tersebut. Jari jemarinya sudah tak bisa bergerak leluasa seperti dulu. Ia mengalami luka bakar 27 persen.

“Saya menderita luka bakar sekitar 27 persen, di lengan kiri, lengan kanan dan di kepala dengan great tiga. Which is yang paling serius,” ungkap Sigit.

dua pilot ini selamat pesawatnya tabrak gunungKondisi Kapten Sigit sebelum kecelakaan, Channel YouTube metrotvnews ©2021

Usai perawatan yang cukup lama, Sigit dinyatakan boleh menjalani pekerjaan lagi. Namun tentu saja ada ketakutan tersendiri yang membelenggu. Ia khawatir orang lain akan takut, pendapat para murid dan rekan kerja.

“Sebetulnya ada keraguan di diri saya sendiri. Saya ingat waktu mau berangkat ke kantor, karena dekat hanya jalan kaki. Saya berhenti cukup lama di pintu mess, antara mau berangkat atau tidak. Saya tidak yakin, bagaimana orang akan bereaksi dengan kondisi saya ini. Tantangan ada di diri saya,” terangnya.

Kondisi Dwi Krismawan

dua pilot ini selamat pesawatnya tabrak gunungChannel YouTube metrotvnews ©2021

Sementara sang murid yang kala itu berusia 26 tahun, bingung harus berbuat apa lagi. Luka bakar 50 persen telah merubah tubuhnya. Sampai Dwi Krismawan mengaku pernah meminta suntik mati lntaran takut akan masa depannya.

“Luka bakar saya sekitar 50 persen, antara great dua dan tiga. Jadi saya terjebak dalam kokpit itu hampir 60 menit. Jadi sampai jaringan tanduk, jaringan tulang, sampai paru-paru saya penuh dengan flek. Tenggorongan sempat dilubangi. Sampai divonis sama dokter, Dwi nggak bisa ngomong karena pita suara rusak,” ungkap Dwi.

Bangkit dari Keterpurukan

Kini Kapten Sigit bekerja sebagai Kepala Subdirektorat Standarisasi Kelaikan Keudaraan dan Operasi Pesawat Udara Kementerian Perhubungan. Ia bertanggung jawab terhadap standarisasi dan operasi penerbangan di seluruh wilayah Indonesia.

dua pilot ini selamat pesawatnya tabrak gunungChannel YouTube metrotvnews ©2021

Betapa hebatnya cinta, membuat Menuk Sudarwati begitu tulus dan tak memandang fisik mau menerima cinta Kapten Sigit. Pasangan ini telah dikaruniai tiga putri yang membanggakan.

“Setelah badai pasti tenang. Setelah hujan pasti terang. Setelah luka bakar, pasti Kick Andy,” canda Sigit.

“Dia (istri) yang selalu meyakinkan saya, bahwa setiap persoalan itu ada jalan keluarnya. Minimal dari pekerjaan saya, ada yang bisa saya kontribusikan. Setiap hari dia mendampingi saya. Alhamdulillah kami juga sudah diberi momongan tiga buah hati. Saya dengan segala kerendahan hati, berharap bisa untuk istri saya,” paparnya.

Kehebatan Dwi Saat Ini

Saat ini Dwi Krismawan menyibukkan diri untuk mengabdi pada masyarakat. Berkarya bagi anak Indonesia, terutama bagi anak-anak korban kekerasan maupun anak-anak yang terjerat kasus menjadi tersangka.

Selain itu, ia juga mengajar bahasa Inggris secara sukarela. Kini ia telah bangkit dan merasa bahwa berkat kecelakaan pesawat itu, hatinya telah luluh untuk Tuhan. Meski fisik berubah jelek bagi orang lain, tapi hati tak bisa menipu.

“Akhirnya kami dirikan Yayasan Ikatan Cinta Indonesia. Semenjak itu kami keliling Indonesia memberi edukasi tentang child protection, mendampingi anak-anak yang membutuhkan pendampingan di pengadilan. Serta melatih komputer di penjara anak. Di atas tanah itu ingin saya dirikan sekolah,” tutur Dwi.

“Saya bersyukur, ada kesulitan dari kehidupan saya, dan Tuhan hadirkan penolong yang luar biasa,” terangnya.

Berita terkait: