Sebaran Fasilitas Pemeriksaan PCR Tak Merata

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes) Achmad Yurianto mengatakan, sebaran laboratorium dan alat pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) untuk mengonfirmasi kasus positif Covid-19 memang tidak merata di seluruh Indonesia. Pasalnya, ketersediaan laboratorium dengan pemeriksaan PCR disesuaikan dengan ancaman epidemiologi serta ketersediaan sarana prasarana dan tenaga operasional di daerah itu.

Daerah dengan kerentanan Covid-19 rendah tentu saja memiliki laboratorium dan alat PCR lebih sedikit dibandingkan wilayah dengan jumlah kasus positif banyak serta laju insidensi tinggi.

Selain itu, untuk mengoperasionalkan PCR harus didukung dengan sejumlah persyaratan dasar. Misalnya memiliki laboratorium dengan tingkat keamanan minimal bio safety level 2 (BSL-2). Kemudian tenaga-tenaga dengan keahlian khusus untuk memeriksa virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19 termasuk analis lab, dan lain-lain.

Mereka wajib memakai alat pelindung diri lengkap minimal enam jam selama berada di dalam lab. Tidak semua daerah memiliki fasilitas seperti ini.

“Tidak semua daerah sama risiko epidemiologinya, kemudian kapasitas lokalnya juga tidak sama, karena lab harus BSL 2, dan semua daerah tidak punya itu,” kata Yurianto kepada , Jumat (24/7/2020).

Menurut Yurianto, menjadi mubazir jika alat tersebut tersedia tetapi tidak operasional. Ia mencotohkan mesin PCR di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Pulau Galang, Kepulauan Riau, sampai sekarang tidak dipakai.

Alat, fasilitas, dan pasien Covid-19 ada, tetapi tenaga yang mengoperasionalkannya justru tidak ada. Penambahan kasus positif harian di RS Pulau Galang ini pun sedikit hanya sekitar 4-5 kasus, sehingga bisa diperiksa di Batam.

Sebaliknya, sejumlah provinsi dengan kasus positif dan kecepatan laju insidensi tinggi jumlah pemeriksaan PCR-nya terus diperbanyak. Ada delapan provinsi yang kini menjadi fokus pemerintah karena jumlah kasus konfirmasi positif terbanyak dan kecepatan laju insidensi tertinggi. Provinsi itu adalah Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Pemeriksaan PCR diperbanyak di daerah-daerah ini dalam rangka pelacakan ( tracing ) untuk menemukan lebih banyak orang yang berisiko tertular. Menurut Yurianto, tracing dilakukan karena adanya kasus konfirmasi positif.

Tracing bertujuan mencari orang-orang yang kontak dekat dengan kasus positif. Setelah orang-orang ini ditemukan dilakukan testing dengan menggunakan PCR. Sebaliknya kalau tidak ada kasus konfirmasi positif di daerah itu, maka tidak dilakukan tracing .

“Nah kalau di daerah Rote Ndao (NTT), misalnya tidak ada kasus positif atau Pulau Seram (Maluku) kasus positifnya sedikit, untuk apa kita perbanyak pemeriksaan PCR di sana. Kalau tracing tidak ada, yang di- testing siapa. Kalau tidak ada yang di- testing , ngapain dikasih PCR,” kata Yurianto.

Menurut Yurianto, tidak efisien jika memperbanyak PCR di daerah dengan jumlah kasus sedikit. Pasalnya, satu alat PCR tidak bisa memeriksa hanya 3-4 spesimen dalam sehari. Satu mesin PCR memiliki kapasitas pemeriksaan paling sedikit 14 slot spesimen, dan paling banyak 32 slot hanya dalam sekali putar. 

Berita terkait: