Sanksi AS Picu Kerugian Rp 14.070 Triliun pada Ekonomi Iran

Sanksi sepihak yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) menyebabkan kerugian senilai US$ 1 triliun (Rp 14.070 triliun) pada ekonomi Iran.

Seperti Al Jazeera, Minggu (21/2), Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif mengatakan, setelah AS mencabut sanksi dan bergabung kembali dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), atau juga dikenal dengan sebutan kesepakatan nuklir Iran, pemerintah Teherean akan mengharapkan beberapa bentuk kompensasi.

“Ketika kami bertemu, kami akan menekankan kompensasi,” kata Zarif kepada jaringan berita milik negara Iran PressTV dalam wawancara selama satu jam.

Diplomat itu mengatakan dari penandatangan lain kesepakatan nuklir, China dan Rusia telah menjadi “teman” Iran selama era sanksi.

“Apakah kompensasi tersebut akan berbentuk reparasi, atau apakah dalam bentuk investasi, atau apakah dalam bentuk tindakan untuk mencegah terulangnya apa yang dilakukan Trump,” kata Zarif mengacu pada mantan presiden AS Donald Trump.

BACA JUGA

Biden Cabut Pemulihan Sanksi PBB atas Iran dari Trump

Secara sepihak, Trump meninggalkan kesepakatan nuklir pada 2018 dan menjatuhkan sanksi yang keras dan komprehensif yang menargetkan semua sektor ekonomi Iran.

Menurut Zarif, Trump memberlakukan kembali 800 sanksi yang dijatuhkan pada Iran sebelum kesepakatan nuklir dan memberlakukan 800 sanksi baru, yang semuanya perlu dicabut sebelum AS dapat kembali ke kesepakatan tersebut.

Zarif menambahkan, kecuali Jerman, Prancis, dan Inggris, penandatangan kesepakatan Eropa bersama-sama yang dikenal sebagai E3, tidak terlibat dalam upaya nyata untuk mempertahankan hubungan mereka dengan Iran.

“Situasi yang diciptakan Eropa untuk dirinya sendiri adalah bahwa ia harus menunggu AS membuat keputusan. Eropa hidup atas perintah dan belas kasihan AS. Sekarang, Eropa harus meyakinkan AS untuk kembali [ke kesepakatan nuklir] setidaknya untuk mengizinkan mereka… untuk menjaga martabat dan memungkinkan mereka untuk memenuhi kewajibannya. Itu bukan perintah yang sulit,” sindir Zarif.

Berita terkait: